Perintah Kaisar Naga Bab 6519
Selamat datang kembali, pembaca setia, untuk menyelami kembali alur cerita yang penuh intrik dalam ‘Perintah Kaisar Naga Bab 6519’.
- Kedatangan mendadak sosok berselimut cahaya ungu yang mengejutkan seisi Lembah Bebas.
- Terungkapnya identitas mengejutkan sang penjelajah langit yang membuat semua terpaku dan takjub.
- Janji penyelamatan yang menggema, membangkitkan kembali harapan di tengah keputusasaan para pejuang yang terluka.
Perintah Kaisar Naga Bab 6519 Lembah Bebas, Hidup.
Selamat datang kembali di kisah epik kita! Bersiaplah untuk kejutan yang akan mengubah segalanya.
Kedatangan tak terduga dari sosok misterius berselimut cahaya ungu di Lembah Bebas.Identitas mengejutkan dari sang penjelajah langit yang membuat semua orang terdiam.Janji penyelamatan yang menggema, membuka harapan baru bagi para pejuang yang terluka.
Bab 6519 Lembah Bebas, Hidup.
Apa itu?
Seorang biksu muda yang bermata tajam adalah orang pertama yang melihatnya; dia berdiri di pintu masuk lembah, memandang langit melalui celah-celah di antara tanaman rambat.
Suaranya menarik perhatian orang lain, dan semua orang mendongak.
Seberkas cahaya ungu melesat dengan kecepatan luar biasa dari cakrawala.
Ia meninggalkan ekor panjang yang berapi-api, membelah langit menjadi dua.
Cahaya ungu itu tidak menyilaukan, tetapi memiliki kekuatan magis yang membuat orang tidak mungkin mengalihkan pandangan.
Pesawat itu berhenti sejenak di langit, seolah merasakan sesuatu, lalu tiba-tiba mengubah arah, terbang lurus menuju lembah.
Kejadiannya begitu cepat sehingga tidak ada yang sempat bereaksi.
Cahaya ungu jatuh di lapangan terbuka di tengah lembah. Saat cahaya memudar, sesosok muncul di hadapan semua orang.
Ia mengenakan jubah dalam berwarna biru muda dan berdiri tegak. Sebuah pedang panjang tergantung di pinggangnya, sarungnya tampak kuno. Wajahnya tegas, dan mata ungunya bersinar terang di senja hari.
Aura ungu samar menyelimutinya; cahaya itu tidak mencolok, namun menghangatkan seluruh lembah.
David.
Semua orang terkejut.
Rasanya seperti membeku di tempat, seperti disambar petir, seperti melihat halusinasi.
Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak, dan tidak ada yang bisa mempercayai apa yang mereka lihat.
Lembah itu begitu sunyi sehingga hanya suara angin yang terdengar.
Seorang prajurit muda adalah orang pertama yang tersadar.
Bibirnya bergetar hebat, dan air mata besar menggenang di matanya.
Dia mengenali orang itu, orang yang telah memimpin mereka dalam pertempuran, orang yang telah berjuang menembus pasukan para dewa, orang yang telah dikepung oleh dua tetua tertinggi para dewa dan yang tubuh fisiknya telah hancur pada akhirnya.
“Tuan Chen?”
Suaranya bergetar, dipenuhi rasa tak percaya namun juga rasa antisipasi yang luar biasa, “Benarkah itu Tuan Chen? Tuan Chen sudah kembali?”
David memandang mereka, para sahabatnya yang dipenuhi luka, mata mereka dipenuhi ketakutan, pakaian mereka berlumuran darah.
Tatapannya menyapu wajah setiap orang; beberapa dapat ia kenali, beberapa hanya pernah ia temui beberapa kali, dan beberapa lagi adalah orang asing.
Namun mata mereka sama—mata seseorang yang tiba-tiba melihat secercah harapan dalam situasi yang panjang dan putus asa.
Dia terdiam sejenak.
“Aku datang untuk mengantarmu pulang.”
Lima kata, tenang dan singkat, seolah menggambarkan sesuatu yang sangat biasa.
Namun, kelima kata itu membuat semua orang meneteskan air mata.
Prajurit muda itu berlutut dengan bunyi gedebuk, menangis dan gemetaran sepuasnya.
Biksu tua di sebelahnya memukul dadanya dan meratap, seolah ingin meluapkan semua ketakutan yang telah lama ditekan.
Dua orang lainnya saling berpelukan, menangis tersedu-sedu hingga tak bisa berbicara.
Beberapa orang berdiri di sana dengan tatapan kosong, air mata mengalir di wajah mereka tanpa suara.
Beberapa orang berlutut dan bersujud, dahi mereka menyentuh tanah yang dingin, sambil menangis dan memanggil “Tuan Chen”.
“Tuan Chen, Anda masih hidup… Anda benar-benar masih hidup…”
Seorang kultivator tua berambut abu-abu berjalan tertatih-tatih ke sisi David, matanya dipenuhi air mata, suaranya serak seperti gendang yang bocor, “Kupikir kupikir aku tidak akan pernah melihatmu lagi di kehidupan ini.”