Bab 6239 Tanpa Ampun.
Anda sedang membaca Bab 6239 Tanpa Ampun.. Jika terdapat kesalahan terjemahan, harap maklum karena ini adalah terjemahan cepat. Selamat menikmati ceritanya!
Darah menodai setiap inci tanah Gereja Suci.
Teriakan itu bergema di seluruh gunung.
Tepat saat itu, aura mengerikan membubung ke langit dari bagian terdalam Sekte Kemurnian Suci.
Kekuatan aura itu jauh melampaui kekuatan siapa pun sebelumnya.
Alam Keabadian Sejati, Tingkat Dua.
Seberkas cahaya keemasan melesat keluar dari kedalaman gereja dan mendarat di depan David.
Dia adalah seorang lelaki tua berambut putih, berwajah bermartabat, dan memancarkan aura menakutkan.
Ia mengenakan jubah emas, mahkota giok, dan memegang pedang panjang emas. Ia adalah pemimpin Sekte Kemurnian Suci, yang nama Taoisnya adalah Qingxuan.
Dia menatap mayat-mayat yang berserakan di tanah, wajahnya pucat pasi, matanya menyala-nyala sebab amarah.
“Dasar orang gila yang kurang ajar! Beraninya kau membantai murid-murid Sekte Kesucian Suci-ku! Kau mencari ketewasan!”
Dia meraung, dan cahaya keemasan memancar di sekelilingnya. Tekanan mengerikan dari kultivator Alam Abadi tingkat dua menghantam David seperti gunung.
Wajah Yun Yao memucat, dan tanpa sadar dia mundur selangkah.
Yunxi sedikit mengerutkan kening, aura gaibnya bergejolak di sekelilingnya, bersiap untuk bergerak.
David tertawa.
Dia menatap Pemimpin Sekte Qingxuan tanpa rasa takut di matanya, melainkan sedikit rasa geli.
“Peringkat Kedua Alam Keabadian Sejati?”
Dia mengulangi dengan suara pelan dan nada datar, “Menarik.”
Pemimpin Sekte Qingxuan meraung murka: “Anak nakal yang sombong! Akan kutunjukkan padamu seperti apa alam abadi yang sebenarnya!”
Dia mengangkat tangannya dan menebas dengan pedangnya.
Cahaya pedang itu bagaikan pelangi, membawa kekuatan penghancur dunia, dan menebas ke arah kepala David.
Serangan pedang ini cukup kuat untuk membelah gunung dan memutus sungai.
David dengan tenang mengatewas cahaya pedang itu, tanpa menghindar atau mengelak.
Tepat saat cahaya pedang hendak jatuh, dia mengangkat tangannya dan melayangkan pukulan.
Energi dari tinju itu melonjak seperti naga, berkilauan dengan cahaya keemasan.
“ledakan !”
Kepalan tangan dan pedang berbenturan, melepaskan raungan yang memekakkan telinga.
Gelombang kejut yang mengerikan menyapu ke segala arah, menyebabkan bangunan-bangunan di sekitarnya runtuh seketika dan memenuhi langit dengan asap dan debu.
Saat asap dan debu menghilang, David berdiri tak bergerak di tempatnya.
Pemimpin Sekte Qingxuan mundur beberapa langkah, ekspresinya berubah drastis.
“Ini…bagaimana ini mungkin?!”
Dia menatap David dengan mata terbelalak seolah-olah sedang menatap monster.
Dia adalah siswa kelas dua Alam Abadi sejati!
Bagaimana mungkin pemuda di hadapanku ini, yang baru berada di tingkat keempat Alam Abadi Atas, bisa mendorongnya mundur hanya dengan satu pukulan?
David menatapnya dan berujar dengan acuh tak acuh, “Hanya itu?”
Wajah pemimpin Sekte Qingxuan memucat pucat. Dia meraung dan menyerang lagi.
Cahaya pedang itu terus menerus, dan setiap serangannya mengandung kekuatan yang mengguncang bumi.
David tetap berdiri di tempat yang sama, tanpa menghindar atau berkelit.
Dia hanya mengangkat tangannya dan melayangkan pukulan demi pukulan.
Setiap pukulan tepat mengenai ujung pedang.
Setiap pukulan meluluhlantakkan cahaya pedang itu.
Semakin keras pemimpin sekte Qingxuan bertarung, semakin cemas dan kengerian dia.
Pemuda ini bukan manusia!
Dia berbalik dan lari.
akan tetapi setelah berlari beberapa langkah, cahaya keemasan menyusulnya.
David muncul di hadapannya, mengangkat tangannya, dan menampar ke bawah dengan telapak tangannya.
“Bang!”
raga pemimpin Sekte Qingxuan terlempar ke belakang seperti layang-layang dengan tali yang putus, menghantam tanah dengan keras, dan memuntahkan darah.
David melangkah menghampirinya dan menatapnya dari atas.
Pemimpin Sekte Qingxuan gemetar seluruh tubuhnya, matanya dipenuhi rasa takut dan putus asa.
“Siapa…siapakah kamu…?”
David menatapnya dan berujar dengan tenang, “Nama saya David.”
Begitu selesai berbicara, dia langsung menepukkan telapak tangannya.
Kepala pemimpin Sekte Qingxuan langsung meledak, dan dia tewas seketika.
Seorang ahli Alam Abadi Sejati tingkat dua meninggal begitu saja.
David menarik tangannya, berdiri dengan tangan di belakang punggung, jubahnya masih bersih tanpa noda.
Dia berbalik dan menatap Yunxi dan yang lainnya.
“Ayo kita pergi dan hancurkan Sekte Kesucian Suci ini.”
Yunxi mengangguk.
Ming Li dan Liu Qianqian saling bertukar pandang, mata mereka dipenuhi keterterkejutan.
Yun Yao menatap David dengan mata penuh kekaguman.
Setengah jam lantas, tidak ada seorang pun yang tersisa hidup di dalam gerbang Sekte Kesucian Suci.
Para murid yang jahat dan para penatua yang membantu dan mendukung para pelaku kejahatan semuanya binasa.
Darah mengalir ke sebuah sungai.
Tulang-tulang itu menumpuk seperti gunung.
David berdiri di luar gerbang gunung dan menoleh ke belakang.
Gunung yang dulunya megah itu kini telah menjadi reruntuhan.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Ayo pergi.
Dia berbalik dan, bersama Yunxi dan yang lainnya, menghilang di kejauhan.
Di belakang mereka, asap tebal mengepul dan api menjulang ke langit di atas reruntuhan Gereja Suci.
Gereja Suci yang dulunya tak terkalahkan itu pun hancur.
Sementara itu, di kaki Puncak Cahaya Suci di Alam Cahaya Suci.
Di dalam sebuah rumah batu sederhana, Shen Tong duduk bersila di atas futon, menutup matanya untuk mengatur pernapasannya.
Dia pindah ke rumah batu ini setelah ditugaskan berpatroli di kaki gunung.
Kamar itu kecil, hanya berisi tempat tidur, meja, dan kasur futon; amat sederhana. Dibandingkan dengan kamar tidur megah kepala kuil sebelumnya, tempat ini lebih buruk daripada kandang anjing.
akan tetapi Shentong tidak mengeluh.
Dia menanggungnya.
Dalam beberapa hari terakhir, dia memimpin para murid kuil dalam patroli dan serah terima tepat waktu setiap hari, tidak berani bermalas-malasan sedikit pun.
Orang-orang dari kuil akan datang untuk memeriksanya dari waktu ke waktu, memandang rendah dengan tatapan meremehkan, dan kadang-kadang melontarkan beberapa komentar kritis.
Dia mentolerir bahkan kekuatan supranatural.
Dia sedang menunggu.
Menunggu kesempatan.
Begitu penjagaan di kuil mereda, begitu luka-lukanya sembuh, dan begitu dia menemukan kesempatan yang tepat, dia akan memimpin murid-muridnya pergi dari sini untuk mencari jalan keluar lain.
Adapun rahasia gunung suci… itu adalah kartu truf terakhirnya.
Selama dia memiliki sumber daya tersebut dan raga fisik dari makhluk-makhluk yang dihortewas itu, dia memiliki pengaruh.
Entah itu bernegosiasi dengan pihak kuil atau melakukan upaya bangkit kembali di lantas hari, hal-hal tersebut adalah modalnya untuk membalikkan keadaan.
Shentong membuka matanya dan menatap ke luar jendela.
Di luar jendela, beberapa murid kuil duduk di atas batu, menatap kosong ke kejauhan.
Penglihatan mereka telah lama kehilangan ketajamannya, hanya menyisakan tewas rasa dan kelelahan.
Shen Tong merasakan sakit yang menusuk di hatinya.
Semua ini terjadi sebab ketidakmampuannya sebagai kepala kuil sehingga para murid harus menderita.
“Sebentar lagi,” gumamnya. “Sebentar lagi, selalu ada kesempatan…”
Sebelum dia selesai berbicara, pintu rumah batu itu didorong hingga terbuka.
Shen Tong mengerutkan kening dan mendongak.
Orang yang masuk adalah salah satu dari sedikit tetua yang tersisa, bernama Zhou, seorang lelaki tua yang telah mengikutinya selama ribuan tahun.
Saat itu, Tetua Zhou dipenuhi kecemasan, dahinya dipenuhi keringat dingin, dan bibirnya gemetar.
“Yang Mulia… Yang Mulia… Sesuatu yang mengerikan telah terjadi!”
Jantung Shen Tong berdebar kencang, dan dia lekas berdiri: “Apa yang terjadi? Apakah Kuil Suci akan menyerang kita?”
“Tidak…tidak…” Tetua Zhou terengah-engah, suaranya bergetar, “Itu…itu Gunung Suci…Gunung Suci kuil kami…”
Pupil mata Shen Tong menyempit tajam: “Apa yang terjadi pada Gunung Suci?!”
Tetua Zhou berlutut di tanah dengan bunyi gedebuk, air mata mengalir di wajahnya: “Semuanya hancur! Beberapa gunung suci hancur total! raga fisik Yang Mulia… juga hancur sepenuhnya!”
ledakan !
Shen Tong merasakan ledakan seketika di dalam pikirannya, dan dia membeku di tempat, wajahnya memucat.
“Apa…apa yang kau katakan?”
Dia mencengkeram kerah baju Tetua Zhou, matanya merah dan suaranya serak: “Ulangi lagi! Apa yang terjadi pada Gunung Suci?!”
Tetua Zhou berseru, “Tuan Istana, saya baru saja menerima pesan dari mata-mata kita di Surga Keempat Belas, yang mengatakan… mengatakan bahwa seseorang menerobos masuk ke Gunung Suci kita, meluluhlantakkan semua formasi pelindung, dan… meluluhlantakkan semua raga fisik Yang Mulia! Tidak satu pun yang tersisa!”
Bagaimana keseruan Bab 6239 Tanpa Ampun. di atas? Jangan lupa tinggalkan komentar untuk berdiskusi bersama pembaca lainnya, dan nantikan kelanjutan kisahnya!