Bab 6685 Kita Tidak Bisa Mundur
Selamat datang, para pembaca setia, di bab terbaru yang penuh ketegangan dari kisah fantasi epik ini!
- Keberanian David yang mencengangkan menantang Tetua Shenmu yang perkasa, meskipun ada perbedaan kekuatan yang sangat besar.
- Pergeseran emosi para kultivator, dari rasa takut yang melumpuhkan menjadi kemarahan yang membara.
- Perintah brutal ‘Bunuh! Jangan biarkan siapa pun hidup!’ yang dikeluarkan oleh Tetua Shenmu, menandakan dimulainya pertempuran tanpa ampun.
Wajah para kultivator iblis itu memucat pasi, dan beberapa mengepalkan tinju mereka begitu erat hingga kuku mereka menancap dalam-dalam ke telapak tangan mereka.
Sebagian orang menundukkan kepala, tidak berani menatap langsung cahaya keemasan yang menyilaukan itu;
Rasa takut yang awalnya dirasakan sebagian orang kemudian digantikan oleh kemarahan, dada mereka naik turun dengan hebat, dan napas mereka menjadi berat dan cepat.
“Cukup!”
Teriakan tajam menyela ejekan Tetua Shenmu, bergema seperti guntur di seluruh dataran es.
David berdiri di depan, matanya yang ungu sedingin pisau, jubah abu-abunya berkibar tertiup angin yang menusuk, ujung jubahnya melambai seperti bendera perang.
Suaranya tidak keras, tetapi jelas menembus angin dingin di dataran es dan tekanan keemasan, sampai ke telinga semua orang: “Jika kalian ingin bertarung, bertarunglah. Mengapa semua omong kosong ini?”
Tatapan Tetua Shenmu tertuju pada David, kilatan dingin terpancar di matanya: “Kau David? Hanya seekor semut di peringkat kedua Alam Dewa Emas, berani-beraninya kau bersikap angkuh di depanku? Tahukah kau bahwa aku bisa menghancurkanmu hanya dengan satu tangan?”
“Kalau begitu, datang dan cubit aku.”
Suara David terdengar tenang seolah-olah dia sedang mengatakan cuaca hari ini cerah, bahkan dengan senyum tipis di bibirnya. “Kau pikir kau bisa menghabisi kami semua dengan bicara omong kosong sambil berdiri di langit? Kenapa kau tidak turun dulu dan kita akan berlatih?”
Wajah Tetua Shenmu menjadi gelap sepenuhnya.
Dia telah hidup selama puluhan ribu tahun, memegang posisi Tetua Aula Utama Klan Ilahi, dan prestisenya dikenal di seluruh Surga Kedua Puluh. Belum pernah sebelumnya seorang junior di peringkat kedua Dewa Abadi Emas berani berbicara kepadanya seperti ini.
Nada acuh tak acuh itu, sikap meremehkan itu, memicu letusan amarah yang dahsyat dalam dirinya.
“Baiklah! Karena kau sangat ingin tewas, aku akan mengabulkan keinginanmu!”
Tiba-tiba dia mengangkat tangan kanannya, dan cahaya keemasan mengembun liar di telapak tangannya, berubah menjadi anak panah emas yang melesat lurus ke langit.
Panah perintah itu meledak di langit, berubah menjadi bintik-bintik cahaya keemasan yang tak terhitung jumlahnya yang jatuh seperti hujan meteor, setiap bintik meninggalkan jejak keemasan di udara.
Bunuh! Jangan biarkan siapa pun hidup!
Saat perintah diberikan, dunia berubah warna.
Puluhan ribu kultivator ilahi dan manusia bergerak secara bersamaan.
Getaran, seperti gempa bumi, berasal dari tanah. Hamparan es bergemuruh dengan bunyi tumpul akibat injakan puluhan ribu kaki, dan retakan-retakan padat mulai muncul di permukaan es, menyebar ke luar seperti jaring laba-laba.