Perintah Kaisar Naga Bab 6678 Satu Pedang, Satu Anak

Bab 6678 Satu Pedang, Satu Anak

Selamat datang kembali para pembaca setia, mari selami lembar berikutnya dari petualangan yang tak terduga!

Poin Penting Bab Ini:

  • David, meskipun hanya Dewa Emas tingkat pertama, memiliki reputasi menakutkan yang menyebabkan keraguan di antara lawan-lawannya.
  • Tujuh Dewa Emas dengan tingkatan lebih tinggi meremehkan David, didorong oleh keserakahan dan keraguan terhadap klaim kemampuannya.
  • Sikap tenang David berubah menjadi dingin dan mengancam saat ia dihadapkan pada ancaman yang tak terhindarkan, menandakan pertarungan sengit akan segera dimulai.

Siapakah sesungguhnya David di Tanah Kaisar yang Jatuh?

Meskipun banyak orang tidak percaya bahwa seorang Dewa Emas tingkat satu dapat menghabisi seorang Dewa Emas tingkat delapan puncak, berita tersebut begitu meyakinkan sehingga orang-orang tidak punya pilihan selain mempercayainya.

Dan kini, nama legendaris ini berdiri di hadapan mereka, seorang Dewa Emas tingkat pertama, menghadapi pengepungan dari ketujuh orang itu dengan ekspresi tenang dan tak terganggu.

“Kaukau David?” Wajah pria bertubuh kekar itu memerah, dan cengkeramannya pada pisau sedikit mengencang. “David yang menghabisi Wu Tianji?”

“Tepat sekali.” David tetap tenang, tanpa mengubah postur tubuhnya. “Sekarang, apakah kau masih akan menghentikanku?”

Pria bertubuh kekar dan pria tinggi kurus itu saling bertukar pandang, secercah keraguan dan pergumulan terpancar di mata mereka.

Mereka tentu sudah mendengar reputasi buruk David dan tahu betapa banyak darah yang telah ditumpahkan oleh pemuda yang tampaknya biasa ini.

Namun tak lama kemudian, keserakahan dan angan-angan kembali menguasai keadaan.

“Lalu kenapa kalau kau menghabisi Wu Tianji?”

Pria jangkung dan kurus itu mencibir, “Wu Tianji adalah patriark Klan Gagak Emas. Dia meninggal di bawah pengepungan kultivator iblis, bukan dibunuh olehmu seorang diri.”

“Kau hanyalah seorang junior rendahan di peringkat pertama alam Dewa Emas. Jangan berpikir kau bisa bersikap arogan di depan kami hanya karena kau meminjam reputasi orang lain!”

“Benar sekali!” Pria bertubuh kekar itu menggertakkan giginya dan kembali menggenggam erat pedang panjangnya yang berwarna merah darah. “Ada tujuh orang di antara kami, lima di peringkat keenam Alam Dewa Emas dan dua di peringkat ketujuh. Apakah kami takut pada bocah Dewa Emas peringkat pertama sepertimu? Bahkan jika kau benar-benar memiliki kemampuan, bisakah kau menghabisi ketujuh dari kami sendirian?”

Bagian:12