KUTUKAN IBU! DETIK-DETIK MALIN KUNDANG DIUBAH JADI BATU (Lanjutan Hal. 2)

Lanjutan Cerita: Anda sedang membaca halaman 2. Silakan lanjutkan membaca di bawah ini...

Dengarkan baik-baik, anakku. Camkan setiap perkataan yang kuucapkan ini.

Jika pada bagian pertama kita bicara soal janji dan keberangkatan, maka pada bagian kedua ini, kita akan bicara soal pengkhianatan dan hukum karma, yang datang tidak mengenal kompromi. Ia datang bagai badai Taufan yang merobek langit.

Setelah perahu besar itu—kapal emas itu—berlabuh megah di Pelabuhan Air Manis, kabar langsung menyebar seperti api yang menyambar ilalang kering.

“Malin! Malin sudah kembali! Dia kaya raya! Kapalnya sebesar pulau!”

Penduduk berbondong-bondong menuju pantai. Mereka ingin melihat anak kampung yang dulu hanya berbekal sehelai kain kini pulang membawa kekayaan dunia.

Tapi Mandeh Rubiyah? Dia tidak peduli dengan harta. Hatinya hanya peduli dengan satu hal: Wajah anaknya. Senyumnya.


Mandeh Rubiyah berlari.

Dia berlari melintasi pasir panas. Jantungnya berdebar, berdentum keras, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Dia tidak peduli lagi rambutnya yang memutih, atau sarung tuanya yang compang-camping.

“Anakku! Malin! Anakku telah kembali!” bisiknya, air mata sudah membanjiri pipi keriputnya.

Dia melihat sosok itu. Berdiri di geladak kapal, tegap, gagah, berpakaian sutra mewah yang berkilauan ditimpa cahaya matahari. Di sampingnya, berdiri seorang wanita muda. Cantik sekali. Perhiasannya berkilauan, menunjukkan bahwa dia adalah wanita dari kalangan bangsawan tertinggi.

“Malin!” teriak Mandeh Rubiyah. Suara itu, tadinya lantang karena rindu, kini terdengar serak, dipenuhi harapan yang nyaris gila.

Dia menerobos kerumunan. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Rasa rindu itu adalah kekuatan yang melebihi badai.

Saat Mandeh Rubiyah mencapai tepi air, Malin sudah turun dari kapal. Ia menjejakkan kaki di tanah Minang setelah bertahun-tahun lamanya.

Mandeh Rubiyah langsung menerjang maju.

“Malin! Anakku! Ini Mandeh! Kau pulang, Nak! Syukurlah ya Tuhan! Kau tak melupakan Mandeh!”

Dia mencoba memeluk Malin. Dia mencoba merasakan kehangatan yang telah lama hilang itu. Tapi apa yang terjadi?

Malin mundur.

Bukan hanya mundur selangkah, tetapi Malin Kundang menghindar, seolah sentuhan Mandeh Rubiyah adalah penyakit menular yang menjijikkan.


Malin: “Siapa kau, wanita tua?”

Kata-kata itu. Kata-kata itu terdengar dingin, tajam, dan asing.

Mandeh Rubiyah terdiam. Semua penduduk yang menyaksikan juga terdiam. Seolah waktu berhenti berdetak di pesisir Air Manis.

Mandeh Rubiyah: (Gemetar) “Malin? Kau bicara apa? Ini Mandeh, Nak. Mandehmu. Ibundamu!”

Dia mengulurkan tangannya yang kasar, penuh kapalan karena bekerja keras, mencoba menyentuh pipi Malin.

Malin: (Menepis tangan itu kasar) “Jangan sentuh aku! Jubahku mahal! Kau ini pengemis dari mana? Berani-beraninya mengaku sebagai ibuku?”

Dengarkan, anakku. Camkan ini: Seorang ibu bisa menahan rasa lapar. Seorang ibu bisa menahan rasa sakit dicambuk. Tapi seorang ibu tidak akan pernah bisa menahan rasa sakit dikhianati dan dinafikan oleh darah dagingnya sendiri.

Mandeh Rubiyah memandang Malin. Tatapan matanya mulai berubah. Rindu yang tadinya membara, kini digantikan oleh api yang dingin. Api kepahitan.

Mandeh Rubiyah: “Aku tahu kau, Malin! Kau anakku! Kau tidak bisa membohongi Mandeh! Ingatkah kau, Nak? Bekas luka di betis kananmu? Luka itu akibat kau digigit anjing gila waktu kau umur tujuh tahun. Mandeh yang mengobatinya dengan air kunyit dan doa!”

Malin terdiam sesaat. Wajahnya memucat. Dia ingat luka itu. Dia ingat betul. Tapi kesombongan, anakku, kesombongan itu racun yang mematikan hati dan nurani.

Malin: (Mencoba tersenyum dingin, kembali kepada istrinya) “Dinda, lihatlah. Ternyata di tanah kelahiranku ini banyak orang gila. Mereka ingin sekali mendapatkan sedikit emas dariku, sampai-sampai mengaku sebagai ibuku.”

Dia tertawa. Tawa yang hambar, tawa yang menusuk hingga ke ulu hati Mandeh Rubiyah.

Istri Malin: (Menutup hidung, angkuh) “Sungguh memalukan, Tuan. Wanita lusuh seperti ini mana mungkin melahirkan seorang pedagang kaya raya sepertimu? Ibuku adalah bangsawan terhormat. Ibuku tidak mungkin sekotor dan sebau ikan asin ini.”


Kau dengar itu, anakku? Bau ikan asin! Bau yang menjadi saksi bisu Mandeh Rubiyah mencari nafkah bertahun-tahun demi membesarkan Malin. Bau itu, yang seharusnya dikenali Malin sebagai aroma perjuangan, kini dijadikan bahan ejekan.

Mandeh Rubiyah tidak lagi menangis. Air mata sudah kering. Yang tersisa hanyalah rasa sakit yang membeku.

Mandeh Rubiyah: “Kau berbohong, Malin. Kau tega! Setelah Mandeh tunggu kau bertahun-tahun, makan hanya dengan ubi dan berharap agar kau pulang membawa bahagia, kau malah menolakku?”

Malin: (Makin marah karena merasa dipermalukan di depan istrinya dan penduduk) “Cukup! Aku peringatkan kau, wanita tua! Jika kau tidak pergi sekarang, aku akan perintahkan budak-budakku untuk menyeretmu dan mencampakkanmu kembali ke laut! Aku tidak punya ibu seperti dirimu! Jauhkan tubuhmu yang menjijikkan ini dari kapal dan hartaku!”

Dan pada saat itulah, anakku, Malin Kundang melakukan dosa terbesar yang tak terampuni.

Malin Kundang meludah.

Ya, dia meludah. Ludahnya jatuh ke tanah, tepat di depan kaki Mandeh Rubiyah yang gemetar. Meludah di hadapan orang tua, apalagi ibu yang melahirkannya, adalah penghinaan yang melebihi seribu cambukan. Itu adalah penolakan terhadap martabat dan kemanusiaan.


Saat ludah itu jatuh, Mandeh Rubiyah mengangkat wajahnya.

Wajahnya tenang. Terlalu tenang, anakku. Itu adalah ketenangan sebelum badai yang paling dahsyat.

Dia menarik napas panjang. Dia tidak membalas lagi dengan kata-kata cinta. Dia tidak memohon lagi dengan air mata.

Kali ini, dia memanggil. Dia memanggil Langit. Dia memanggil Bumi. Dia memanggil seluruh kekuatan yang ada dalam Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Mandeh Rubiyah: (Suaranya kini menggelegar, bukan lagi suara ibu yang merindukan, melainkan suara Hakim dari alam semesta) “Oh, Tuhan Yang Maha Kuasa! Jika dia bukan Malin, anak yang kukandung sembilan bulan, anak yang kususuhi, anak yang kurawat hingga besar, maka biarlah ia pergi dengan kekayaannya!”

Dia berhenti sejenak. Angin di pantai mulai berdesir kencang. Langit yang tadinya cerah, perlahan-lahan berubah warna menjadi kelabu kehitaman.

Mandeh Rubiyah: “Tetapi, jika dia benar-benar Malin Kundang, anakku! Anak yang hari ini telah menolak ibunya sendiri demi kemewahan dunia dan kesombongan tak bertepi…”

Jari Mandeh Rubiyah menunjuk lurus, telunjuk itu diarahkan tepat ke wajah Malin Kundang.

Mandeh Rubiyah: “Maka Aku Bersumpah! Aku bersumpah demi langit yang menaungi, dan bumi yang dipijak! Biarlah dia menerima kutukan! Biarlah dia berubah menjadi batu! Batu yang akan menjadi pelajaran, menjadi saksi, sampai akhir zaman! Agar setiap anak Minang tahu, bahwa durhaka kepada ibu, adalah durhaka kepada Tuhan!”


Begitu kalimat terakhir itu terucap, anakku, alam segera menjawab.

Bukan besok. Bukan lusa. Tapi saat itu juga.

Langit hitam menunduk. Tiba-tiba, ombak yang tadinya tenang, menggulung tinggi, setinggi atap rumah. Angin menderu, merobek layar kapal Malin yang gagah.

Kilat menyambar. Suara petir membelah gendang telinga.

Malin Kundang panik. Istrinya berteriak histeris, perhiasan emasnya terlepas dan hilang ditelan pasir.

Malin: (Berusaha lari ke kapal) “Badai! Badai datang! Ayo kita pergi!”

Tapi dia tidak bisa bergerak. Kakinya terasa berat. Sangat berat.

Malin: “Kakiku! Kenapa kakiku? Pengawal! Tolong aku!”

Malin mencoba menggerakkan jari-jarinya. Tapi jari-jarinya kaku, dingin. Perlahan-lahan, warna kulitnya berubah, menjadi kelabu, lalu menghitam.

Rasa takut yang luar biasa menyergapnya. Dia menoleh ke arah Mandeh Rubiyah yang berdiri tegak, tak bergeming oleh badai. Matanya memancarkan rasa sakit yang tak terlukiskan, namun juga kekuatan kosmis.

Malin: “Mandeh! Mandeh! Ampuni aku! Aku anakmu! Aku minta ampun!”

Penyesalan itu datang. Tapi anakku, penyesalan yang terlambat, hanyalah hiasan dari sebuah penderitaan.

Malin berteriak sekuat tenaga. Tubuhnya kini sudah menjadi separuh batu. Dia merasakan kulitnya mengeras, darahnya membeku. Dia berusaha merangkak, meraih kaki Mandeh Rubiyah.

Malin: “Ibu! Jangan! Jangan biarkan ini terjadi! Aku janji akan memuliakanmu! Aku janji!”

Terlambat.

Ombak besar menghantam kapal megah itu, menghancurkannya berkeping-keping, menenggelamkan semua harta, semua pelayan, dan istrinya yang angkuh. Semuanya hilang ditelan pusaran air.

Kilat terakhir menyambar tepat di atas kepala Malin.

Dan kemudian, yang terdengar hanyalah suara gemuruh yang amat dahsyat.

Ketika badai itu reda, hanya dalam hitungan menit—secepat kemarahan Tuhan—matahari kembali bersinar.

Di pantai yang tadinya ramai, kini hanya ada puing-puing kayu kapal. Dan di sana, teronggok sebuah batu.

Batu yang sangat mirip dengan tubuh manusia. Posisi batu itu tertelungkup, seolah sedang bersujud. Di antara celah-celah batu itu, masih terlihat seperti wajah yang memelas, mata yang menampakkan penyesalan.

Itulah Malin Kundang.


Penduduk desa tercengang. Mereka melihat karma yang terwujud di depan mata mereka sendiri. Mereka melihat betapa dahsyatnya kekuatan doa seorang ibu yang teraniaya.

Bagaimana dengan Mandeh Rubiyah?

Dia tidak menari kegirangan. Dia tidak tertawa puas.

Mandeh Rubiyah hanya berjalan perlahan mendekati batu itu. Dia menyentuh punggung batu yang dingin, yang dulunya adalah punggung anaknya.

Dia tidak lagi menangis dengan suara. Dia menangis dalam hati.

Mandeh Rubiyah: (Sambil mengelus batu itu) “Nak, kau sudah Mandeh maafkan. Tapi kutukan ini, ia datang dari kehendak yang lebih besar. Jadilah kau pengingat, Nak. Jadilah kau penanda.”

Mandeh Rubiyah tidak pernah meninggalkan pantai itu lagi. Dia duduk di sana, di gubuknya yang reot, memandang batu Malin Kundang. Dia tidak peduli lagi dengan makan atau minum.

Dengarkan ini baik-baik, anakku: Sampai akhirnya, Mandeh Rubiyah pun menghilang. Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Mungkin dia menyatu dengan angin laut, mungkin dia menjadi buih ombak, atau mungkin rohnya kembali ke pangkuan Illahi, setelah tuntas menjalankan tugasnya sebagai ibu dan sebagai penegak keadilan moral.

Maka, anakku, berhati-hatilah.

Di Minangkabau ini, kita dijaga oleh Adat yang kuat. Kita punya pepatah: “Hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang jua.” Tapi Malin Kundang, ia hancur jasadnya menjadi batu, dan keburukannya dikenang sepanjang zaman.

Kita ingat kisah Siti Nurbaya yang terpaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya, namun ia tetap mempertahankan martabatnya dan tak durhaka pada orang tua. Kita ingat Sabai Nan Aluih yang berjuang dengan gagah demi kehormatan keluarganya.

Malin? Ia memilih jalan paling gelap. Ia memilih menukar darah dan air susu ibunya dengan sebongkah kesombongan.

Ingatlah, setiap kali ombak besar memecah di Pantai Air Manis, memercikkan air ke Batu Malin Kundang, itu adalah air mata Mandeh Rubiyah yang tak pernah kering.

Itu adalah pengingat. Jangan pernah durhaka. Jangan pernah lupakan akar kita. Karena jika kau lupa, nasibmu akan sama dengan Malin Kundang. Keras, dingin, dan sendiri selamanya.

Camkan itu, anakku. Camkan.