SENYUM Manisku Adalah RACUN! Aku BUKAN Menantu, Tapi Maut! (Lanjutan Hal. 2)

Lanjutan Cerita: Anda sedang membaca halaman 2. Silakan lanjutkan membaca di bawah ini...

Rina tersenyum puas. Rasa mual di perutnya perlahan hilang. Hari ini, penderitaannya akan berakhir.

Ibu Siti terbaring lemah di ranjang. Wajahnya pucat, napasnya terdengar berat. Sudah dua bulan Rina menjalankan rencana ini. Memberikan racun dosis rendah, setiap hari, disamarkan dalam makanan kesukaan Ibu mertuanya.

“Minum, Bu,” kata Rina lembut, membantu Ibu Siti duduk.

Di tangan Rina ada segelas besar teh herbal, hangat. Tapi Rina tahu, itu bukan teh herbal biasa. Itu adalah dosis terakhir. Dosis pembunuh.

“Terima kasih, Rina,” suara Ibu Siti terdengar serak dan sangat pelan, nyaris berbisik. “Kamu menantu terbaik yang Ibu punya.”

Rina merasakan sensasi dingin menjalar di punggungnya. Pujian itu terasa seperti duri.

“Iya, Bu. Tentu saja. Demi kebaikan Ibu,” jawab Rina, mengulas senyum palsu paling sempurna yang ia miliki.

Ibu Siti menerima gelas itu. Tangannya gemetar.

“Aku siapkan dokumennya, Bu,” kata Rina, meletakkan map di meja samping ranjang. “Setelah ini, Ibu harus tanda tangan surat hak waris, ya. Biar Dani tidak kesulitan mengurus aset-aset kalau terjadi apa-apa.”

Ibu Siti menatap map itu, lalu menatap Rina. Matanya sayu, penuh kesedihan.

“Tanda tangan apa, Rina?”

“Hanya pengalihan aset, Bu. Demi keamanan. Dani menyetujuinya, kok.”

Rina berbohong. Dani, suaminya, tidak tahu apa-apa. Dani hanya tahu ibunya sakit parah karena usia.

Ibu Siti mengangkat gelas teh ke bibirnya. Rina menahan napas. Ini dia. Hitungan mundur dimulai.

Satu tegukan. Dua tegukan.

Rina berdeham. “Cepat diminum, Bu. Biar Ibu bisa tidur nyenyak.”

“Tidur nyenyak?” Ibu Siti mengulang kata-kata itu.

Dia meletakkan gelas yang baru diminum setengahnya.

“Iya, Bu. Tidur yang sangat nyenyak.” Rina mendorong map itu lebih dekat. “Sekarang tanda tangan dulu, Bu. Lalu Ibu istirahat total.”

Ibu Siti mengambil pena yang disodorkan Rina. Tangan tuanya bergetar di atas kertas.

“Aku harap kamu tidak menyesali ini, Rina,” ujar Ibu Siti.

Rina tertawa kecil, penuh kemenangan. “Menyesal? Kenapa harus menyesal? Aku hanya membantu Ibu Siti agar tidak kesakitan lagi.”

“Oh, kamu pikir aku kesakitan karena usia?” Ibu Siti tiba-tiba mengangkat pandangan.

Mata sayu itu menghilang. Digantikan sepasang mata tajam, dingin, dan penuh perhitungan.

Rina terkejut. Tubuhnya menegang. Nada bicara Ibu Siti berubah total. Tidak ada lagi kelemahan di sana.

“Rina. Kamu sudah keterlaluan.”

“Apa maksud Ibu?” Rina mencoba mempertahankan ekspresi polos. “Ibu demam, bicaranya melantur.”

“Melantur? Aku tidak demam, Nak.” Ibu Siti melempar pena itu ke ranjang. Suaranya kini keras dan jelas. “Aku hanya berpura-pura sakit.”

Jantung Rina serasa berhenti berdetak.

“Berpura-pura?” Rina tertawa canggung. “Ibu bercanda, kan? Ibu hampir tidak bisa jalan selama seminggu ini!”

“Memang itu rencanamu, bukan? Membuatku terlihat lemah, agar semua orang percaya aku mati wajar karena komplikasi.” Ibu Siti mendorong selimutnya ke samping dan turun dari ranjang.

Rina mundur selangkah. Kakinya lemas. Ibu Siti berdiri tegak. Tidak ada gemetar, tidak ada kepucatan berlebihan.

“Aku… aku tidak mengerti, Bu.”

“Oh, kamu sangat mengerti, Rina.” Ibu Siti berjalan pelan menuju lemari pakaian. Gerakannya mantap dan tenang.

“Aku tahu sejak lama. Sejak sup ayam yang kamu buat tiga bulan lalu. Rasanya aneh. Ada pahit di akhir, padahal kamu menambahkan banyak gula.”

Rina menggeleng cepat. “Ibu salah minum obat mungkin! Jangan menuduh yang tidak-tidak!”

“Aku tidak menuduh. Aku menyatakan fakta.”

Ibu Siti membuka pintu lemari. Rina melihat di dalamnya ada sebuah koper kecil, terkunci.

“Kamu pikir aku bodoh, Rina? Kamu pikir aku naif dan pikun seperti yang kamu ceritakan pada teman-teman arisanmu?”

Rina diam. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.

“Kamu selalu bilang aku menantu terbaik,” Rina berbisik. “Kamu pura-pura baik padaku!”

“Dan kamu pura-pura baik padaku, Nak. Bedanya, pura-puraku menyelamatkan nyawaku. Pura-puramu malah membuatmu harus berurusan dengan polisi.”

Ibu Siti mengeluarkan koper kecil itu. Dia meletakkannya di atas meja kerja.

“Apa isinya?” tanya Rina, suaranya tercekat.

“Warisan.” Ibu Siti tersenyum kecil. Senyum yang membuat Rina merinding. “Warisan yang akan mengantarkanmu ke penjara.”

Ibu Siti membuka koper itu. Rina melihat puluhan bungkus plastik klip kecil. Semuanya berisi sisa makanan. Ada remahan kue, sisa teh di botol kecil, sendok bekas bubur, dan yang paling membuat Rina pucat, gelas teh yang baru ia berikan tadi.

“Ini… ini semua…”

“Ya. Ini semua adalah makanan yang kamu sajikan untukku. Yang seharusnya aku makan dan membuatku perlahan-lahan mati.” Ibu Siti menunjuk gelas teh. “Terima kasih untuk dosis terakhir yang sangat kuat itu. Ini akan sangat membantu di persidangan.”

Rina mulai panik. Rasa percaya diri yang tadi membumbung tinggi kini hancur lebur.

“Ibu… Ibu gila! Ini hanya sisa makanan! Ibu menyimpannya kenapa?”

“Aku menyimpannya karena aku mencium bau racun di dalamnya, Rina.” Ibu Siti memegang sebuah botol kecil. “Kamu terlalu ceroboh. Aku mengenali aroma racun yang kamu gunakan. Itu racun tikus dosis rendah, dicampur agar tidak terdeteksi instan.”

“Tidak! Aku tidak pernah! Ibu hanya berhalusinasi!” Rina berteriak.

“Jangan berbohong lagi, Rina. Aku tahu kamu merekam setiap interaksi kita, berharap mendapatkan pengakuan palsu untuk membuktikan aku pikun.” Ibu Siti mencondongkan tubuhnya. “Aku juga merekamnya, Nak. Setiap racun, setiap dosis, setiap kata manismu yang mengandung ular.”

Rina merasakan dunianya runtuh. Dia menjuluki dirinya malaikat maut. Tapi ternyata, dia hanya mangsa yang sedang dijebak oleh pemburu ulung.

“Kenapa? Kenapa Ibu tidak lapor dari awal?!” Rina berteriak histeris.

“Sebab bukti yang kuat butuh waktu. Percobaan pembunuhan terencana harus dibuktikan dengan motif dan serangkaian tindakan. Jika aku lapor setelah sup pertama, kamu akan bebas dengan alasan keracunan makanan biasa. Aku butuh bukti nyata bahwa kamu konsisten mencoba membunuhku demi warisan.”

Ibu Siti menatap Rina dengan kasihan. “Aku harus berpura-pura sakit dan sekarat agar kamu semakin percaya diri dan ceroboh. Dan kamu memang ceroboh. Dosis hari ini membuktikan keserakahanmu.”

Rina melihat ke belakang Ibu Siti. Pintu kamar tertutup rapat. Dia harus lari.

“Aku akan panggil Dani sekarang!” Rina mencari ponselnya.

“Jangan repot-repot.”

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka.

Dani berdiri di ambang pintu, wajahnya memerah, menatap Rina dengan tatapan penuh rasa jijik. Di belakang Dani, berdiri dua orang pria berpakaian sipil, dan seorang wanita dengan seragam polisi.

“Dani! Sayang! Mereka siapa?” Rina bersembunyi di belakang kursi.

Dani tidak menjawab Rina. Dia hanya menatap ibunya.

“Ibu, maafkan aku,” kata Dani, suaranya bergetar menahan tangis. “Aku seharusnya percaya Ibu sejak awal.”

Rina menoleh ke Dani, bingung. “Apa maksudmu, Dani? Kamu tahu soal ini?”

“Tentu saja aku tahu, Rina,” kata Ibu Siti. “Aku bukan hanya mengumpulkan sisa makanan. Aku juga mengumpulkan kesaksian dari anakku sendiri.”

Dani melangkah maju. “Aku dipanggil Ibu sebulan lalu. Ibu memintaku memasang kamera tersembunyi di kamar ini dan di dapur.”

Rina memegang kepalanya. “Tidak! Kamu bohong! Dani mencintaiku!”

“Aku mencintaimu, Rina. Dulu,” kata Dani, nadanya datar. “Tapi aku lebih mencintai Ibu. Dan ketika Ibu mengirimiku rekaman saat kamu sengaja menjatuhkan obat tidur ke kopi Ibu dan mengatakan, ‘Tinggal sedikit lagi Ibu mati,’ aku tahu kamu adalah iblis.”

Rina menjerit, menolak kenyataan. “Aku melakukan ini untuk kita! Kita miskin, Dani! Ibu punya segalanya!”

“Kami tidak miskin! Kami hanya harus bekerja keras!” teriak Dani. “Uang bukan alasan untuk mencoba membunuh ibuku sendiri!”

Polisi wanita itu melangkah maju. “Nyonya Rina, Anda ditahan atas tuduhan percobaan pembunuhan terencana terhadap Nyonya Siti, dan upaya penggelapan aset.”

Rina menunjuk Ibu Siti dengan jari gemetar. “Dia menjebakku! Dia licik! Dia bukan orang polos!”

Ibu Siti tersenyum getir. “Aku tidak pernah bilang aku polos, Rina. Aku hanya diam. Keheningan seorang ibu bisa jadi senjata paling mematikan. Aku bukan menantumu. Aku malaikat maut yang akan mengantar rencana jahatmu ke liang lahat.”

Dua pria sipil itu mendekati Rina. Rina mencoba melawan, menendang, dan berteriak-teriak.

“Aku tidak bersalah! Ibu Siti berpura-pura! Dia mau harta sendiri!”

“Nyonya Rina,” kata polisi itu dengan tenang. “Bukti fisik dan rekaman video sudah cukup kuat. Termasuk hasil lab awal yang Ibu Siti serahkan semalam.”

Rina ambruk ke lantai. Air mata mengalir deras. Dia menatap Dani dengan tatapan memohon.

“Dani, tolong! Jangan lakukan ini! Kita bisa bagi warisannya! Kita bisa pura-pura Ibu kecelakaan!”

Dani menutup mata. Rasa sakit dan malu menguasai dirinya. “Cukup, Rina. Jangan bicara lagi. Kamu sudah menghancurkan segalanya.”

Polisi memborgol Rina. Ketika mereka menggiringnya keluar, Rina sempat menoleh ke Ibu Siti.

“Aku akan membalasmu, Ibu Siti! Tunggu saja!” ancam Rina.

Ibu Siti hanya menatapnya lurus. “Aku akan menunggumu, Rina. Di pengadilan.”


Satu jam kemudian, keheningan menyelimuti rumah itu. Bau racun dan ketegangan telah digantikan oleh aroma teh melati yang menenangkan.

Ibu Siti duduk di sofa ruang tamu, ditemani Dani. Dia terlihat pulih sepenuhnya, tidak ada lagi jejak-jejak sakit yang ia pamerkan selama dua bulan terakhir.

“Ibu benar-benar ahli akting,” ujar Dani, mengusap air matanya.

“Anakku, aku harus melakukannya,” jawab Ibu Siti, memegang tangan Dani. “Saat kamu menjadi target, naluri seorang ibu akan bangkit. Aku tidak hanya melindungi hartaku. Aku melindungimu dari menikahi pembunuh.”

“Kenapa Ibu harus minum sedikit racun itu setiap kali? Kenapa tidak dibuang saja?” tanya Dani.

“Aku harus menunjukkan gejala, Nak. Jika aku langsung sehat, dia akan curiga dan menghilangkan semua jejak. Racun tikus dosis rendah tidak akan membunuhku instan, hanya membuatku mual, lemas, dan kehilangan berat badan. Tapi aku selalu punya penawar alami, ramuan tradisional, yang aku minum setiap malam saat dia tidur. Aku hanya perlu terlihat sakit di pagi hari.”

Dani menggelengkan kepala. “Ibu sangat berani. Aku tidak akan sanggup hidup dengan dia selama dua bulan, tahu dia berusaha membunuhku.”

“Aku hidup dengan menelan racun emosionalnya selama bertahun-tahun. Racun fisik ini hanya tambahan.” Ibu Siti tersenyum lemah. “Kita sudah selesai, Nak. Rina tidak akan kembali.”

“Aku harus menceraikannya, Bu. Aku harus mengurus pengadilan ini. Aku malu.”

“Jangan malu, Nak. Kamu diselamatkan. Kamu adalah korban manipulasi, sama seperti Ibu. Kita akan menghadapi ini bersama.”

Pengacara Ibu Siti, yang baru saja meninggalkan rumah, telah meyakinkan bahwa dengan rekaman video, sisa makanan yang terawetkan (yang siap diuji lab), dan dosis terakhir yang fatal, Rina tidak punya celah untuk lari.


Tiga Bulan Kemudian.

Kasus Rina menjadi berita utama. Media sosial ramai membicarakan menantu yang berpura-pura baik padahal merencanakan pembunuhan untuk warisan. Kisah Rina menjadi viral, persis seperti skrip video yang ia impikan, namun ia menjadi tokoh antagonisnya.

Di ruang sidang, Rina tampak kurus dan stres. Dia mencoba membela diri dengan menuduh Ibu Siti berkonspirasi dan mendramatisir.

Namun, semua bukti bicara sebaliknya.

Puncak persidangan adalah saat hasil lab dari sisa teh herbal terakhir dibacakan. Kandungan sianida dan zat berbahaya lainnya terdeteksi dalam dosis yang dapat menyebabkan kematian dalam waktu satu jam setelah konsumsi.

Rina menjerit histeris ketika hakim menjatuhkan vonis.

“Atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana dan penggelapan, Nyonya Rina dijatuhi hukuman 18 tahun penjara.”

Saat digiring keluar, Rina menoleh, mencari Ibu Siti.

Ibu Siti hadir, duduk di barisan depan. Dia tidak lagi menunjukkan kesedihan atau kemarahan. Hanya ada ketenangan.

“Ini belum berakhir, Ibu Siti!” teriak Rina dari kejauhan.

Ibu Siti hanya mengangkat bahu, membalas tatapan Rina. “Sudah berakhir bagimu, Rina. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu tanam.”


Satu Tahun Kemudian.

Ibu Siti benar-benar sehat. Dia tidak hanya pulih, dia menjadi inspirasi.

Dia memutuskan untuk menggunakan warisan itu, bukan untuk disimpan, melainkan untuk mendirikan yayasan sosial bagi para lansia yang menderita isolasi dan kekerasan emosional dari keluarga.

Rumah yang dulu menjadi saksi bisu upaya pembunuhan kini dipenuhi tawa dan kegiatan amal.

Dani, setelah resmi bercerai, fokus pada pekerjaannya dan membantu ibunya mengelola yayasan. Dia belajar dari kesalahan masa lalunya, menyadari bahwa ketamakan bisa menghancurkan jiwa seseorang.

Suatu sore, Dani duduk bersama ibunya di teras.

“Bu, aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih. Ibu menyelamatkan hidupku, bukan hanya nyawa Ibu sendiri.”

Ibu Siti mengusap rambut Dani. “Kebahagiaan sejati, Nak, bukan terletak pada seberapa banyak yang kita miliki. Tapi pada kedamaian yang kita rasakan. Rina mencari kebahagiaan dengan cara yang salah.”

“Rina di penjara, Bu. Dia sering sakit-sakitan katanya.”

“Karma bekerja, Nak. Dia meracuni dirinya sendiri sebelum meracunimu.”

“Lalu, Ibu bagaimana?” tanya Dani. “Ibu tidak mencari pendamping baru? Ibu terlihat sangat sehat sekarang.”

Ibu Siti tertawa. Tawa yang tulus, tanpa beban, sangat berbeda dengan tawa paksaan yang dia tunjukkan setahun lalu.

“Aku sudah mendapatkan kebahagiaanku. Anakku kembali padaku. Aku punya pekerjaan yang berguna. Dan yang paling penting,” Ibu Siti menatap langit senja, “Aku membuktikan bahwa kamu tidak bisa menilai sebuah buku dari sampulnya.”

“Mereka mengira aku polos dan naif,” kata Ibu Siti, suaranya kini terdengar seperti narator. “Mereka mengira aku hanyalah target mudah yang menunggu dirampas. Tapi mereka lupa, di balik keheningan dan kelembutan, terkadang ada malaikat maut yang bertugas membersihkan racun.”

“Rina menginginkan warisan? Dia mendapatkannya,” lanjut Ibu Siti. “Dia mendapat warisan yang dia berikan sendiri: 18 tahun di balik jeruji besi. Itu adalah akhir yang adil untuk semua kepura-puraannya.”

Angin berhembus pelan. Ibu Siti dan Dani menikmati sisa senja, damai, setelah badai besar yang hampir merenggut segalanya.

TAMAT.