Pesona Pujaan Hati Bab 7461 (Lanjutan Hal. 2)

Lanjutan Cerita: Anda sedang membaca halaman 2. Silakan lanjutkan membaca di bawah ini...

=== HALAMAN 2 ===

Serbuan Navy SEAL dan Siksaan di Tengah Salju

Militer AS bergerak dengan efisiensi yang menakutkan.

Hanya dalam dua jam, armada transportasi mereka sudah tiba di langit Stasiun Showa.

Hampir 100 anggota pasukan elit Navy SEAL diterjunkan. Kendaraan tempur infanteri mengepung stasiun penelitian Jepang itu dari segala arah.

Pasukan Navy SEAL Amerika Serikat mengepung Stasiun Penelitian Showa Jepang di Antartika.
Melanggar perjanjian internasional, pasukan elit AS menduduki paksa stasiun penelitian Jepang.

Pasukan AS langsung mendobrak masuk. Mereka menodongkan senjata ke arah para peneliti Jepang yang tersisa.

“Panggil teman-teman kalian yang lain! Suruh mereka kembali ke stasiun sekarang!” perintah Komandan AS.

Namun, ia menghadapi tembok tebal.

Para peneliti Jepang itu sudah dicuci otaknya oleh Wu Bolin. Bagi mereka, perintah Wu Bolin adalah titah Dewa. Mereka lebih memilih mati daripada mengkhianati misi “Dewa Guanghan”.

Meskipun laras senapan menempel di dahi, mereka bungkam seribu bahasa.

Mentalitas Perang Timur Tengah

Komandan AS kehilangan kesabaran.

“Siksa mereka!” perintahnya dingin.

Beberapa prajurit muda ragu-ragu. “Pak… ini stasiun penelitian sekutu. Ini bukan medan perang Timur Tengah. Jika ini bocor, akan jadi skandal diplomatik…”

“Persetan dengan diplomasi!” bentak Komandan itu.

“Bagi Amerika, apa bedanya Antartika dan Timur Tengah? Musuh adalah musuh!”

Ia menatap tajam anak buahnya. “Jika kalian lembek, jangan harap bisa naik pangkat. Lakukan sekarang!”

Hati nurani para prajurit itu runtuh di bawah tekanan atasan. Mereka mulai menyeret para peneliti ke ruang interogasi.

Suara pukulan dan teriakan tertahan terdengar. Namun, para peneliti Jepang itu keras kepala. Mereka babak belur, tapi mulut mereka terkunci rapat.

“Pak, mereka tidak mau bicara,” lapor prajurit dengan napas terengah. “Mereka lebih tangguh dari agen rahasia.”

Hukuman Beku

Komandan AS menyipitkan matanya dengan kejam.

“Lucuti pakaian mereka. Sisakan celana dalam saja.”

Perintah gila itu turun. “Seret mereka keluar. Biarkan suhu minus 60 derajat yang bicara.”

Para peneliti Jepang itu diseret paksa keluar dari stasiun yang hangat. Pakaian mereka ditarik paksa, menyisakan tubuh kurus yang gemetar hebat.

Mereka dilempar ke tengah badai salju malam kutub.

Suhu minus 60 derajat Celcius bukan main-main.

Dalam hitungan detik, kulit mereka membeku kaku. Rasanya bukan dingin, tapi seperti ditusuk ribuan jarum api. Rasa sakit yang tak tertahankan membuat mereka menjerit histeris.

Setelah beberapa puluh detik, kulit mereka mulai membiru—tanda awal radang dingin (frostbite) yang mematikan.

Komandan AS tersenyum puas melihat penderitaan itu.

Mata-Mata di Balik Salju

Namun, Komandan itu tidak sadar.

Di balik gundukan salju, tak jauh dari stasiun, sepasang mata sedang mengawasi.

Charlie berbaring diam di dalam salju. Energi spiritual melindungi tubuhnya dari dingin yang ekstrem, membuatnya tidak terdeteksi oleh sensor panas (thermal imaging).

Di tangannya, sebuah ponsel pintar merekam semuanya dengan kualitas tinggi.

Lensa kamera itu menangkap setiap detail: Seragam militer AS, senjata api laras panjang, wajah komandan yang kejam, dan para peneliti Jepang yang disiksa setengah telanjang di atas es.

Bukti kejahatan perang itu kini ada di tangan Charlie.

Charlie merekam bukti penyiksaan militer AS terhadap peneliti Jepang di Antartika.
Senjata pamungkas Charlie: Rekaman video yang akan menghancurkan reputasi militer Amerika di mata dunia.
« Bab 7,460