Pesona Pujaan Hati Bab 7457

Charlie Wade Si Karismatik Bahasa Indonesia, Hero Of Hearts Chapter 7457 English, Bahasa Melayu.

Bab 7457

=== HALAMAN 1 ===

Perangkap Mematikan di Balik Bukit Es: M1128 dan M142 Menunggu

Wu Bolin menghitung hari. Ia membutuhkan setidaknya lima hari lagi untuk kembali ke tempat amannya, Istana Wu Han.

Namun, ia tidak tahu bahwa nasib buruk sedang menunggunya di depan.

Sekitar satu jam setelah Wu Bolin memutuskan rute pulangnya, armada transportasi kedua militer AS tiba di titik penyergapan.

Operasi ini bukan main-main. Tidak ada prajurit infanteri biasa yang berlarian di salju. Operasi ini sepenuhnya mekanis.

Langit menurunkan monster-monster besi: Kendaraan tempur infanteri M1128 “Stryker”, peluncur roket M142 HIMARS, dan kendaraan pengintai canggih.

M1128 bukanlah kendaraan biasa. Ia dilengkapi senapan mesin berat, peluncur granat otomatis, dan yang paling mengerikan: meriam tank 105mm.

Kendaraan tempur infanteri M1128 Stryker militer AS bersiap menyergap di Antartika.
Monster Besi: M1128 Stryker dengan meriam 105mm siap menghancurkan konvoi Wu Bolin dalam sekejap.

Bersama dengan roket jarak jauh M142, mereka membentuk “Jaring Kematian” yang tidak bisa ditembus.

Kendaraan pengintai menyalakan radar berdaya tinggi mereka. Radar ini mampu mendeteksi target bergerak, bahkan manusia perorangan, dalam radius puluhan kilometer di tengah badai salju.

Setelah mendarat, monster-monster besi itu segera bergerak. Mereka bersembunyi di balik bukit es yang tinggi, mematikan mesin, namun membiarkan radar tetap menyala penuh.

Mereka menunggu mangsa datang.

Penderitaan Delegasi Jepang

Sementara itu, nasib delegasi Jepang, termasuk Goro Watanabe, sangat menyedihkan.

Pesawat mereka tidak mendarat di Stasiun McMurdo yang nyaman. Mereka diterjunkan di tengah jalan, di titik antah berantah, untuk menunggu gelombang kedua.

Setelah pesawat angkut menurunkan peralatan berat dan pergi, Watanabe dan timnya ditinggalkan di sana bersama tentara Amerika.

Sesuai protokol militer, mereka harus tinggal di dalam kendaraan tempur infanteri (IFV) yang sempit.

Selama berhari-hari, mereka makan ransum tentara yang hambar. Untuk tidur, mereka harus meringkuk di kursi besi yang keras, curi-curi waktu untuk memejamkan mata.

Namun, siksaan terberat bukanlah makanan atau tidur, melainkan toilet.

Kendaraan tempur tidak memiliki toilet.

Tentara AS menggali lubang di salju sebagai toilet darurat. Agar tidak membeku, lubang itu dilengkapi pemanas diesel sederhana.

Bayangkan harus buang air besar di tengah badai Antartika. Jika tidak ada pemanas, Anda bisa terkena radang dingin di bagian tubuh yang paling pribadi. Dan jika Anda sedang sembelit? Itu adalah siksaan duniawi yang paling kejam.

Kondisi bertahan hidup yang ekstrem bagi delegasi Jepang di tengah badai Antartika.
Pejabat tinggi Jepang terpaksa hidup seperti pengungsi, bertarung melawan suhu beku dan fasilitas yang tidak manusiawi.

Watanabe Goro merasa ingin menangis. Ia adalah pejabat tinggi kementerian, tapi sekarang ia hidup seperti pengungsi perang.

Ia tidak bisa lari. Di luar adalah kematian putih yang membeku. Ia terjebak di dalam besi panas bersama tentara asing.

Yang membuatnya makin frustrasi, Komandan Amerika yang sombong itu bahkan tidak turun dari pesawat. Ia hanya mengantar pasukan, lalu terbang kembali ke pangkalan hangat di Amerika Selatan.

Musuh Mendekat

Dua hari berlalu dalam penderitaan itu.

Di kejauhan, konvoi mobil salju Wu Bolin perlahan mendekat.

Tak seorang pun di rombongan Wu Bolin menyadari bahwa mereka sedang berjalan masuk ke dalam mulut singa.

Saat jarak mereka masih puluhan kilometer, radar Amerika sudah berbunyi. Target terkunci.

Sebenarnya, M142 HIMARS bisa meluncurkan roket dan meledakkan Wu Bolin menjadi debu saat itu juga. Tapi, perintah Pentagon jelas: Tangkap Hidup-Hidup.

Amerika ingin tahu dua hal:

  1. Mengapa ilmuwan Jepang berkhianat?
  2. Berapa banyak musuh yang tersisa di Stasiun Showa?

Wu Bolin, yang tidak tahu dirinya sudah dibidik, mulai merasa tenang karena tidak ada pengejar selama dua hari.

Kohei Kikuchi juga terus memantau situasi lewat telepon satelit. Laporan dari Stasiun Showa (yang dikuasai boneka Wu Bolin) mengatakan semuanya aman.

“Semua normal, Tuan. Tidak ada orang asing,” lapor Kikuchi.

Wu Bolin percaya penuh. Boneka-bonekanya tidak mungkin berbohong. Ia merasa aman.

Tanpa musuh di depan, tanpa pengejar di belakang. Ia pikir jalan pulang sudah mulus.

Tapi ia salah besar. Lima kilometer di depan, moncong meriam tank 105mm sudah mengarah tepat ke kepalanya.

(Tombol Navigasi: “HALAMAN SELANJUTNYA: JEBAKAN TERBUKA & PENGKHIANATAN TERBONGKAR” -> Link ke Page 2)

« Bab 7,456