Raungan memekakkan telinga, tak terlukiskan, meletus. Energi emas dan hitam saling bertautan, terkikis, dan meledak dengan dahsyat, membentuk bola energi yang terus mengembang yang menelan David dan sosok bayangan itu sepenuhnya.
Cahaya yang intens meredupkan bintang-bintang di sekitarnya, dan turbulensi energi yang dahsyat menguapkan beberapa sabuk asteroid kecil di dekatnya.
Setelah melepaskan serangan pedangnya, David segera menyalurkan sisa kekuatan spiritualnya untuk melindungi seluruh tubuhnya, sementara bayangan Menara Penekan Iblis samar-samar muncul di belakangnya untuk menahan dampak energi yang mengerikan.
Ia terdorong mundur ribuan meter oleh gelombang kejut sebelum akhirnya berhasil berdiri. Darahnya berdesir, wajahnya sedikit memucat, dan ia menatap tajam ke pusat ledakan.
Tidak jelas berapa lama waktu telah berlalu sebelum cahaya energi destruktif itu perlahan menghilang.
Tempat di mana sosok bayangan itu berdiri kini kosong, hanya menyisakan ruangwaktu yang lebih terfragmentasi dan tidak stabil, serta bara energi hitam yang perlahan menghilang dan akhirnya lenyap.
Sosok gelap itu akhirnya terdesak mundur oleh tebasan pedangnya yang dahsyat, atau lebih tepatnya, inti tubuhnya, yang menyimpan sebagian besar kekuatannya, hancur total dan musnah hanya dengan satu tebasan itu.
David melayang di langit berbintang, sedikit terengah-engah, cahaya Pedang Pembunuh Naga-nya meredup drastis.
Alisnya berkerut, dan ia merasa sedikit lega.
Sosok gelap itu datang dan pergi secara misterius, tak pernah menunjukkan wujud aslinya atau mengucapkan sepatah kata pun. Tujuan dan asal-usulnya tetap diselimuti misteri.
“Siapa yang mengirimnya? Aula Jalan Jahat? Atau kekuatan lain yang tanpa sadar telah kusinggung?”
David merenung, merasakan bahwa jalan di depannya penuh dengan lebih banyak hal yang tak diketahui dan bahaya.
Ia tak berani berlama-lama; tak seorang pun tahu apakah sosok gelap itu punya kaki tangan atau akan kembali.
Setelah menenangkan darah dan qi-nya yang bergejolak, David mengangkat Pedang Pembunuh Naga lagi, memilih arah, dan tanpa ragu menembus penghalang ruang-waktu yang relatif stabil di depannya. Sosoknya berkelebat, dan ia menghilang ke dalam lorong aneh dan fantastis itu, melanjutkan perjalanannya yang berat menuju Surga Kedelapan.
Hanya riak energi yang tersisa dan medan perang bintang yang hancur di belakangnya yang diam-diam menceritakan pertemuan singkat namun luar biasa berbahaya yang baru saja disaksikannya.