Perintah Kaisar Naga Bab 6518
Selamat datang kembali, pembaca setia, mari kita selami kelanjutan petualangan yang mendebarkan dalam kisah epik ini!
- Kehancuran total Aula Aliansi Protoss yang telah berkuasa puluhan ribu tahun, menandai berakhirnya sebuah era.
- David membawa Jiang Xuelan terbang menuju Lembah Kebebasan di tengah kehancuran, bertekad mencegah lebih banyak korban jiwa.
- Gambaran mengerikan dari reruntuhan Lembah Kebebasan, dipenuhi jejak pertempuran sengit dan sisa-sisa tragis.
Perintah Kaisar Naga Bab 6518 Pergi Temukan Mereka.
Selamat datang kembali, para pecinta novel! Siap untuk menyelami kisah epik berikutnya?
Api kehancuran melalap simbol kekuasaan ribuan tahun, menandai akhir sebuah era.Puing-puing Lembah Kebebasan menyimpan jejak perjuangan sengit dan kisah yang belum terungkap.Kisah tentang pengorbanan dan keberanian terus bergema di tengah reruntuhan yang sunyi.
Bab 6518 Pergi Temukan Mereka.
Jiang Xuelan berbaring telentang, memandang lautan api di belakang mereka, bibirnya sedikit bergerak, “Dia menghabisi begitu banyak orang”
“Itu sudah tidak penting lagi.”
Suara David terdengar tenang: “Yang penting adalah tidak ada orang lain yang akan tewas.”
Dia melompat ke udara, berubah menjadi seberkas cahaya ungu, dan terbang menuju Lembah Kebebasan dengan Jiang Xuelan dalam pelukannya.
Seberkas cahaya ungu menembus langit, menerangi langit malam di atas hutan belantara utara.
Di belakang mereka, Aula Aliansi Protoss perlahan runtuh di lautan api. Atap aula ambruk, dan ubin emas berjatuhan seperti hujan, menghantam alun-alun dengan bunyi gedebuk yang tumpul.
Persekutuan ilahi yang telah memerintah Enam Belas Langit selama puluhan ribu tahun hancur total pada saat ini.
Lembah Bebas.
Reruntuhan itu berdiri sunyi di tengah senja yang luas, seperti kerangka raksasa.
Lembah yang dulunya ramai kini hanya tinggal reruntuhan.
Sebagian besar tembok kota yang terbuat dari batu biru telah runtuh, dan tembok-tembok yang hangus itu dipenuhi dengan bekas sayatan pisau dan kapak.
Gerbang kota telah lenyap, hanya menyisakan dua tiang gerbang yang bengkok. Tiang-tiang gerbang itu masih menyimpan bekas cahaya ilahi, yang tertinggal dari pertempuran besar beberapa bulan lalu.
Udara dipenuhi dengan bau tanah hangus dan pembusukan, bercampur dengan bau darah yang samar.
Angin bertiup melintasi reruntuhan, menerbangkan abu dan debu yang menari-nari di udara seperti desahan sunyi yang tak terhitung jumlahnya.
Istana-istana batu, rumah-rumah kayu, arena bela diri, dan ruang-ruang latihan di kota itu semuanya hancur menjadi reruntuhan.
Pilar-pilar batu yang dipahat dengan teliti itu tergeletak miring di tanah, tepi-tepinya yang patah tertutup lumut.
Senjata-senjata yang patah dan noda darah kering berserakan di lapangan latihan. Noda darah itu telah berubah menjadi cokelat gelap dan meresap ke dalam celah-celah bebatuan, seolah-olah tidak akan pernah hilang.
Kerangka-kerangka itu tersebar di seluruh reruntuhan, sebagian milik para prajurit Lembah Bebas, dan sebagian lagi milik para kultivator dewa.
Mereka tak lagi bisa membedakan satu sama lain; mereka hanya berbaring di sana dengan tenang, terpapar angin dan hujan.
Sisi timur Freedom Valley dulunya adalah Dewan Tetua, di mana aula batu merupakan bangunan yang paling kokoh, tetapi bangunan itu juga telah runtuh hingga setengahnya.
Dinding batu yang tersisa diukir dengan semboyan Freedom Valley: “Beri aku kebebasan atau beri aku kematian.”
Tiga dari lima kata tersebut hangus terbakar oleh cahaya suci, hanya menyisakan kata-kata “tidak bebas”.
Biara di sebelah selatan telah runtuh sepenuhnya, dan rumput liar tumbuh dari celah-celah puing, bergoyang di senja hari seolah meratapi nyawa yang telah hilang.
David menggendong Jiang Xuelan dan mendarat di reruntuhan.
Dia melihat sekeliling dan tetap diam untuk waktu yang sangat lama.
Dia ingat hari pertama kali dia datang ke Freedom Valley.