Perintah Kaisar Naga Bab 6523
Selamat datang, para pembaca setia, kembali ke dunia penuh intrik dan keajaiban dalam kelanjutan kisah Perintah Kaisar Naga!
- Sosok Qingqiu kembali dengan penampilan segar dan penuh energi, mengisyaratkan peran penting yang akan datang.
- Ancaman perang semakin nyata dengan keberadaan Pasukan Yang Mulia Surgawi yang siap melancarkan serangan.
- Persiapan genting di Pegunungan Seribu Iblis yang tegang menanti fajar menyingsing untuk menghadapi musuh.
Perintah Kaisar Naga Bab 6523 Serangan Besok Pagi.
Kembalinya sosok yang dinanti dan senyum misterius di antara para wanita.Ancaman perang semakin nyata dengan kedatangan pasukan ‘Yang Mulia Surgawi’.Pertemuan tak terduga antara para bangsawan tinggi mengisyaratkan adanya aliansi atau konflik baru.
Bab 6523 Serangan Besok Pagi.
Qingqiu berjalan mendekat dari kejauhan.
Gaun putihnya seputih salju, rambut panjangnya sehitam tinta, dan langkahnya seringan seolah-olah dia berjalan di atas angin.
Dia tampak lebih berenergi daripada tujuh hari yang lalu; warna kulitnya kembali merona, dan matanya kembali tajam.
Dia menatap David, lalu ke Jiang Xuelan di sampingnya, senyum nakal terlintas di matanya yang seperti rubah.
“Kupikir kau tidak akan kembali,” katanya, tetapi tidak ada nada menyalahkan dalam suaranya.
David tersenyum. “Aku pasti akan menepati janjiku kepada Yang Mulia.”
Tatapan Qingqiu tertuju pada Jiang Xuelan sejenak.
Tatapan kedua wanita itu bertemu di udara. Qingqiu mengangguk sedikit, dan Jiang Xuelan juga mengangguk sedikit.
Tidak ada kata-kata tambahan, tetapi mereka berdua mengerti.
Ayo pergi.
Qingqiu berbalik dan berjalan menuju Istana Kaisar Iblis. “Masih banyak yang harus dilakukan. Pasukan Yang Mulia Surgawi sudah berada di gerbang. Jika mereka tidak segera kembali, aku tidak punya pilihan selain mengangkat senjata dan terjun ke medan perang.”
David dan Jiang Xuelan mengikuti di belakangnya.
Di belakang mereka, tiga matahari yang menyala-nyala menggantung tinggi, sinar keemasan, perak, dan merahnya saling berjalin mewarnai pegunungan Wan Yao Ridge dengan rona merah keemasan yang megah.
Di kejauhan, awan gelap terus berkumpul, dan cahaya merah darah bergejolak di dalamnya, niat menghabisi mengembun menjadi bilah-bilah tajam yang tak terhitung jumlahnya.
Perkemahan Yang Mulia Surgawi didirikan di sebuah bukit tiga ratus mil di utara Pegunungan Seribu Iblis. Perkemahan itu membentang bermil-mil, dengan panji-panji cahaya suci berwarna emas berkibar tertiup angin. Berdiri di puncak bukit, seseorang dapat dengan jelas melihat garis besar Pegunungan Seribu Iblis, rangkaian pegunungan yang diselimuti kabut tebal tetapi sekarang diterangi dengan terang, seolah-olah mengejeknya.
Sang Yang Mulia Surgawi duduk di dalam tendanya, jari-jarinya mengetuk meja dengan ringan.
Tirai pun terangkat, dan Tetua Zhao melangkah masuk sambil menangkupkan tinjunya dan berkata, “Tuan Istana, Yang Mulia Xuanbing dan Yang Mulia Shengguang telah tiba.”
Yang Mulia Surgawi berdiri, memaksakan senyum. “Silakan.”
Tirai kembali terbuka, dan dua sosok masuk satu demi satu.
Yang Mulia Xuanbing berjalan di depan, mengenakan jubah biru es, dengan rambut seputih salju, wajah kurus, dan sedikit niat jahat di matanya.
Begitu memasuki tenda, dia melihat sekeliling, pandangannya tertuju pada setiap barang seolah-olah sedang memperkirakan berapa banyak batu roh yang bernilai dari barang-barang tersebut.