Charlie Wade Si Karismatik Bahasa Indonesia, Hero Of Hearts Chapter 7460 English, Bahasa Melayu.
Bab 7460
=== HALAMAN 1 ===
Hibernasi di Bawah Es Abadi: Wu Bolin Menyegel Diri
Wu Bolin terus berlari menembus malam kutub yang mematikan.
Meskipun suhu minus puluhan derajat tidak membunuhnya seketika, berlari dengan kecepatan tinggi di lingkungan ekstrem ini menguras energi spiritualnya dengan sangat cepat.
Sebenarnya, ia bisa saja berhenti setelah beberapa puluh kilometer.
Namun, ketakutan akan senjata militer Amerika menghantuinya. Bayangan rudal dan meriam tank membuatnya tidak berani mengambil risiko.
Ia berlari hampir dua ratus kilometer tanpa henti, menjauh dari peradaban, menuju titik buta di peta di mana bahkan penguin pun tidak terlihat.
Di sanalah ia berhenti.
Tanpa alat gali, Wu Bolin menggunakan energi pedangnya (Qi). Ia menebas es yang keras itu, menciptakan lubang vertikal berdiameter satu meter dengan kedalaman tiga puluh meter ke bawah.
Ia bekerja cepat dan rapi. Semua pecahan es ia hancurkan menjadi butiran debu salju, lalu disebar agar menyatu dengan lingkungan sekitar tanpa jejak.
Kepompong Es
Setelah gua selesai, Wu Bolin melompat masuk ke dasar lubang.
Untuk menyembunyikan jejak sepenuhnya, ia menggunakan sisa energi spiritualnya untuk mengangkat air dan es cair ke mulut gua.
Suhu udara luar yang mencapai minus 60 derajat Celcius bekerja instan. Air itu membeku dalam hitungan detik, menutup rapat pintu masuk gua.
Wu Bolin kini terkubur hidup-hidup. Seperti ulat sutra yang menyegel dirinya dalam kepompong es yang tak tertembus.
Pikirannya sederhana: Tunggu sampai musim panas.
Ia harus menyerah pada ambisi penjelajahannya tahun ini. Jika memaksakan diri dengan sisa energi yang ada, ia akan mati konyol di padang es ini.
Ini adalah gaya bertahan hidup Wu Bolin: Lebih baik menyerah di tengah jalan daripada mati tanpa perhitungan.
Di dasar gua sedalam tiga puluh meter itu, Wu Bolin duduk bersila.
Ia mengatur napas, memperlambat detak jantung, dan memasuki keadaan meditasi dalam (Samadhi).
Dalam kondisi ini, ia tidak butuh makan. Ia bahkan tidak butuh bernapas.
Tubuhnya masuk ke mode hibernasi total. Tanpa peralatan sonar canggih yang menyisir setiap inci es, militer AS tidak akan pernah menemukannya.
Sebelum menutup matanya rapat-rapat, Wu Bolin sempat menatap ke atas.
Meskipun terhalang es setebal 30 meter, cahaya Aurora Borealis yang menari di langit masih bisa menembus samar-samar. Cahaya itu membias indah di dalam struktur es, menciptakan suasana mimpi yang magis.

“Jangan tidur terlalu lelap,” batinnya mengingatkan diri sendiri.
“Bangunlah sesekali. Jangan sampai kau melewatkan musim panas dan terkubur di sini selamanya.”
Dan dengan itu, Wu Bolin menghilang dari dunia.
…
Interogasi di McMurdo
Sementara tuannya tidur tenang, Kohei Kikuchi menghadapi neraka duniawi.
Mereka tidak dibawa pulang ke stasiun Jepang. Mereka langsung diangkut ke kandang singa: Stasiun Penelitian McMurdo milik Amerika Serikat.
Di sana, Kikuchi dan timnya diisolasi total.
Goro Watanabe, pejabat tinggi Jepang itu, bahkan dilarang mendekati ruang interogasi. Ia hanya bisa mondar-mandir di luar seperti orang asing yang tidak berguna.
Di dalam ruang interogasi yang dingin, perwira intelijen AS mengajukan dua pertanyaan inti:
- Mengapa kalian menyembunyikan operasi ini dari pemerintah Jepang sendiri?
- Apa yang sebenarnya kalian cari di Antartika dengan tim skala besar ini?
Kikuchi, sesuai perintah terakhir tuannya, mengambil alih semua kesalahan.
“Semua orang hanya menuruti perintahku,” jawab Kikuchi tenang. “Akulah otak di balik semua ini.”
“Apa yang kau cari?” desak perwira AS.
“Emas,” jawab Kikuchi datar. “Kami mencari tambang emas raksasa.”
Kebohongan yang Menghina
Mendengar jawaban itu, perwira militer AS merasa dihina.
“Emas?” tanyanya sinis. “Kau pikir kami bodoh?”
Logika militer AS langsung mematahkan kebohongan itu.
Pertama, menambang emas di bawah lapisan es ribuan meter biayanya jauh lebih mahal daripada harga emas itu sendiri.
Kedua, peralatan tim Jepang tidak memadai.
Berdasarkan data intelijen, bor yang dimiliki Stasiun Showa hanya mampu mencapai kedalaman 2.000 meter. Itu pun hanya untuk mengambil sampel es, bukan menembus batuan keras.
“Diameter mata bor kalian hanya 122 milimeter! Seukuran mangkuk bakso!” bentak interogator AS sambil menggebrak meja.
“Bagaimana kau bisa menambang emas dengan lubang tikus seperti itu?! Bahkan biaya bensinmu tidak akan tertutup!”

Militer AS menyimpulkan satu hal: Kikuchi Berbohong.
Mereka yakin ada tujuan lain yang jauh lebih mengerikan atau berharga daripada sekadar emas.
Maka, penyiksaan psikologis pun dimulai.
Mereka memisahkan anggota tim lain dan menginterogasi mereka satu per satu dengan metode brutal. Namun, hasilnya nihil.
Berkat hipnotis Wu Bolin, para peneliti itu bungkam seribu bahasa. Bawah sadar mereka dikunci mati: “Kalian boleh bunuh aku, tapi aku tidak akan bicara.”
Ini membuat Amerika semakin frustrasi dan curiga.
(Tombol Navigasi: “HALAMAN SELANJUTNYA: KEMATIAN KIKUCHI DAN AMARAH JEPANG” -> Link ke Page 2)