Si Pitung: Jawara Tanah Betawi Sejati, Bukan Sekadar Dongeng

Dengar, Nak. Kalau orang luar bilang Si Pitung itu cuma Robin Hood dari Betawi, mereka salah besar.

Robin Hood itu cuma cerita dongeng dari Eropa sana. Tapi Pitung, dia itu nyata. Dia adalah darah, keringat, dan jeritan hati masyarakat Tanah Betawi yang lama terinjak-injak oleh Kompeni.

Aku bukan mau menceritakan Pitung dari buku sejarah yang kaku. Aku mau bercerita, seperti yang diwariskan oleh kakek moyang kita, dari mulut ke mulut, di bawah atap rumbia sambil menyeruput kopi pahit.

Ini adalah kisah otentik. Kisah tentang kehormatan, ilmu kanuragan, dan mengapa kita tidak boleh melupakan siapa sebenarnya Jawara Betawi sejati.


Asal Muasal Sang Jagoan dari Rawa Belong

Si Pitung lahir bukan di lingkungan istana, apalagi di tengah kemewahan tuan tanah Belanda. Dia lahir di Rawa Belong, daerah yang dulu dikelilingi rawa dan padang rumput, dekat dengan Kebon Jeruk.

Namanya aslinya Muhammad Sa’id, tapi sejak kecil dia dipanggil Pitung, atau kadang Pituan, yang konon artinya delapan (merujuk pada jumlah anak dalam keluarga). Ini cerita versi kita, versi Jawara Tanah Betawi.

Rawa Belong di masa itu adalah daerah pinggiran yang keras. Kalau enggak punya pencak dan keberanian di dada, gampang saja jadi korban centeng atau begal yang dibayar oleh Tuan Tanah.

Pitung kecil sudah melihat ketidakadilan itu. Maka, sejak remaja, dia sudah mulai menempuh jalan yang tak banyak dipilih anak seumurannya: mencari ilmu.

Guru Sejati dan Ilmu Kanuragan

Pitung tak asal belajar pencak silat. Dia mencari guru yang benar-benar ahli, bukan sekadar jagoan pasar. Pilihannya jatuh kepada Haji Naipin di Rawa Belong.

Haji Naipin bukan cuma mengajarkan gerakan pukulan dan tendangan. Lebih dari itu, dia mengajarkan adab dan keimanan. Ilmu bela diri Betawi tak bisa lepas dari spiritualitas.

Konon, dari Haji Naipin inilah Pitung mendapat ilmu yang membuatnya sulit ditembus peluru (ilmu kebal). Ada yang bilang dia sering berpuasa, ada yang bilang dia punya jimat berupa ikat pinggang khusus.

Yang pasti, ilmunya bukan didapat dengan instan. Butuh disiplin tinggi, tirakat yang berat, dan tentu saja, izin dari Allah SWT. Itulah mengapa Pitung sangat disegani. Dia bukan hanya jagoan, dia juga santri.

Ilmu Pitung yang Sebenarnya

Pitung menguasai berbagai jurus silat dari berbagai aliran yang ada di Batavia kala itu. Tapi satu hal yang paling mematikan dari Pitung adalah kecepatan dan keahliannya dalam menyamarkan diri.

Pitung selalu tahu kapan harus muncul dan kapan harus menghilang. Kompeni selalu kesulitan menangkapnya karena Pitung sering menyamar sebagai petani, pedagang pasar, atau bahkan kuli pelabuhan.

Dia adalah bayangan yang membawa ketakutan bagi para pejabat Belanda dan Tuan Tanah serakah.


Misi Keadilan: Mengapa Pitung Merampok?

Kita harus paham konteksnya. Jakarta—atau kala itu Batavia—di abad ke-19 adalah tempat yang menyakitkan bagi pribumi. Tanah-tanah pertanian dikuasai oleh segelintir Tuan Tanah yang menjalin kongkalikong dengan Kompeni.

Rakyat kecil diperas, dipaksa membayar pajak yang mencekik, dan hidup dalam ketakutan. Jika protes, mereka akan diurus oleh centeng-centeng yang brutal.

Pitung tidak merampok untuk memperkaya diri. Dia merampok untuk menyeimbangkan keadaan.

Menggugat Tuan Tanah (Verhaal van de Landheer)

Target utama Pitung jelas: Tuan Tanah kaya dan pejabat Kompeni yang korup.

Uang hasil rampokannya dibagikan kembali kepada rakyat miskin. Ini bukan mitos, ini adalah fakta yang tertanam dalam ingatan kolektif masyarakat Rawa Belong dan sekitarnya.

Beberapa contoh yang sering diceritakan tetua:

  1. Membagi beras: Pitung sering menyerbu gudang beras Tuan Tanah yang menimbun hasil panen, lalu membagikannya kepada desa-desa yang kelaparan.
  2. Membantu biaya pernikahan: Jika ada pemuda Betawi yang ingin menikah tapi terhalang biaya mas kawin yang tinggi, Pitung sering membantu secara diam-diam.
  3. Memberi modal dagang: Dia memastikan uang yang didapat kembali ke ekonomi lokal, bukan malah masuk ke kantong Kompeni di Batavia.

Pitung adalah katarsis, pembalasan dendam yang diwakilkan oleh seorang pemuda yang berani melawan sistem. Dia membuktikan bahwa pribumi punya harga diri yang tak bisa dibeli oleh uang Kompeni.


Gejolak Batavia: Kisah Para Jagoan Lain

Tanah Betawi tidak hanya punya Pitung. Ada banyak kisah lain yang menunjukkan betapa kerasnya kehidupan di bawah Kompeni, dan kisah-kisah ini seringkali saling bersinggungan dengan legenda Pitung.

Pitung hidup di zaman yang sama dengan tragedi dan kisah heroik lainnya. Mereka semua adalah produk dari ketidakadilan yang sama.

Si Jampang: Jawara yang Berbeda Prinsip

Selain Pitung, ada nama Si Jampang dari Marunda. Si Jampang juga jagoan, juga lihai dalam ilmu bela diri, namun reputasi dan metodenya agak berbeda dengan Pitung.

Pitung fokus pada keadilan sosial dan sering bersembunyi. Si Jampang, konon, lebih blak-blakan, dan kadang tindakannya lebih mengarah pada penegasan teritorial dan harga diri.

Meskipun demikian, kedua jagoan Betawi ini punya kode etik yang sama: tidak menyakiti rakyat jelata. Mereka sama-sama simbol perlawanan, meski cara mereka berinteraksi dengan Kompeni mungkin berbeda. Mereka berdua adalah representasi keberanian yang muncul dari budaya pencak Betawi.

Nyai Dasima: Tragedi di Jantung Kota

Pitung adalah tentang perlawanan fisik, tapi Batavia juga punya perlawanan batin dan tragedi cinta yang menyayat hati, yaitu kisah Nyai Dasima.

Nyai Dasima bukan jagoan silat, dia adalah simbol bagaimana wanita pribumi yang cantik dan kaya pun bisa hancur oleh nafsu dan sistem Kompeni yang korup.

Dia adalah gadis yang dicintai oleh tuan tanah Belanda, tapi akhirnya dibunuh dengan keji di sekitar Kali Ciliwung atas intrik dan keserakahan pribumi yang menjual diri pada Kompeni.

Kisah Dasima, Pitung, dan Jampang adalah tiga sisi mata uang yang sama. Pitung melawan penjajah secara langsung. Jampang melawan centeng secara terbuka. Dasima adalah korban paling tragis dari sistem penjajahan yang merusak moral dan keadilan.

Mereka semua adalah bagian dari mosaik besar Folklore Jakarta yang kelam namun heroik.

Ariah Manis Ancol: Penjaga Tanah Utara

Di bagian Utara Batavia, dekat laut, ada kisah tentang Ariah Manis Ancol. Ada yang bilang dia adalah arwah penasaran, ada yang bilang dia dewi laut.

Legenda ini seringkali dihubungkan dengan jagoan-jagoan laut dan pelabuhan. Meskipun tak punya kaitan langsung dengan Pitung di Rawa Belong, Ariah melengkapi mitologi bahwa Tanah Betawi dijaga oleh kekuatan spiritual.

Jika Pitung adalah pelindung daratan dari penindasan Tuan Tanah, Ariah adalah entitas yang menjaga batas-batas wilayah dari kekuatan gaib dan marabahaya laut.


Senja Kala Sang Legenda dan Rahasia Kematian

Kompeni sudah frustrasi. Sudah berkali-kali Pitung lolos dari jebakan, bahkan peluru Kompeni tak mempan menembusnya. Penangkapan Pitung menjadi prioritas utama.

Mereka tahu, kekuatan Pitung bukan hanya pada ilmu kanuragannya, tapi pada dukungan rakyat. Selama rakyat mencintai Pitung, dia akan selalu punya tempat bersembunyi.

Pengkhianatan dan Telur Ayam

Di sinilah kita masuk ke bagian paling menyedihkan: pengkhianatan. Kompeni tidak bisa menangkap Pitung dengan kekuatan fisik, mereka harus menggunakan akal licik.

Mereka menangkap guru Pitung, Haji Naipin, dan memaksanya membuka rahasia.

Rahasia itu ternyata adalah pantangan: Pitung akan kehilangan ilmunya jika ia dijebak dan disentuh oleh barang-barang tertentu yang selama ini menjadi pantangannya, seperti telur ayam mentah atau jengkol yang sudah dimasak dengan bumbu khusus.

Versi lain menyebutkan bahwa Kompeni harus menemukan bagian tubuh Pitung yang tidak terlindungi, konon berada di bagian kemaluan atau lubang pusarnya.

Akhirnya, dengan bantuan seorang centeng yang berkhianat, Pitung dijebak di sebuah rumah.

Peluru dan Kuning Telur

Saat Pitung berhasil dilumpuhkan dengan cara-cara kotor tersebut, Kompeni tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka menembaknya, namun Pitung masih belum tewas.

Konon, mereka harus menghancurkan jimatnya—ikat pinggang—dan memadukan proyektil dengan kuning telur atau bahkan emas. Hanya dengan cara itu, peluru tersebut bisa menembus kulitnya yang sakti.

Pitung gugur. Dia jatuh bukan karena kalah bertarung secara adil, melainkan karena pengkhianatan dan tipu daya.

Kematiannya di usia muda menjadi peringatan keras bagi pribumi yang berani melawan Kompeni. Mereka ingin rakyat tahu bahwa bahkan Jawara kebal pun bisa dihancurkan.


Kesimpulan: Warisan Abadi Si Pitung

Meskipun Pitung sudah tiada, kisah tentangnya terus hidup. Dia bukan hanya tokoh sejarah, dia adalah ide. Ide bahwa rakyat kecil punya hak untuk melawan ketidakadilan, meskipun risikonya adalah nyawa.

Si Pitung: Jawara Tanah Betawi adalah representasi otentik dari semangat perlawanan. Setiap kali kita mendengar nama Pitung, kita diingatkan tentang harga sebuah kemerdekaan dan keberanian untuk melawan penindasan.

Jadi, Nak, jangan pernah lupakan cerita ini. Karena selama kita mengingat Pitung, selama itu pula semangat Jagoan Betawi akan terus mengalir dalam darah kita. (Total kata: 1205)