=== HALAMAN 2 ===
Perubahan Sikap Amerika dan Serbuan Pasukan Khusus
…
Tim peneliti di Stasiun McMurdo sebenarnya sudah dalam kondisi siaga satu. Mereka telah menerima peringatan intelijen tentang pembelotan tim Jepang.
Meskipun para ilmuwan di sana adalah warga sipil, stasiun itu dilengkapi teknologi militer canggih. Sistem radar mereka kini beroperasi dengan daya maksimum 24 jam sehari, memindai setiap pergerakan di hamparan es yang sunyi.
Ketika konvoi Wu Bolin muncul di layar radar, alarm langsung berbunyi.
Pesan radio dikirim dengan nada tegas: “Ini Stasiun Penelitian McMurdo. Kendaraan yang mendekat, harap sebutkan kewarganegaraan, jumlah orang, dan tujuan Anda.”

Kohei Kikuchi terkejut bukan main.
“Mereka mendeteksi kita dari jarak puluhan kilometer?” gumamnya tak percaya. “Di tengah badai salju seperti ini, radar mereka pasti beroperasi penuh.”
Ia segera menoleh ke Wu Bolin. “Guru, orang Amerika meminta identitas dan tujuan kita. Apa yang harus kita katakan?”
Wu Bolin menjawab dengan tenang, tanpa membuka matanya.
“Di wilayah kutub yang ganas ini, apa alasan paling masuk akal untuk menghubungi orang asing?”
Kikuchi berpikir sejenak. “Meminta tolong. Semua orang di Antartika biasanya saling membantu.”
“Tepat,” kata Wu Bolin. “Katakan pada mereka kita butuh bantuan darurat.”
Kikuchi segera membalas radio itu. Ia mengaku sebagai anggota ekspedisi Jepang yang mengalami kerusakan kendaraan dan kehabisan bekal.
Para peneliti Amerika di McMurdo semakin curiga. Tim Jepang yang disebut pengkhianat itu tiba-tiba datang meminta tolong?
Tanpa buang waktu, mereka segera melaporkan insiden ini langsung ke Pentagon.
…
Kejutan di Dalam Pesawat
Kembali ke pangkalan udara di Amerika Selatan.
Goro Watanabe dan seluruh tim negosiasi Jepang sudah duduk di dalam perut pesawat Hercules.
Interior pesawat militer itu sangat spartan. Tidak ada kursi empuk, hanya bangku jaring di sepanjang dinding kabin. Di tengah ruangan, dua mobil salju sipil terikat kuat di lantai.
Mereka mengira pintu pesawat akan segera ditutup. Namun, tiba-tiba terjadi keributan.
Sekelompok personel Angkatan Udara AS bergegas masuk ke dalam kabin. Tanpa banyak bicara, mereka melepas ikatan dua mobil salju sipil itu dan mendorongnya keluar dari pesawat dengan kasar.
Watanabe ternganga. “Apa yang mereka lakukan?”
Belum sempat ia bertanya, pemandangan berikutnya membuatnya semakin syok.
Hampir seratus orang pasukan komando bersenjata lengkap berbaris masuk ke dalam pesawat dengan derap langkah yang berat.

Mereka mengenakan perlengkapan tempur musim dingin lengkap, dengan senapan serbu tergantung di dada. Wajah mereka tertutup masker ski, hanya menyisakan mata yang tajam.
Setelah pasukan masuk, kru darat memasukkan kargo baru: Empat unit kendaraan tempur infanteri lapis baja!
Suasana di dalam kabin berubah drastis dari misi diplomatik menjadi misi perang. Para prajurit itu duduk diam dengan ekspresi mematikan.
Tepat saat itu, komandan pangkalan militer AS melangkah masuk ke pesawat.
Watanabe Goro langsung berdiri dan menghampirinya dengan bingung.
“Komandan, sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya dengan suara bergetar.
Komandan pasukan kutub AS itu menatap Watanabe dengan ekspresi muram dan dingin.
“Kita akan menyerbu Antartika!”
Watanabe Goro berseru kaget, matanya terbelalak tak percaya.
“Tapi… bukankah Anda bilang tidak akan mengirim satu pun tentara?!”