Alarm Pagi Nyi Iteung, atau Seni Pura-Pura Mati Selama Tiga Hari.
Kabayan bergerak. Bukan, Kabayan tidak bergerak.
Kabayan sedang melakukan hal terbaik yang bisa dilakukan manusia saat menghadapi matahari pagi: simulasi ketiadaan.
Ia meringkuk di pojok dipan. Sarung batik lusuh melilit tubuhnya seperti kepompong keengganan. Di luar, ayam jantan desa berkokok sumbang, seperti mikrofon Abah yang sedang diuji coba.
Tapi bukan kokok ayam yang Kabayan takuti. Bukan juga embun dingin yang merayap dari lantai.
Yang Kabayan takuti adalah suara langkah kaki. Suara langkah kaki yang datang dengan ritme marching band militer, diiringi denting piring dan bau sambal yang mengancam.
Itu adalah alarm pagi Nyi Iteung. Alarm yang tidak bisa ditunda.
Brak!
Pintu dapur didorong keras. Kabayan merasakan getarannya sampai ke tulang belakang.
“Kabaaayaann! Bangun!” Suara Nyi Iteung melengking, memotong udara seperti pisau belati.
Kabayan menarik napas pelan. Sangat pelan. Ia melatih seni bernapas hanya melalui pori-pori kulit. Strategi tingkat tinggi.
“Sudah jam tujuh, Bayan! Kau mau jadi fosil sebelum waktunya, hah?”
Kabayan memilih untuk tidak merespons. Respons adalah tanda kehidupan. Tanda kehidupan adalah undangan untuk bekerja.
Iteung sudah berdiri di samping dipan. Ia tidak menendang. Ia tidak menyiram. Nyi Iteung lebih kejam dari itu. Ia menggunakan senjata psikologis paling mematikan: piring.
Kring! Kring! Kring!
Iteung mengadu dua piring keramik persis di sebelah telinga Kabayan.
Kabayan nyaris melompat. Ia menahan kedutan matanya dengan tenaga yang luar biasa.
Bertahan, Bayan. Ingat misimu.
“Aku tahu kau sudah bangun, Bayan,” kata Iteung, nadanya dingin dan tenang, jauh lebih menakutkan daripada amukan.
“Kalau kau tidak bangun dalam hitungan ketiga, aku akan menjual sarung kesayanganmu ini pada Mang Ujang si pedagang rongsokan!”
Ancaman itu berhasil. Sarung itu adalah warisan dari almarhum Kakek, dan ia sangat cocok untuk tidur maraton.
Seketika, Kabayan membuka mata. Ia tersenyum selebar mungkin, senyum yang disiapkan untuk menutupi rencana-rencana besar.
“Ah, Iteungku sayang. Pagi yang indah!” seru Kabayan, bangkit dengan gerakan yang terlalu lincah untuk orang yang baru bangun.
Iteung menatapnya datar. “Jangan bertepuk tangan dulu. Pagi ini tidak indah untukmu.”
“Kenapa tidak indah, Teung? Matahari bersinar, burung-burung berkicau, dan aroma kopi buatanmu sungguh… inspiratif.” Kabayan pura-pura menghirup udara dalam-dalam.
“Inspiratif? Itu bau kuali gosong semalam, Bayan. Dan jangan alihkan pembicaraan.” Iteung meletakkan dua tangannya di pinggang. Postur tubuh yang secara universal dikenal sebagai ‘Mode Amukan Aktif’.
“Tiga minggu, Bayan. Tiga minggu!”
Kabayan mengerutkan dahi. “Tiga minggu apa, Teung? Apa kita merayakan ulang tahun pernikahan tiga minggu?”
“Jangan gila! Tiga minggu kau berjanji akan memperbaiki saung Abah!” Iteung menunjuk ke halaman belakang.
Kabayan menoleh. Saung (gazebo kecil) itu tampak menyedihkan. Atapnya bolong di dua tempat. Sejak hujan deras minggu lalu, saung itu lebih mirip air mancur modern daripada tempat duduk.
“Oh, itu,” kata Kabayan santai. “Aku sudah memikirkan itu, Teung.”
“Memikirkan? Kapan kau mau mengerjakannya? Saat air hujan sudah membentuk kolam renang pribadi di sana?”
“Justru itu, Teung. Kolam renang!” Kabayan segera mengambil posisi seolah ia seorang arsitek ternama.
“Ini adalah konsep baru, Teung. Saung Tiris. Saung yang berfungsi ganda. Tempat duduk di musim kemarau, dan kolam rendam kaki di musim hujan. Ini inovasi!”
Iteung mengambil sapu lidi yang tergeletak di dekat pintu. Kabayan mundur dua langkah. Ia tahu sapu lidi di tangan Iteung bukan lagi alat kebersihan, melainkan senjata negosiasi.
“Inovasi katamu? Abah sudah janji sore nanti akan kedatangan Haji Saleh dari desa seberang. Mereka mau bicara bisnis besar di saung itu! Kalau saung itu bocor, bukan bisnis yang terjadi, tapi keramas massal!”
“Haji Saleh? Ah, masalah besar.” Kabayan menggaruk kepalanya. “Kalau begitu, kita bisa pakai strategi pengalihan.”
“Pengalihan apa?”
“Kita bilang saja saung itu bukan bocor, tapi sedang menjalani ‘terapi hidrasi intensif’ yang direkomendasikan oleh tabib modern.”
Iteung menghela napas panjang, napas yang menunjukkan tingkat frustrasi kronis.
“Sudahlah, Bayan. Aku tidak punya waktu untuk leluconmu yang kering kerontang itu. Kau harus mulai bekerja sekarang. Aku sudah siapkan alat-alatnya.”
Iteung menunjuk setumpuk kayu, palu, dan paku yang tersusun rapi—dan sangat mengancam—di bawah pohon nangka.
Kabayan menelan ludah. Wajahnya langsung pucat pasi.
“Teung… aku tidak bisa.”
“Tidak bisa apa?” Iteung mendekat, matanya menyipit. “Jangan bilang alasan kakimu sakit lagi. Atau alasan kau diserang kutu air dari zaman purbakala.”
“Bukan, Teung. Ini jauh lebih serius.” Kabayan memegang dadanya dengan dramatis. “Aku merasa… aku merasa ada panggilan alam.”
“Panggilan alam? Untuk buang air?”
“Lebih dari itu, Teung. Panggilan alam yang melibatkan seluruh eksistensiku.” Kabayan mulai terhuyung-huyung. Ini adalah permulaan dari Babak I: Sandiwara Sakit Parah.
“Aku merasa… kepalaku sangat ringan. Seolah semua ide-ide cerdas di dalamnya melayang pergi.”
Iteung mengangkat sapu lidi. “Sangat bagus kalau ide cerdasmu melayang. Karena itu berarti kau akan mulai melakukan pekerjaan nyata, bukan cuma ide.”
“Tidak, Teung. Ini pertanda buruk.” Kabayan sengaja membiarkan wajahnya jatuh. “Aku merasa demam. Demam yang diakibatkan oleh kurangnya istirahat dan terlalu banyak memikirkan nasib manusia di desa ini.”
“Kau tidak pernah istirahat, Bayan. Kau selalu tidur.”
“Tidur adalah bentuk istirahat bagi fisik, Teung. Tapi otakku bekerja keras! Ia merangkai puisi, merumuskan teori relativitas lokal, dan mencari cara memenangkan hati mertua yang galak.”
Iteung tidak terpengaruh. “Sudah! Cukup! Kalau kau sakit, kau harus minum obat. Tapi setelah itu, kau harus bekerja.”
“Obat tidak akan mempan, Teung.” Kabayan menggeleng pelan, nadanya berubah menjadi bisikan tragis. “Aku khawatir, Teung…”
“Khawatir apa?”
Kabayan menatap Iteung dengan mata yang sudah ia latih di depan cermin selama bertahun-tahun—mata yang penuh kesedihan, misteri, dan sedikit rasa lapar.
“Aku khawatir ini bukan hanya demam. Aku khawatir… aku khawatir aku sedang mengalami transisi.”
“Transisi ke mana? Ke alam dewasa yang bertanggung jawab?”
“Bukan, Teung. Transisi ke alam baka.”
Iteung terdiam sejenak. Ia menurunkan sapunya sedikit. Ada kilatan rasa khawatir di matanya, sebelum ia segera menekannya kembali dengan sinisme.
“Bayan, jangan bicara omong kosong. Kau sehat seperti badak.”
“Badak pun bisa mati, Teung. Terutama badak yang kurang minum kopi pagi.” Kabayan terhuyung lagi, kali ini lebih meyakinkan.
Ia tahu, berpura-pura sakit adalah strategi amatir. Iteung pasti akan memaksanya minum jamu pahit buatan Abah yang rasanya seperti air bekas cucian sepatu.
Kabayan perlu sesuatu yang mutlak. Sesuatu yang akan menghentikan semua permintaan kerja selama setidaknya tiga hari.
Hanya ada satu hal yang bisa menghentikan Nyi Iteung untuk menyuruh suaminya memperbaiki atap: Kematian.
Tentu saja, kematian sementara.
“Teung… aku… aku rasa aku sudah mencapai akhir perjalananku.” Kabayan menekankan setiap kata.
“Perjalananmu baru sampai ke dapur, Bayan.”
“Aku kedinginan…”
“Ambil sarungmu lagi.”
“Tidak, Teung. Aku kedinginan dalam artian filosofis. Jiwaku sudah mulai meninggalkan ragaku yang renta ini.”
Kabayan memejamkan mata. Ia memusatkan seluruh energinya untuk meniru patung lilin yang baru saja dikeluarkan dari freezer. Wajahnya harus pucat. Bibirnya harus kebiruan. Detak jantungnya harus melambat.
Iteung memperhatikan suaminya. Ekspresinya kali ini sedikit berubah. Kabayan biasanya dramatis, tapi kali ini, gerakannya sangat halus, sangat… meyakinkan.
“Bayan, jangan main-main.”
Kabayan diam. Tidak ada respons.
Iteung mengguncang bahunya. “Bayan! Kalau kau mati sekarang, siapa yang akan memperbaiki saung?! Kau tidak bisa mati sebelum janji itu terpenuhi!”
Masih diam. Kabayan bahkan sudah mengendalikan refleks kedipnya.
Iteung mulai panik sedikit. Ia menyentuh dahi Kabayan.
“Ya ampun! Kau dingin sekali!”
Target tercapai. Operasi Kedinginan Sukses. Batin Kabayan penuh kemenangan.
“Bayan, bangun! Aku akan panggil Abah!” Iteung menampar pipi Kabayan pelan. Tamparan kedua sedikit lebih keras.
Kabayan tetap tak bergerak. Ia menggunakan teknik meditasi yang ia pelajari dari seorang biksu di gunung—teknik menahan rasa sakit demi tujuan yang lebih besar (yaitu tidur siang).
Iteung berteriak. Kali ini, suaranya benar-benar mengandung kepanikan.
“Abaaaaaah! Abah! Cepat kemari! Si Kabayan! Si Kabayan sudah tidak bernapas!”
Abah, yang sedang asyik menyeruput kopi di teras, tidak langsung percaya.
“Tidak bernapas? Itu biasa, Teung. Dia sering menahan napas kalau ada tagihan listrik datang.”
“Bukan, Bah! Ini serius! Dia diam, matanya tertutup, dan dia dingin sekali! Dia pasti—dia pasti mati!”
Mendengar kata ‘mati’, Abah meletakkan cangkirnya dengan bunyi klek. Kematian adalah masalah birokrasi, dan Abah benci birokrasi.
Abah bergegas masuk. Ia melihat Kabayan tergeletak di lantai, wajahnya damai—terlalu damai.
“Kenapa dia tidur di lantai?” tanya Abah, memandang jijik. “Lantai kotor, Teung.”
“Dia jatuh, Bah! Dia bilang dia transisi! Dia bilang dia sudah selesai!”
Abah mendekat. Abah adalah orang yang praktis. Ia tidak percaya pada drama sebelum ia melihat bukti fisik.
“Huh. Dasar anak malas. Dia pasti pura-pura mati agar tidak usah mengangkat kayu.”
“Tapi dia dingin, Bah!”
Abah berjongkok. Ia menyentuh leher Kabayan. Kemudian ia menyentuh denyut nadi. Kabayan menahan denyut nadinya dengan susah payah, mengendalikan otot leher agar peredaran darahnya sedikit tersumbat. Ini memerlukan konsentrasi tingkat dewa.
Abah mengerutkan kening. “Aneh. Denyut nadinya lemah sekali.”
“Kan kubilang, Bah!” Iteung mulai menangis kecil. “Ya Tuhan, suamiku!”
Kabayan nyaris tersenyum mendengarnya. Lihat, Teung? Kekuatan Pura-Pura Mati ini mengalahkan ancaman sapumu.
Abah kemudian melakukan pemeriksaan yang lebih teliti. Ia mengambil cermin kecil dari saku bajunya—kebiasaan Abah yang sering memeriksa kumis.
Ia meletakkan cermin itu tepat di depan hidung Kabayan.
Kabayan tahu ujian ini akan datang. Ia harus menahan napasnya sepenuhnya. Ini adalah momen krusial.
Detik berlalu. Abah menahan napasnya sendiri, menunggu cermin berembun.
Cermin itu tetap bersih. Kering.
“Hmm,” Abah bergumam. “Memang tidak ada embun.”
Iteung tersentak. “Jadi… jadi dia benar-benar?”
Abah berdiri tegak. “Bisa jadi. Atau dia sedang menahan napas lebih lama dari ikan paus yang sedang bersembunyi.”
“Apa yang harus kita lakukan, Bah? Kita harus panggil dukun!”
“Dukun itu mahal, Teung. Dan biasanya dukun hanya butuh korban ayam dan sekantong beras.” Abah berpikir sejenak.
“Tunggu dulu. Sebelum kita panggil dukun atau Pak RT, kita harus memastikan satu hal.”
“Memastikan apa, Bah?”
Abah berjalan ke sudut, mengambil sebuah batu asahan yang sangat besar dan berat, biasa digunakan untuk menajamkan parang.
“Kalau dia mati, dia tidak akan merasakan apa-apa,” kata Abah sambil tersenyum misterius.
“Jangan, Bah! Kau mau menghancurkan kepalanya?!” Iteung berteriak ngeri.
“Tentu saja tidak, Teung. Aku hanya akan menjatuhkan ini di kakinya.”
Abah mengangkat batu asahan itu setinggi pinggang.
Kabayan, yang sedang berjuang keras mempertahankan ekspresi mati, langsung panik internal. Batu itu beratnya minimal 10 kilo! Kakiku bisa remuk!
Ini tidak ada dalam rencana! Kematian harus damai! Bukan akibat trauma benda tumpul!
“Satu… Dua…” Abah mulai menghitung.
Iteung menutup mata. “Jangan, Bah! Dia suamiku!”
Tepat sebelum Abah menjatuhkan batu itu, sebuah ide kilat melintas di benak Kabayan. Ia harus menghentikan ini tanpa terlihat hidup.
Ia tahu kelemahan terbesar Abah.
Uhuk! Uhuk!
Kabayan mengeluarkan suara batuk yang sangat lemah, seolah-olah itu adalah batuk terakhir yang dilakukan oleh paru-paru yang sekarat.
Abah menghentikan batu itu, terkejut.
“Lihat, Bah! Dia batuk!” seru Iteung lega. “Dia masih hidup!”
Abah menurunkan batu itu perlahan. Ia menatap Kabayan curiga.
“Kenapa kau batuk, Bayan? Kau mau bilang kau belum mati?”
Kabayan tetap memejamkan mata. Ia memaksakan sebuah bisikan, terdengar seperti angin berdesir di gurun.
“Aku… Aku batuk… bukan karena aku hidup…”
“Lalu?” Abah mencondongkan telinga.
“Aku batuk… karena aku mencium bau masakanmu yang gosong, Teung…” Kabayan berhasil menyelesaikan kalimatnya.
Iteung langsung tersinggung. “Masakanku tidak gosong!”
Abah menggeleng. “Yah, setidaknya kita tahu dia masih punya kemampuan untuk mengkritik. Itu tanda vital yang penting.”
“Tapi dia tetap tidak bernapas normal, Bah! Dan dia dingin!”
“Baiklah, kita ubah rencana.” Abah menggosok dagunya. “Kita tidak bisa membiarkan dia tergeletak di lantai. Angkat dia ke dipan.”
Iteung dan Abah bekerja sama mengangkat Kabayan. Kabayan mempertahankan tubuhnya selentur mungkin, agar terlihat seperti karung beras yang sudah diisi penuh air.
Setelah Kabayan diletakkan di dipan, Abah menatap Iteung.
“Kau siapkan air hangat. Aku akan pergi ke hutan. Aku perlu mencari akar-akaran khusus untuk mengusir roh yang malas.”
“Roh yang malas?”
“Ya. Roh yang membuatnya memilih mati daripada memperbaiki atap.” Abah berbalik menuju pintu.
“Dan kau, Teung,” lanjut Abah. “Jaga dia. Jangan biarkan dia bangun. Kalau dia bangun, tanyakan padanya apa yang dia sembunyikan.”
“Sembunyikan apa, Bah?”
Abah berhenti di ambang pintu, matanya kini jauh lebih tajam.
“Kabayan ini terlalu pintar untuk mati hanya karena malas. Ada udang di balik batu asahan ini. Aku yakin.”
Abah keluar. Iteung duduk di samping Kabayan, memperhatikan wajah suaminya.
Kabayan merasa lega. Tiga hari bebas kerja, dimulai hari ini. Ia hanya perlu mempertahankan postur tubuh mati ini. Tugasnya adalah berbaring, tanpa bergerak, tanpa bernapas.
Misi mustahil yang sempurna.
Iteung meraih tangan Kabayan. “Bayan, aku tahu kau bisa mendengarku. Kalau kau benar-benar mati, siapa yang akan mengurus ayam-ayam jago kita? Mereka tidak akan mau makan kalau bukan kau yang memberi makan.”
Kabayan bergeming.
Tiba-tiba, Iteung bangkit. Ia berjalan ke arah laci kayu di sudut kamar. Itu adalah laci di mana Kabayan biasa menyimpan barang-barang ‘penting’ yang dilarang dilihat Iteung.
“Abah benar,” gumam Iteung. “Kau pasti menyembunyikan sesuatu.”
Iteung menarik laci itu. Di dalamnya ada beberapa helai sarung tangan bekas, beberapa kelereng, dan sebuah kantung kain kecil yang diikat erat.
Iteung mengambil kantung kain itu. Kabayan, yang pura-pura mati, merasakan detak jantungnya meningkat drastis.
Jangan! Jangan sentuh itu! Itu harta karunku!
Iteung membuka ikatan kantung itu. Di dalamnya, ada beberapa lembar uang kertas yang sudah lusuh, uang yang disimpan Kabayan selama berbulan-bulan dari hasil menjual bambu.
Tapi bukan uang itu yang membuat Iteung terkejut.
Di bawah uang itu, terlipat rapi, ada secarik kertas yang tampak seperti peta.
Iteung membentangkan peta itu perlahan.
Itu bukan peta menuju harta karun. Itu adalah denah rumah mereka sendiri.
Tapi yang paling mengejutkan adalah coretan pena merah di peta itu, yang menunjukkan lingkaran tebal pada dua area:
Area pertama: “Tempat Persembunyian Alat Tukang Abah yang Terhebat.”
Area kedua: “Titik Pelarian (Jalur tikus menuju desa sebelah, hindari jembatan utama).”
Iteung menatap uang di tangannya. Itu adalah uang yang seharusnya digunakan untuk membeli atap seng baru.
Lalu Iteung menatap suaminya yang terbaring kaku, pura-pura mati.
Wajah Iteung berubah. Bukan lagi khawatir, bukan lagi marah. Tapi kecewa dan marah yang dingin.
“Jadi… kau tidak hanya pura-pura mati untuk menghindari saung,” bisik Iteung, suaranya bergetar.
“Kau pura-pura mati… sambil merencanakan pelarian dengan uang perbaikan saung?”
Iteung melipat peta itu kembali. Ia memasukkan uang dan peta itu ke dalam saku bajunya.
“Baiklah, Bayan,” kata Iteung, kini berbicara kepada Kabayan yang tak bergerak.
“Kau mau main drama kematian, ya? Aku akan pastikan dramamu ini menjadi sangat, sangat, sangat meyakinkan.”
Iteung mencondongkan tubuhnya ke telinga Kabayan.
“Selamat datang di tiga hari terakhir hidupmu, Sayang.”
Dia tidak mati. Dia hanya dikhianati. Dan Nyi Iteung baru saja merampas seluruh rencana dan modalnya.
Bersambung ke Part 2.