Bab 6818 Pengepungan
Selamat datang kembali! Anda sedang membaca novel Perintah Kaisar Naga Bab 6818 Pengepungan. Mari kita simak kelanjutan ceritanya.
- Plot semakin memanas saat karakter tak terduga mulai bergerak.
- Rahasia terungkap yang akan mengubah jalannya cerita.
- Baca di bawah untuk mengetahui bagaimana protagonis menghadapi tantangan baru ini.
Dalam sekejap, kelima sosok itu tiba di tempat tinggi di atas medan perang, menghadap lembah terpencil tempat pertempuran sengit terjadi.
Pemandangan mengerikan yang menyambut mata semua orang menyebabkan pupil mata mereka sedikit menyempit, dan jantung mereka berdebar kencang.
Ini adalah lembah raksasa yang terbentuk secara alami dengan medan yang sangat menguntungkan, mudah dipertahankan dan sulit diserang.
Lembah itu dikelilingi di tiga sisinya oleh tebing-tebing menjulang tinggi dengan dinding curam dan bebatuan bergerigi. Hanya sisi depan yang terbuka dan tidak terhalang, berfungsi sebagai satu-satunya jalan masuk dan keluar, dan juga merupakan medan pertempuran utama tempat kedua pihak saat ini bertempur.
Di tengah lembah berdiri sebuah lempengan batu kuno berwarna biru tua setinggi sepuluh kaki. Lempengan itu sederhana dan berat, permukaannya berbintik-bintik dan dipenuhi bekas erosi selama bertahun-tahun, namun tetap berdiri kokoh dan tak bergerak.
Prasasti itu dipenuhi dengan rune kuno dan liar yang tak terhitung jumlahnya, yang samar, sulit dipahami, dan sangat misterius.
Saat ini, cahaya spiritual berwarna biru tua yang samar mengalir melewatinya, bergantian antara terang dan gelap, dan berdenyut perlahan, memancarkan aura kuno, mendalam, luas, dan berat yang berasal dari sebelum permulaan waktu, dengan fondasi yang luas dan tak terduga.
Di bawah dasar lempengan batu itu, tak terhitung banyaknya garis-garis halus, tembus pandang, berwarna putih keperakan membentang keluar, seperti urat-urat bumi dan akar spiritual gunung dan sungai.
Ia menyebar ke segala arah lembah, menembus jauh ke dalam lapisan batuan di bawah tanah, menghubungkan dunia bawah dan mengaitkan alam rahasia, mengarah ke suatu tempat tersembunyi yang tidak diketahui.
Ini adalah satu-satunya pintu masuk ke reruntuhan kota kuno di Benua Tianxuan, dan juga inti dari badai yang saat ini melanda Benua Tianxuan, target utama yang diperebutkan oleh semua kekuatan.
Tepat di depan lempengan batu itu, enam sosok ramping dan anggun berdiri berdampingan, berbaris rapi, dengan teguh menjaga garis pertahanan terakhir di pintu masuk reruntuhan.
Keenamnya dikelilingi oleh cahaya primordial yang murni, kaya, dan mendalam. Aura mereka halus, postur mereka tegak, dan kebanggaan mereka tak tergoyahkan. Meskipun mereka dikelilingi dan bertempur dalam pertempuran berdarah, mereka tetap berdiri dan pertahanan mereka tak tertembus.
Keenam orang itu mengenakan enam gaun abadi yang berbeda dan megah, masing-masing dengan warna dan asal yang unik, namun dari kejauhan semuanya tampak serasi.
Merah tua seperti api, berkobar dan mengamuk; kuning jingga seperti emas, hangat dan kaya; hijau zamrud seperti musim semi, penuh vitalitas; pirus seperti air, jernih dan halus; biru langit seperti angkasa, luas dan tak terbatas; putih murni seperti salju, tanpa cela dan bersih.
Keenam sosok itu bagaikan enam bunga teratai surgawi yang mekar di tengah kobaran api perang dan asap pertempuran, masing-masing memancarkan kecemerlangan primordialnya yang unik.