Kabayan mengerjap.
Satu mata, lalu mata yang lain.
Ia sudah memegang rekor dunia selama tiga hari penuh, 72 jam, sebagai mayat paling kaku dan paling sadar di seantero Pasundan.
Rasa pegal di punggungnya sudah melewati batas toleransi, memasuki dimensi baru di mana rasa sakit berubah menjadi numpuknya dosa yang belum sempat ia kerjakan.
Tapi yang paling menyiksa adalah bau.
Bau kembang tujuh rupa yang dipakai Iteung untuk ‘memandikannya’ bercampur dengan asap dupa yang membuat hidungnya gatal.
Namun, semua siksaan fisik itu mendadak kalah telak oleh aroma yang kini menyeruak dari dapur.
Aroma cireng isi oncom pedas yang baru digoreng.
Kabayan menelan ludah. Itu cireng favoritnya.
“Sabar, Yan. Tiga hari sudah terlewati. Kau harus menunggu Iteung memasukkannya ke mulutmu,” bisik Kabayan pada dirinya sendiri, suaranya parau karena tiga hari tidak bicara lebih dari desahan palsu.
Di sudut ruangan, Nyi Iteung sedang duduk bersimpuh, ditemani Abah dan beberapa tetangga. Mereka tampak serius, matanya bengkak, tapi tangannya cekatan menggulung tikar pandan.
“Sudah selesai, Bah. Tikar ini mau kita pakai untuk… ya, tahu sendiri,” kata Nyi Iteung dengan suara yang dibuat-buat sedih.
“Cepat sekali kamu tegar, Teung,” puji Abah, mengelus kepala anaknya. “Biasanya kalau Kabayan terlambat pulang tiga jam saja, kamu sudah bisa memecahkan genteng.”
“Justru karena itu, Bah,” jawab Iteung, menyeka sudut matanya. “Saya sadar, saya tidak bisa terus hidup dalam kemarahan. Kabayan sudah tenang sekarang. Dia sudah bebas dari alarm pagi saya.”
“Benar. Dia bebas dari alarm pagi yang bunyinya seperti deru lokomotif itu,” gumam Abah.
Kabayan mendengarnya. Ia tersinggung. Lokomotif? Itu adalah seni vokal murni.
Nyi Iteung bangkit, mengambil piring yang berisi tumpukan cireng panas. Ia berjalan menuju dipan tempat Kabayan berbaring.
“Ini, Bah. Mari kita makan dulu. Selama tiga hari ini kita tidak sempat makan enak. Kita tidak boleh sakit,” ujar Iteung.
Ia meletakkan piring itu persis di sebelah kepala Kabayan. Uap panas cireng itu menyengat hidungnya. Wanginya sungguh mematikan, dalam artian yang harfiah.
Kabayan bisa mendengar bunyi kriuk renyah ketika Nyi Iteung menggigitnya.
“Astaga, cireng ini gurih sekali,” kata Nyi Iteung dengan nada menyesal. “Sayang, Kabayan tidak sempat mencobanya sebelum…”
KRIUK!
Kabayan tidak tahan lagi. Tiga hari tanpa asupan, ia seperti baterai yang sudah habis masa pakainya.
Dengan gerakan yang jauh lebih cepat daripada saat dia disuruh memotong rumput, Kabayan mengulurkan tangannya yang kaku.
Srett!
Ia menyambar satu buah cireng dari piring, lalu dengan refleks yang sama cepatnya, ia memasukkannya ke mulut.
Mulut Kabayan mengunyah dengan nikmat, matanya masih terpejam erat, seolah-olah ia sedang bermimpi basah tentang makanan.
Keheningan melanda ruangan. Keheningan yang sangat pekat, bahkan udara pun seolah berhenti bergetar.
Nyi Iteung dan Abah, serta dua tetangga yang ikut berduka, menatap Kabayan.
Mulut Iteung terbuka, gigitannya di cireng setengahnya terhenti.
Kabayan, masih dengan mata terpejam, menikmati cireng itu, lalu bergumam.
“Hmm. Pedasnya pas. Tapi kurang micin sedikit, Teung.”
Ia kemudian membuka mata, menatap Nyi Iteung yang kini wajahnya pucat pasi, lalu menyeringai lebar.
“Oh, sudah pagi, ya? Alarmnya kok tidak bunyi?”
“KABAYAN!!!”
Teriakan Nyi Iteung kali ini jauh melampaui frekuensi alarm pagi manapun yang pernah ia keluarkan. Itu adalah teriakan yang datang dari kedalaman jiwa yang baru saja ditipu oleh suaminya sendiri.
Abah menjatuhkan cireng-nya.
Dua tetangga yang menyaksikan adegan itu langsung berlarian keluar rumah, yakin bahwa Kabayan tidak mati, tapi dirasuki setan cireng.
Nyi Iteung mendekat, tangannya sudah mengepal, urat di lehernya sudah menonjol seperti akar pohon beringin.
“Kau! Kau… makhluk apa kau ini! Tiga hari kau membiarkan kami menangisimu! Tiga hari kami mempersiapkan upacara pemakaman! Tiga hari kau makan hati kami, Kabayan!” raung Iteung.
Kabayan duduk tegak di dipan, menghela napas panjang, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan meditasi Zen yang mendalam.
“Tenang, Teh. Tenang,” kata Kabayan, santai sambil menjilati sisa oncom di jarinya.
“Tenang? Kau menyuruhku tenang setelah kau berpura-pura mati hanya karena takut diceramahi soal bangun kesiangan?! Kau pikir ini lucu?”
“Tentu saja tidak lucu, Teh. Ini tragis. Tapi ini adalah bagian dari investigasi filosofis yang mendalam.”
Abah, yang kini sudah berhasil mengambil kembali kesadarannya, maju mendekat. Ia menatap Kabayan dengan tatapan campuran antara kekaguman dan keinginan untuk menampar.
“Investigasi apa, Yan? Apa yang kau investigasi sampai kau harus menguji batas kesabaran keluargamu?” tanya Abah, suaranya mulai naik.
“Abah, Teh, dengarkan baik-baik. Saya tahu kalian marah. Tapi marilah kita lihat ini dari sudut pandang Return on Investment,” jawab Kabayan, menggunakan istilah yang ia dengar dari radio rusak di warung kopi.
Nyi Iteung melipat tangan di dada. “ROI? Apa itu?”
“ROI, Teh, adalah untung rugi. Coba pikirkan. Kenapa saya melakukan ini? Karena saya lelah dengan pola yang sama setiap hari.”
“Pola apa? Pola malas?” sela Iteung cepat.
“Bukan, Teh. Pola yang membuat kita boros energi. Setiap pagi, alarm Iteung berbunyi. Saya bangun. Lalu apa? Kita bertengkar 30 menit. Energi terbuang. Kemudian saya disuruh mencangkul, padahal hari itu tidak perlu dicangkul. Waktu terbuang. Produktivitas nihil.”
Kabayan berdeham, ia mulai masuk ke mode ‘Profesor Palsu’.
“Jadi, saya berpikir. Bagaimana caranya mengoptimalkan energi rumah tangga kita? Jawabannya: Simulasi Kematian Dini.”
Abah mengernyitkan dahi. “Simulasi kematian dini?”
“Betul, Bah. Tiga hari ini adalah Time-off yang paling efisien dalam sejarah rumah tangga ini.”
Nyi Iteung tertawa sinis. “Efisien apanya? Kami menghabiskan uang untuk kembang, dupa, dan kami tidak tidur! Kami stres!”
“Ah, itu dia kesalahannya, Teh. Mari kita hitung kerugian yang seharusnya terjadi vs. kerugian yang sudah terjadi.”
Kabayan menunjuk Abah.
“Jika saya tidak pura-pura mati, hari pertama, saya akan bangun siang. Iteung marah. Abah ikut campur. Energi bertengkar: 50%. Hasil kerja: nol.”
“Hari kedua, saya disuruh ambil air ke sumur di puncak bukit. Saya lelah. Air tumpah. Waktu terbuang. Hasil kerja: nol.”
“Hari ketiga, saya disuruh mencari kayu bakar di hutan larangan. Saya digigit ulat. Saya masuk angin. Iteung harus mengurus saya. Hasil kerja: minus.”
Ia kini menunjuk Iteung.
“Tapi, dengan Simulasi Kematian ini, apa yang terjadi? Tiga hari kalian anggap saya mati. Kalian sedih, ya. Tapi kalian terpaksa melakukan pekerjaan saya!”
Abah terkejut. “Tunggu dulu, kau bilang kami yang melakukan pekerjaanmu?”
“Tentu saja, Bah. Siapa yang mencangkul sawah kemarin? Abah. Siapa yang mengambil air bersih dari mata air jam 5 subuh? Iteung! Kalian tidak mau Kabayan mati tanpa ada persiapan logistik, kan?”
Nyi Iteung membanting tikar pandan yang ada di tangannya.
“Kau sengaja! Kau menunggu kami menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga agar kau bisa santai!”
“Bukan santai, Teh. Ini adalah Delegasi Tugas Secara Tidak Langsung. Saya menguji seberapa besar potensi tenaga kerja kalian jika saya tidak ada. Dan hasilnya fantastis! Dalam tiga hari, sawah kita rapi, air penuh, dan kayu bakar menumpuk! Ini adalah bukti bahwa stres karena kematian saya jauh lebih produktif daripada stres karena kemalasan saya.”
Abah menggeleng-gelengkan kepala. Logika Kabayan memang selalu seperti jaring ikan; tampak sederhana, tapi begitu terjerat, sulit dilepaskan.
“Lalu kenapa harus tiga hari, Yan? Kenapa tidak empat hari, atau setengah hari saja?” tanya Abah, mencari celah dalam teori absurd Kabayan.
Kabayan tersenyum tipis, merapikan sarungnya.
“Ah, itu pertanyaan yang bagus, Bah. Itu soal etika birokrasi kematian.”
“Etika birokrasi?” tanya Iteung skeptis.
“Ya. Di kampung kita, kalau orang sakit sehari, itu namanya masuk angin. Kalau dua hari, itu namanya pingsan. Tapi kalau tiga hari, itu baru namanya almarhum yang sah secara adat dan undang-undang gosip kampung. Saya harus memastikan waktu minimal agar kalian percaya dan tidak curiga.”
“Jadi, kau sengaja menjalani masa ‘Percobaan Kematian’?” tanya Abah, menyilangkan tangan.
“Tepat, Bah. Saya ingin membuktikan bahwa tiga hari pertama setelah ‘kematian’ adalah periode paling produktif bagi yang ditinggalkan. Saya mengorbankan kenyamanan saya sendiri (pegal di punggung, tidak makan nasi) demi kebaikan ekonomi rumah tangga kita.”
Nyi Iteung terdiam, memproses argumen suaminya yang sangat tidak masuk akal, namun terasa benar dalam kerangka pikir Kabayan.
“Tidak bisa. Pokoknya tidak bisa,” kata Nyi Iteung, wajahnya masih merah padam. “Filosofi gila macam apa itu? Kau harus dihukum! Kau sudah mempermainkan perasaan kami!”
“Hukum, Teh? Hukum macam apa yang pantas untuk seorang peneliti sosial yang berdedikasi?” tantang Kabayan.
“Aku akan menghukummu dengan satu hal,” kata Iteung, matanya menyipit. “Kau harus menggantikan semua biaya pemakaman palsu ini! Dupa, kembang, dan cireng yang kau curi tadi!”
Kabayan menghela napas, gesturnya seperti seorang martir.
“Ah, uang lagi, uang lagi. Bukankah Abah bilang tadi uang kas kita sedang seret?”
Abah mengangguk lemah. “Memang seret, Yan. Apalagi setelah sawah kita gagal panen bulan lalu.”
“Nah, itu dia masalahnya, Teh,” ujar Kabayan, kini ia bergeser ke argumen kedua: Solusi Cerdas.
“Saya tahu, saya harus ganti rugi. Tapi ganti rugi dengan apa? Uang kita tidak ada. Jadi, kita harus berinovasi.”
“Inovasi apa lagi, Kabayan?” Iteung mulai curiga.
“Iteung, Abah, sadarkah kalian? Kabar Kabayan mati mendadak itu sudah menyebar ke seluruh pelosok desa. Bahkan, desa sebelah pasti sudah mendengarnya.”
“Lalu kenapa?”
“Popularitas, Teh. Kita harus memonetisasi popularitas ini,” kata Kabayan, matanya berkilat seperti melihat peluang bisnis. “Kita akan mengadakan seminar.”
“Seminar?” Iteung dan Abah berkata serempak.
“Ya! Seminar Kematian! Judulnya: Kiat-Kiat Pura-Pura Mati Selama Tiga Hari Agar Pekerjaan Rumah Selesai. Kita kenakan biaya masuk!”
Nyi Iteung menggeleng cepat. “Kau gila! Siapa yang mau datang ke seminar seperti itu?”
“Banyak, Teh! Lihat saja, siapa di desa ini yang tidak takut istrinya? Siapa yang tidak ingin liburan tiga hari tanpa dicari-cari? Mereka akan membayar mahal untuk tips Time-off yang brilian ini! Kita jual tiket VIP untuk sesi tanya jawab ‘Bagaimana cara menahan kentut selama 72 jam’!”
Abah menatap Kabayan. Mulutnya terbuka. Ide itu sungguh keterlaluan, tidak etis, dan sangat khas Kabayan.
Tapi…
“Ada benarnya, Yan. Kita butuh uang,” gumam Abah.
Nyi Iteung menunjuk Kabayan dengan jari telunjuk yang gemetar.
“Baik. Kalau begitu, kau lakukan seminar itu. Dan semua uangnya untuk mengganti kerugian, dan sisanya untukku! Tapi hukumanmu belum selesai, Kabayan.”
“Hukuman apa lagi, Teh?”
“Karena kau sudah berhasil membuktikan bahwa keheningan selama tiga hari adalah hal yang paling damai di rumah ini, aku ingin kau terus damai. Aku ingin kau mencari pekerjaan yang hening, yang sunyi, yang membuatmu jauh dari rumah,” perintah Iteung.
Kabayan tersenyum. “Pekerjaan hening? Boleh. Seperti apa?”
“Kau harus menjaga kerbau milik Mang Udin yang sedang sakit itu di kandangnya. Dia butuh teman yang tenang, dan kau harus memastikan kerbau itu tidak stres.”
Nyi Iteung berpikir, ini adalah hukuman yang sempurna. Kabayan akan bosan sampai mati (yang kali ini sungguhan).
Kabayan mengangguk senang.
“Siap, Teh. Ini namanya Restorative Justice. Saya akan menjaga kerbau itu dengan hening. Saya akan bicara padanya hanya dalam bahasa isyarat. Dan saya akan mengurus seminar kita besok.”
Dua minggu kemudian.
Seminar Kabayan meledak.
Ratusan suami dari desa-desa tetangga datang, membayar mahal hanya untuk mendengarkan trik Kabayan agar bisa berlibur tanpa diketahui istri. Kabayan menjadi konsultan Work-Life Balance versi Sunda yang paling dicari.
Iteung menghitung uang hasilnya, senyumnya sulit disembunyikan.
“Lumayan, Bah. Uang kembang tiga rupa sudah kembali, bahkan dapat sisa untuk beli gelang emas,” bisik Iteung pada Abah.
Abah hanya bisa menghela napas di teras.
“Iteung, kau tidak sadar? Kau menghukum Kabayan, tapi dia menjadikan hukuman itu sebagai bisnis. Kita hanya memberinya modal untuk jadi lebih pintar menipu.”
“Biarkan saja, Bah. Setidaknya dia menghasilkan uang.”
Sementara itu, di kandang Mang Udin, Kabayan sedang santai berbaring di tumpukan jerami yang harum. Kerbau Mang Udin, yang sakit-sakitan, kini tampak sehat wal afiat.
Kabayan tidak mencangkul. Kabayan tidak mengambil air. Kabayan hanya duduk diam.
Mang Udin datang menjenguk.
“Yan, kau ini hebat sekali. Kerbauku sudah sehat. Apa rahasianya?”
Kabayan membuka mata, memeluk leher kerbau itu dengan penuh kasih sayang.
“Rahasia, Mang? Tidak ada rahasia. Saya hanya memberinya ketenangan yang layak. Saya biarkan dia tidur tanpa ada teriakan alarm keras di pagi hari.”
Mang Udin bingung. “Teriakan alarm? Kerbau mana punya alarm.”
“Bukan kerbau, Mang. Tapi saya. Selama tiga hari pura-pura mati, saya sadar satu hal,” kata Kabayan sambil mengunyah rumput kering.
“Apa itu, Yan?”
“Ternyata, hidup itu jauh lebih sederhana dan damai di antara kerbau yang diam, daripada di antara manusia yang selalu menuntut pekerjaan.”
Mang Udin tertawa.
“Jadi, kau lebih suka mengurus kerbau daripada mengurus istrimu?”
“Bukan begitu, Mang,” Kabayan tersenyum jenaka. “Kerbau itu binatang yang jujur. Kalau dia lapar, dia mengaum. Kalau dia kenyang, dia tidur. Kalau Nyi Iteung? Dia marah, dia teriak, dia menangis, tapi ujung-ujungnya dia tetap membuatkan saya cireng.”
“Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang setelah kerbaunya sembuh?” tanya Mang Udin.
Kabayan menatap langit, lalu mengeluarkan senyum khasnya.
“Ah, saya? Saya rasa sudah waktunya saya kembali ke rumah.”
“Mau pulang? Iteung pasti senang.”
“Bukan, Mang. Saya mau pulang untuk istirahat. Mengurus kerbau ini cukup melelahkan secara mental, karena saya harus menahan diri agar tidak tertawa. Saya butuh cuti lagi.”
“Cuti apa?”
Kabayan berbisik pelan ke telinga Mang Udin.
“Saya rasa, sudah saatnya saya menjalani Simulasi Kematian untuk yang kedua kalinya. Mungkin kali ini, saya akan minta dibuatkan cireng rasa keju.”
Di teras rumahnya, Nyi Iteung tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri. Ia melihat tumpukan kembang tujuh rupa yang belum sempat ia buang.
“Bah,” kata Iteung, suaranya sedikit gemetar. “Kenapa perasaanku tidak enak? Kenapa rasanya alarm di rumah ini akan berhenti bunyi lagi?”
Abah hanya menghela napas, melihat ke arah kandang kerbau yang jaraknya tak terlalu jauh.
“Sabar, Teung. Kau yang memulai permainan ini. Kau tidak sadar, bahwa Kabayan itu bukan manusia biasa. Dia adalah filsuf penipu. Dan selama dia masih menemukan celah logika di setiap masalah, kita akan selamanya menjadi tim sukses untuk kemalasannya.”
Abah mengambil cireng terakhir di piring, mengunyahnya dengan getir.
“Selamat datang kembali, Kabayan. Atau, selamat tinggal sementara.”
[TAMAT]