Pesona Pujaan Hati Bab 7454

Charlie Wade Si Karismatik Bahasa Indonesia, Hero Of Hearts Chapter 7454 English, Bahasa Melayu.

Bab 7454

Senjata Berat M142 dan Misteri Perubahan Sikap Pentagon

Kepala pangkalan militer AS itu tetap tenang menghadapi pertanyaan Watanabe Goro.

Dengan ekspresi yang datar dan dingin, ia menjawab, “Berdasarkan situasi saat ini, kita memang seharusnya mematuhi Perjanjian Antartika dan tidak mengirim satu pun tentara ke sana. Tetapi sekarang, situasinya telah berubah.”

Watanabe Goro merasa seperti sedang bermimpi. Ia menggosok matanya berkali-kali.

Ia tak percaya. Bukankah baru saja komandan ini bersumpah tidak akan mengirim satu peluru pun? Bagaimana mungkin dalam sekejap mata, bajingan ini sudah mengorganisir ratusan anggota Navy SEAL untuk operasi di Antartika?

Tak tahan lagi, Watanabe bertanya dengan suara bergetar.

“Apa yang telah berubah? Apakah Perdana Menteri kami telah meminta izin khusus kepada Presiden Anda?”

Kepala pangkalan itu menatapnya dengan tatapan merendahkan.

“Sejauh yang saya tahu, presiden Anda tidak memiliki pengaruh sebesar itu.”

Tanpa mempedulikan kebingungan Watanabe, komandan itu meraih walkie-talkie dan berteriak tegas.

“Kenapa M142 belum datang juga? Cepat! Kita akan terlambat!”

Ketakutan Melihat Roket Peluncur M142

Mendengar kode “M142”, wajah Watanabe Goro pucat pasi.

Sebagai pejabat Kementerian Pertahanan, ia tahu persis apa itu. M142 adalah kode untuk HIMARS (High Mobility Artillery Rocket System)—sistem peluncur roket artileri mobilitas tinggi buatan Amerika.

Ini bukan mainan. Ini adalah monster perang.

M142 sangat lincah dan mematikan. Model terbarunya mampu meluncurkan roket berpemandu presisi dengan jangkauan hingga 300 kilometer.

Sistem peluncur roket artileri M142 HIMARS milik militer Amerika Serikat.
Monster Artileri: M142 HIMARS mampu menghancurkan target sejauh 300 km dengan presisi tinggi, bahkan di suhu beku Antartika.

Yang lebih mengerikan, kendaraan ini memiliki penggerak 6×6 segala medan. Bahkan jika dijatuhkan di lapisan es Antartika, monster seberat 5 ton ini bisa melaju dengan lancar.

Watanabe membatin dengan ngeri, “Sial, apakah orang Amerika ini sudah gila?”

Tadi mereka bilang anti-kekerasan. Sekarang mereka membawa peluncur roket untuk menembaki mobil salju ilmuwan?

Ini seperti menggunakan meriam untuk membunuh nyamuk. M142 bisa menghancurkan target apa pun dari jarak ratusan kilometer dengan presisi bedah.

Detik berikutnya, sebuah kesadaran mengerikan menghantam Watanabe.

“Tunggu… apakah pasukan SEAL dan roket M142 ini disiapkan untuk menyerang tim ekspedisi ilmiah kita?”

Jepang meminta bantuan Amerika untuk menangkap para pengkhianat itu hidup-hidup. Mengirim pasukan khusus masih masuk akal untuk tujuan itu.

Tetapi mengirim peluncur roket artileri? Itu bukan untuk menangkap. Itu untuk memusnahkan.

Ancaman di Dalam Pesawat

Keringat dingin mengucur di dahi Watanabe. Ia memberanikan diri menyela.

“Komandan, rencana kita adalah persuasi. Prioritasnya adalah penangkapan, bukan penyerangan! Dengan daya tembak sebesar itu, jika terjadi salah tembak, konsekuensinya akan sangat mengerikan…”

Kepala pangkalan militer AS memotong ucapannya dengan dingin.

“Anda tidak berhak mempertanyakan atau mengganggu operasi militer Amerika Serikat.”

Watanabe hampir menangis, “Tapi mereka hanyalah ilmuwan kami yang dicurigai! Kita tidak bisa begitu saja membunuh mereka!”

Komandan itu menatapnya tajam dan memberikan ultimatum.

“Dengar. Misi awal kami memang mengangkut Anda. Tapi sekarang, misi kami adalah mengangkut tentara dan senjata ke Antartika. Kami hanya memberi tumpangan pada Anda.”

Suaranya merendah penuh ancaman. “Jadi, jika Anda masih ingin naik pesawat ini, sebaiknya Anda diam. Atau silakan turun sekarang juga!”

Suasana tegang di dalam pesawat angkut militer AS bersama pasukan khusus.
Watanabe Goro terpaksa diam di bawah ancaman akan diturunkan dari pesawat yang membawa pasukan tempur tersebut.

Watanabe Goro langsung diam seribu bahasa.

Ia sadar posisinya. Di sini, ia hanyalah karakter pendukung. Jika ia terus membantah, ia akan ditendang keluar dari pesawat dan misi ini akan gagal total.

Dengan perasaan dongkol dan takut, ia duduk kembali di kursi jaring pesawat kargo itu.

Gemuruh Mesin Perang

Tiba-tiba, suara gemuruh mesin berat terdengar dari luar.

Tiga unit peluncur roket M142 HIMARS melaju gagah memasuki landasan pacu, bersiap masuk ke perut pesawat angkut kedua yang baru tiba.

Watanabe Goro terbelalak. Mereka benar-benar membawa tiga unit artileri. Apakah mereka akan memulai perang dunia di Kutub Selatan?

Dan ternyata, itu baru permulaan.

Suara komandan terdengar lagi di radio: “Eselon kedua personel dan peralatan sudah siap. Mereka akan berangkat segera setelah pengiriman pertama selesai!”

Amerika Serikat ternyata sangat panik.

Mereka khawatir para peneliti Jepang yang membelot itu akan menyerang Stasiun McMurdo. Bagi AS, McMurdo bukan sekadar laboratorium es. Itu adalah pangkalan strategis yang menyimpan “sesuatu” yang sangat penting.

Mereka tidak tahu apakah rahasia itu bocor. Tapi satu hal yang pasti: Stasiun McMurdo tidak boleh disentuh.

Strategi Pentagon kini berubah total menjadi ofensif:

  1. Mengirim pasukan untuk memperkuat pertahanan McMurdo.
  2. Mengirim pasukan lain untuk memotong jalur pelarian tim Jepang.
  3. Melancarkan serangan jepit untuk menghabisi para pembelot.

Perintahnya jelas: Tembak di tempat jika ada yang mendekat secara agresif.

Saat pesawat yang membawa Goro Watanabe mulai bergerak di landasan, ia hanya bisa pasrah. Di belakangnya, pesawat kedua yang membawa roket-roket mematikan itu ikut lepas landas, membelah langit menuju selatan.

(Tombol Navigasi: “HALAMAN SELANJUTNYA: KONFRONTASI DI DEPAN STASIUN MCMURDO” -> Link ke Page 2)

« Bab 7,453 Bab 7,455 »