Bab 6695 Surga Kedua Puluh
Selamat datang, para pembaca setia, dalam kelanjutan kisah epik yang penuh misteri dan petualangan tanpa batas!
- David dan rombongannya memulai perjalanan berani menuju Surga Kedua Puluh yang penuh tantangan.
- David merencanakan strategi cerdik untuk menghadapi Klan Dewa dengan memanfaatkan konflik yang ada.
- Menara Penekan Iblis digunakan sebagai kunci untuk perjalanan antariksa yang efisien dan aman.
Siapkah Anda untuk petualangan yang tak terduga di alam semesta novel?
“Baiklah, hentikan bercanda.” David melambaikan tangannya. “Ayo kita pergi ke surga ke dua puluh.”
Xuanzhenzi menghilangkan ekspresi main-mainnya, kilatan kelicikan muncul di matanya: “Tingkat surga ke-20? Apakah kita akan pergi hanya dengan beberapa orang? Aula utama ras dewa di sana bukanlah tempat yang mudah ditaklukkan.”
“Banyaknya jumlah orang belum tentu membuat perbedaan.”
Suara David terdengar tenang, “Mari kita pergi dan lihat apa yang terjadi. Lagipula, Surga Kedua Puluh bukan hanya rumah bagi Klan Dewa. Kita bisa memanfaatkan konflik antara orang lain dan Klan Dewa.”
Xuanzhenzi berpikir sejenak dan mengangguk: “Masuk akal. Kalau begitu, mari kita pergi.”
Dia berbalik dan menendang pantat bocah Taois kecil itu: “Berhenti makan! Ayo pergi!”
Taois muda itu dengan cepat memasukkan gigitan terakhir buah spiritual ke dalam mulutnya, pipinya menggembung seperti tupai, memberikan jawaban yang bergumam, dan mengikuti dengan penuh semangat.
Keempat orang itu—David, Jiang Xuelan, Xuanzhenzi, dan pemuda Taois itu—berdiri bersama.
David memanggil Menara Penekan Iblis, dan kekuatan kekacauan melonjak ke dalam menara, menyelimuti mereka berempat dengan cahaya perak.
Ruang terdistorsi, pemandangan menjadi kabur, dan sesaat kemudian, mereka menghilang di hamparan es.
Menara Penekan Iblis memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan menembus ruang angkasa. David ingin menggunakan Menara Penekan Iblis untuk melakukan perjalanan menembus kehampaan menuju surga kedua puluh, yang akan meminimalkan kerusakan pada mereka.
Ketika David dan ketiga temannya keluar dari lorong ruang angkasa, mereka mendapati diri mereka berada di lereng bukit.
Di bawah kakiku terbentang rumput hijau subur, dengan tetesan embun berkilauan menempel di helai-helainya, berkilau seperti berlian di bawah sinar matahari keemasan yang pucat.
Di kejauhan, tampak pegunungan bergelombang dengan puncak-puncak yang menjulang ke awan dan tertutup salju yang tak pernah mencair, memantulkan cahaya putih yang menyilaukan di bawah sinar matahari.
Udara terasa segar dan lembap, membawa aroma rumput, pepohonan, dan tanah; dengan setiap tarikan napas, seseorang dapat merasakan energi spiritual yang kaya mengalir ke dalam tubuh.