Bab 6270 Kata-kata seorang pria.
Anda sedang membaca Bab 6270 Kata-kata seorang pria.. Jika terdapat kesalahan penulisan, harap maklum. Selamat menikmati kelanjutan ceritanya!
“Tiga hal yang Anda sebutkan tadi.”
raga David menegang.
“Kau berjanji akan melakukan tiga hal untukku.” Suara Jiang Xuelan tenang, amat tenang hingga hampir dingin. “Janji seorang pria adalah ikatan yang harus ditepati. Itulah yang kau katakan.”
David berbalik dan menatapnya.
Jiang Xuelan tidak mengalihkan pandangannya, melainkan menatap matanya secara langsung.
“Hal pertama yang sudah saya lakukan: saya mengambil sampel darah Anda untuk penelitian. Hal kedua…”
Dia berhenti sejenak, suaranya sedikit bergetar, tetapi dia tetap berbicara.
“Berkebunlah bersamaku.”
David terdiam.
Dia tahu bahwa dia telah dikalahkan dalam manuver politik.
Jiang Xuelan benar; dia memang setuju.
Terlepas dari keadaan pada saat itu, dia sendiri yang mengucapkan kata-kata itu, dan dia membuat janji itu dengan tangannya sendiri.
Jika dia mengingkari janjinya sekarang, apa bedanya dia dengan orang-orang yang khianat dan jahat itu?
“Apa kau tidak takut aku akan berubah pikiran nanti?” Suara David sedikit serak.
Jiang Xuelan tersenyum tipis tipis, senyum yang bercampur dengan kepahitan dan emosi yang tak terlukiskan.
“Kamu tidak akan melakukannya. Kamu bukan tipe orang seperti itu.”
Dia berbalik dan melangkah menuju pintu ruangan batu itu. Ketika sampai di pintu, dia berhenti tetapi tidak menoleh ke belakang.
“Malam ini, di bawah Pohon Kehidupan, aku akan menunggumu.”
Sosoknya menghilang di balik pintu, meninggalkan David sendirian di ruangan batu itu, menghadap tujuh botol kaca di atas meja, terdiam lama tanpa kata-kata.
Malam tiba.
Malam di Reruntuhan Guixu berbeda dari tempat lain. Aurora di atas kepala menjadi lebih terang, dan warna pucat berubah menjadi biru keunguan yang pekat, seperti sungai yang mengalir di langit.
Daun-daun keemasan Pohon Kehidupan bergoyang lembut tertiup angin malam, menghasilkan suara gemerisik yang terdengar seperti balada kuno atau desahan yang dalam.
David berdiri di pintu masuk lubang pohon, memandang aurora dan bayangan pohon keemasan yang terpantul di danau, pikirannya dipenuhi berbagai macam pikiran.
Dia tidak mau pergi.
Tapi dia harus pergi.
Janji adalah janji.
Sepanjang hidupnya, kata yang paling dia hargai adalah “komitmen”.
Jika dia bisa mengingkari janjinya sendiri sesuka hati, lalu apa bedanya dia dengan orang-orang yang dia benci?
Dia menarik napas dalam-dalam dan melangkah keluar dari lubang pohon.
Di sisi lain batang Pohon Kehidupan, terdapat sebuah lahan terbuka kecil.
Di tengah ruang terbuka, Jiang Xuelan sudah menunggu.
Dia mengganti pakaiannya.
Bukan lagi gaun putih polos yang dikenakannya di siang hari, melainkan gaun tulle biru muda yang berkilauan dengan cahaya redup dan dingin di bawah aurora dan dedaunan keemasan.
Rambut panjangnya terurai di punggungnya seperti air terjun, dengan beberapa helai rambut terlepas jatuh di samping telinganya dan bergoyang lembut tertiup angin malam.
Dia berdiri membelakangi David di akar terbesar Pohon Kehidupan, memandang ke atas ke kanopi di atasnya.
Daun-daun keemasan melayang turun di sekelilingnya, mendarat di bahunya dan di rambutnya, seolah-olah menghiasinya dengan mahkota emas.
Mendengar langkah kaki, dia perlahan berbalik.
Cahaya bulan, aurora, dan cahaya keemasan menyinari wajahnya secara bersamaan, membuat penampilannya agak tidak nyata, seolah-olah dia baru saja keluar dari sebuah lukisan.
“Kau sudah datang.” Suaranya amat lembut, hampir tenggelam oleh angin.
David melangkah menghampirinya dan berhenti.
Keduanya saling memandang.
“Aku sudah memikirkannya,” kata David, suaranya sedikit serak. “Aku setuju. Tapi aku punya satu syarat.”
Jiang Xuelan sedikit mengangkat alisnya: “Apa syaratnya?”
“Ini hanyalah sebuah transaksi,” kata David, menekankan setiap kata. “Setelah kultivasi ganda, hubungan kita akan tetap sama. Aku tidak akan memiliki pikiran lain tentangmu sebab ini. Dan kau pun seharusnya tidak memiliki pikiran lain tentangku.”
Jiang Xuelan menatapnya dan terdiam sejenak.
Lalu, dia tersenyum tipis.
Senyum itu amat tipis, saking tipisnya hingga hampir tak terlihat.
akan tetapi di balik senyuman itu, terdapat emosi yang David tidak bisa jelaskan dengan tepat. Apakah itu rasa lega? Kepahitan? Atau sesuatu yang lain sama sekali?
“Oke,” katanya, hanya mengucapkan satu kata.
David mengangguk, menarik napas dalam-dalam, dan mulai melepas pakaian luarnya.
Jiang Xuelan berbalik, membelakanginya, dan perlahan melepaskan kerudung tipis dari tubuhnya.
Gerakannya lambat dan tenang, tanpa sedikit pun ragu atau terburu-buru.
Seolah-olah dia tidak melakukan sesuatu yang penting terkait kelanjutan garis keturunannya, melainkan sesuatu yang biasa saja.
Cahaya bulan menyinari bahunya yang seputih salju, membentuk lengkungan yang anggun akan tetapi tenang.
Daun-daun Pohon Kehidupan mulai berguguran lebih gesit, daun-daun keemasan berputar dan menari di udara seperti hujan emas.
Daun-daun berguguran di sekitar mereka berdua, membentuk karpet keemasan.
Jiang Xuelan berbalik.
Wajahnya tetap acuh tak acuh, tetapi telinga dan lehernya sedikit memerah.
Warna merah muda yang samar-samar terlihat di bawah cahaya bulan dan emas membuat dirinya tidak lagi tampak seperti patung es, melainkan seorang wanita sejati, yang mampu merasa malu dan ragu-ragu.
“Kemarilah.” Suaranya lembut, akan tetapi mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
David melangkah mendekat dan berdiri di depannya.
Keduanya hanya berjarak amat dekat.
Dia bisa mencium aromanya; itu bukan lagi wangi lembut bunga plum musim dingin di siang hari, tetapi aroma yang lebih kaya, lebih memabukkan, dan sejuk, seperti salju pertama di musim dingin yang dalam, segar dan manis.
Jiang Xuelan mengangkat tangannya dan dengan lembut menempelkannya ke dadanya.
Tangannya dingin, tetapi ada kehangatan aneh yang mengalir melalui ujung jarinya.
Panas itu meresap ke dalam tubuhnya melalui kulit dadanya, mengalir melalui anggota raga dan tulangnya, menyebabkan darah naga emas di tubuhnya mendidih tak terkendali.
“Tutup matamu,” bisiknya, suaranya seperti mimpi. “Tenang, jangan melawan.”
David menutup matanya seperti yang diperintahkan.
Sesaat lantas, dia merasakan raga Jiang Xuelan menempel padanya.
Tubuhnya amat dingin, sedingin batu giok yang disinari cahaya bulan.
akan tetapi di balik kesejukan itu, mengalir sesuatu yang amat hangat, seperti mata air panas yang menyembur di bawah es.
Dua kekuatan berbeda mulai mengalir di antara raga kedua orang tersebut.
Salah satunya adalah aura naga emas David, yang membara, mendominasi, dan penuh dengan kekuatan penghancuran dan kelahiran kembali;
Salah satunya adalah cahaya ilahi biru es milik Jiang Xuelan, jernih, lembut, dan mengandung hukum kuno pembekuan ruang dan waktu.
Kedua kekuatan itu berulang kali berputar di dalam raga mereka, saling terkait dan menyatu satu sama lain.
Pada awalnya, mereka saling menolak; panas membara dari energi naga dan dinginnya cahaya ilahi bertabrakan dengan luar biasa di dalam raga mereka seperti api dan air.
David merasa seolah tubuhnya terbelah menjadi dua, satu bagian berupa magma yang mendidih dan bagian lainnya berupa embun beku yang dingin.
Alis Jiang Xuelan mengerut rapat, dan lapisan tipis keringat muncul di dahinya.
akan tetapi, ia menggenggam tangan David dengan erat, jari-jari mereka saling bertautan, telapak tangan saling berhadapan.
“Jangan melawan.” Suaranya terngiang di telinganya, membawa kekuatan yang menenangkan, “Biarkan mereka menyatu.”
Bagaimana keseruan Bab 6270 Kata-kata seorang pria. di atas? Jangan lupa tinggalkan komentar untuk berdiskusi bersama pembaca lainnya, dan nantikan kelanjutan kisahnya!