=== HALAMAN 2 ===
Pengambilalihan Paksa dan Pesan Kematian
Frustrasi dengan kebungkaman para tahanan, Militer AS mengambil langkah drastis.
Pasukan elite Navy SEAL mulai berkumpul di landasan pacu McMurdo. Pesawat angkut militer disiapkan.
Tujuan mereka jelas: Menyerbu Stasiun Penelitian Showa milik Jepang.
Melihat persiapan perang itu, Goro Watanabe panik. Ia berlari menghampiri Komandan AS.
“Saya ikut!” teriak Watanabe. “Saya ingin ikut ke Stasiun Showa untuk mengamankan aset negara kami!”
Komandan Amerika menatapnya dingin dan menggeleng.
“Permintaan ditolak. Mulai saat ini, Militer AS mengambil kendali penuh atas insiden ini.”
“Anda dilarang ikut campur. Tetaplah diam di McMurdo,” perintah Komandan itu tegas.
Watanabe meledak marah. “Mengapa?! Ini urusan Jepang! Itu stasiun kami, staf kami, wilayah kami! Mengapa kami tidak boleh masuk?!”
Komandan AS tersenyum sinis.
“Karena kau sendiri yang meminta bantuan kami,” jawabnya tajam.
“Kami sudah mengirim pesawat, tank, dan pasukan khusus. Biayanya mahal. Jadi wajar kami yang ambil alih. Bersyukurlah kami tidak membuangmu langsung ke Amerika Selatan!”
Watanabe hampir menangis karena frustrasi.
Ia diperlakukan seperti imigran ilegal, bukan sebagai sekutu diplomatik. Sikap Amerika sangat otoriter dan merendahkan.
Protes yang Terlambat
Watanabe segera menelepon atasannya di Tokyo melalui telepon satelit.
Mendengar laporan itu, pejabat Tokyo murka. Harga diri bangsa Jepang diinjak-injak.
“Ini keterlaluan!” teriak atasan di telepon. “Amerika Serikat sudah melampaui batas! Saya akan ajukan protes keras ke Kabinet dan Kementerian Luar Negeri sekarang juga!”
“Tahan mereka, Watanabe! Jangan biarkan mereka mengambil alih stasiun kita!”
“Saya tidak bisa, Pak!” suara Watanabe bergetar. “Mereka bersenjata lengkap. Pasukan Marinir sudah siap berangkat. Saya tidak punya kuasa apa-apa di sini!”
“Tunggu kabar dari saya!” tutup atasan itu.
Watanabe menutup telepon dengan tangan gemetar. Ia berharap diplomasi tingkat tinggi bisa menghentikan arogansi Amerika.
Namun, takdir berkata lain.
Baru saja ia menurunkan telepon, teriakan panik terdengar dari arah sel isolasi.

Seorang tentara Amerika berlari keluar sambil berteriak dalam bahasa Inggris.
“MEDIC! PANGGIL DOKTER!”
Watanabe menoleh kaget.
“KIKUCHI KOHEI TELAH GANTUNG DIRI!”
Watanabe mematung. Saksi kunci sekaligus kambing hitam utama kasus ini telah tewas.
Sesuai perintah terakhir Wu Bolin, Kikuchi telah membawa rahasia itu ke liang kubur, meninggalkan Amerika dan Jepang dalam kebingungan abadi.