DIPAKSA NIKAH! 1000 Candi Jadi KUTUKAN CINTA Abadi! (Lanjutan Hal. 2)

Lanjutan Cerita: Anda sedang membaca halaman 2. Silakan lanjutkan membaca di bawah ini...

Roro Jonggrang berdiri tegak. Anggun, namun tatapan matanya menyimpan bara pemberontakan yang dingin.

Di hadapannya, Bandung Bondowoso tersenyum penuh kemenangan. Kemenangan atas Kerajaan Prambanan terasa hambar tanpa Roro Jonggrang di sisinya.

“Prambanan kini telah takluk. Engkau akan menjadi permaisuriku, Tuan Putri,” ujar Bondowoso, suaranya menggelegar di ruang singgasana yang kini berlumuran debu perang.

Roro Jonggrang melangkah maju. Gaunnya yang berwarna keemasan berkilauan, kontras dengan bayangan gelap yang melingkupinya.

“Hentikan perkataanmu, Baginda Bondowoso,” sahut Roro Jonggrang, nadanya datar dan menusuk. “Apakah engkau pikir hatiku semudah itu untuk engkau miliki?”

Bondowoso tertawa keras. “Hati adalah masalah waktu. Kekuatan adalah masalah saat ini. Kau tahu, Putri, aku bisa mengambilmu kapan pun aku mau.”

“Kau bisa mengambil ragaku, tetapi tidak jiwaku,” balas Jonggrang, mengangkat dagu. Ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan kehormatan dirinya dan sisa-sisa Kerajaan Prambanan adalah dengan mengajukan permintaan yang mustahil.

“Baiklah, aku bersedia menikah denganmu, Baginda,” ucapnya perlahan, membuat Bondowoso sontak terdiam. “Tetapi, ada syarat yang harus engkau penuhi.”

Mata Bondowoso berkilat tajam. “Syarat apa yang kau minta? Emas? Permata? Ribuan prajurit?”

Roro Jonggrang menggeleng. “Bukan harta benda. Syaratku adalah sebuah bukti cinta, bukti kerja keras yang melampaui kemampuan manusia biasa.”

Ia menunjuk ke luar jendela, ke arah hamparan tanah kosong yang luas, yang kelak akan dikenal sebagai dataran tinggi Prambanan.

“Aku menginginkan seribu candi,” kata Roro Jonggrang tegas. “Seribu candi yang megah dan indah, harus selesai engkau bangun dalam waktu satu malam saja.”

Sunyi menyelimuti ruangan. Para prajurit Bondowoso saling pandang. Mereka menganggap Tuan Putri telah kehilangan akal sehatnya. Seribu candi? Dalam semalam? Itu adalah keangkuhan yang nyata.

Namun, wajah Bandung Bondowoso berubah, dari terkejut menjadi senyum lebar yang mengerikan.

“Seribu candi dalam satu malam? Kau yakin, Putri?” tanyanya, suaranya kini dipenuhi kesenangan. “Syaratmu terlalu mudah bagiku.”

Roro Jonggrang merasakan desakan darah di pelipisnya. Ia harus mempertahankan ketenangannya.

“Itu adalah syaratku, Baginda. Jika matahari terbit dan candi yang terbangun kurang satu saja, atau jika prosesnya belum rampung seutuhnya, maka aku berhak menolakmu. Dan engkau harus pergi dari tanah Prambanan selamanya.”

“Kesepakatan!” Bondowoso menghentakkan kakinya. “Aku akan membuktikan kepadamu bahwa tidak ada yang mustahil bagi Bandung Bondowoso, Sang Penakluk!”

Malam itu, bulan sabit menggantung tipis di langit Jawa. Angin berhembus dingin, membawa serta aroma tanah dan ancaman.

Bandung Bondowoso segera mengumpulkan seluruh sisa pasukannya. Mereka kelelahan setelah pertempuran, tetapi Bondowoso tidak butuh tenaga manusia biasa.

Ia berjalan ke tengah lapangan, yang kini menjadi lokasi pembangunan. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke langit yang gelap.

“Dengarkan aku, wahai kalian yang menghuni perut bumi dan kegelapan!” teriaknya, suaranya berubah menjadi geraman yang dalam. “Aku memanggil semua bala bantuan gaib, semua makhluk halus, Jin, dan Demit yang tunduk di bawah kekuasaanku!”

Dari timur, angin puting beliung tiba-tiba berputar. Dari barat, bayangan hitam tebal merayap naik ke permukaan. Bau belerang dan tanah basah memenuhi udara.

“Kalian akan membantuku!” perintah Bondowoso. Matanya merah menyala. “Malam ini, kalian harus membangun seribu candi megah di sini! Seribu candi sebelum ayam jantan berkokok!”

Ribuan suara mendesis, berbisik, dan menderu menyambut perintah itu. Mereka adalah pasukan yang jauh lebih kuat, lebih cepat, dan tak mengenal lelah dibandingkan prajurit mana pun.

Kerja keras yang mengerikan pun dimulai.

Batu-batu raksasa terangkat sendiri ke udara, terbang melayang seolah tak memiliki bobot. Tanah bergetar. Gemuruh batu-batu yang saling bertumpuk terdengar seperti seribu guntur yang dilepaskan secara bersamaan.

Para Jin bekerja dengan kecepatan yang tak terbayangkan. Mereka membentuk relief, memahat ukiran, dan menyusun ribuan batu andesit dengan presisi luar biasa. Candi demi candi menjulang tinggi, gelap dan sunyi, menyerap cahaya bulan.

Dari kejauhan, di istana yang kini sepi, Roro Jonggrang menyaksikan kengerian itu melalui jendela kamarnya. Wajahnya yang pucat kini dipenuhi ketakutan.

“Mereka bekerja terlalu cepat,” bisiknya kepada Dayang Setia, pelayan yang menemaninya sejak kecil.

Dayang Setia, seorang wanita tua yang bijaksana, gemetar. “Benar, Tuan Putri. Saya belum pernah melihat kekuatan seperti itu. Jika begini terus, seribu candi akan selesai sebelum tengah malam.”

Roro Jonggrang mengatupkan rahangnya. Ia telah mempertaruhkan segalanya—kehormatan ayahnya, nasib rakyatnya, dan bahkan nyawanya—dengan syarat ini. Ia tidak boleh kalah.

“Kita harus menghentikan mereka,” ujar Jonggrang, matanya menatap tajam ke arah kerlap-kerlip gaib di kejauhan. “Kita harus membuat mereka berpikir bahwa matahari telah terbit.”

Dayang Setia menoleh, tidak mengerti. “Bagaimana caranya, Tuan Putri? Kita tidak bisa menghentikan waktu.”

“Kita tidak perlu menghentikan waktu. Kita hanya perlu menipu para Jin,” jawab Roro Jonggrang. “Dengarkan aku. Kumpulkan semua dayang dan perempuan desa yang masih tersisa di istana. Kerahkan mereka sekarang juga.”

Dalam waktu singkat, Roro Jonggrang telah mengumpulkan ratusan wanita. Mereka berkumpul dalam kegelapan, menunggu perintah dari Tuan Putri mereka.

“Wahai kalian para ibu dan saudari sekalian!” seru Roro Jonggrang, suaranya penuh semangat meskipun hatinya dipenuhi ketakutan. “Malam ini kita akan bertempur, bukan dengan pedang, melainkan dengan akal dan keberanian!”

Para wanita saling pandang, bingung.

“Perintahku sederhana,” lanjut Jonggrang. “Ambil semua jerami yang ada, kumpulkan di sisi timur lapangan pembangunan. Nyalakan api yang besar, sebesar mungkin!”

Dayang Setia memotong. “Tuan Putri, api akan menarik perhatian mereka!”

“Tepat,” balas Jonggrang. “Api besar akan menciptakan ilusi fajar menyingsing. Selain itu, aku ingin kalian menumbuk lesung! Tumbuk dengan suara yang paling keras dan berirama yang bisa kalian lakukan!”

Seorang ibu muda bertanya, “Lesung, Tuan Putri? Apa gunanya menumbuk lesung di tengah malam?”

“Itu adalah suara aktivitas pagi hari,” jelas Roro Jonggrang. “Suara lesung menandakan ibu-ibu telah bangun untuk menyiapkan sarapan, menandakan bahwa ayam jantan sudah berkokok, dan menandakan bahwa waktu malam telah usai!”

“Lakukan segera!” perintah Jonggrang. “Nyalakan api, dan tumbuk lesung sekeras-kerasnya! Kita akan mengusir kegelapan dengan tipu daya!”

Para wanita, yang hatinya dipenuhi kesetiaan terhadap Tuan Putri mereka, segera melaksanakan perintah itu. Mereka bergerak diam-diam, membawa kayu dan jerami kering menuju sisi timur.

Tak lama kemudian, sebuah cahaya oranye kemerahan tiba-tiba menyala, memecah kegelapan malam.

BUM! TUK! BUM! TUK!

Ratusan lesung dipukulkan secara serentak, menciptakan ritme gaduh yang berulang-ulang, seolah-olah seluruh desa telah terbangun.

Asap membumbung tinggi dari timur, berpadu dengan cahaya api yang berpendar. Jauh di sana, di tempat pembangunan, para Jin dan Demit merasakan perubahan itu.

Bandung Bondowoso sedang berdiri di puncak salah satu candi yang hampir rampung, mengawasi kerja pasukannya. Ia menghitung, “Sembilan ratus empat puluh tiga… Sembilan ratus empat puluh empat… Sembilan ratus sembilan puluh…”

Tiba-tiba, ia mendengar suara yang tidak ia kenal. Bukan suara gemuruh batu, tetapi suara yang ritmis dan mengganggu.

BUM! TUK! BUM! TUK!

Diikuti oleh kilatan cahaya yang aneh di cakrawala timur.

“Apa itu?” bentak Bondowoso kepada panglima Jin-nya.

Panglima Jin, yang tubuhnya hanya berupa asap hitam, mendesis cemas. “Tuan Besar, itu… itu adalah suara lesung! Dan lihatlah, cahaya fajar sudah tampak!”

Bondowoso mengerutkan kening. Ia merasa waktu masih jauh dari pagi.

“Tidak mungkin! Kita baru saja bekerja! Ini pasti tipuan!” raungnya.

Namun, di antara pasukan Jin, kepanikan mulai menyebar. Mereka adalah makhluk malam. Kekuatan mereka akan lenyap dan mereka akan terbakar jika matahari menyentuh kulit mereka.

Cahaya di timur semakin terang, dan suara lesung semakin keras. Beberapa Jin yang lebih kecil sudah mulai menghilang, melarikan diri ke dalam tanah.

“Matahari terbit!” teriak Jin yang lain, suaranya penuh horor. “Kita harus pergi! Kita harus bersembunyi!”

“Tunggu! Aku belum memberi perintah!” Bondowoso meraung, mencoba mengendalikan kekacauan.

Tetapi, naluri untuk bertahan hidup lebih kuat daripada kepatuhan. Para Jin dan Demit itu mulai berhamburan. Mereka yang masih dalam wujud batu-batu raksasa menjatuhkan beban mereka begitu saja, menciptakan debu tebal. Mereka yang sedang memahat langsung lenyap, meninggalkan pekerjaan mereka yang belum selesai.

Dalam hitungan detik, lapangan yang sebelumnya ramai dengan aktivitas gaib berubah menjadi sunyi mencekam. Hanya tinggal Bandung Bondowoso yang berdiri di tengah ribuan candi yang setengah jadi.

Ia menoleh ke timur. Cahaya api itu, yang kini terlihat jelas, meniru sinar matahari pagi dengan sempurna.

Wajah Bondowoso memerah karena marah. Ia mendengarkan bunyi lesung yang masih menggema. Ia tahu. Ia telah diperdaya.

Roro Jonggrang menunggu di istana. Jantungnya berdebar kencang, antara harapan dan ketakutan akan pembalasan.

Tak lama kemudian, sesosok bayangan raksasa muncul di hadapannya. Itu adalah Bandung Bondowoso. Kemarahannya membakar udara di sekitarnya.

“Roro Jonggrang!” teriaknya, suaranya lebih menakutkan daripada gemuruh ribuan Jin. “Kau telah menipuku!”

Roro Jonggrang berusaha tetap tenang. Ia maju selangkah.

“Menipumu, Baginda? Aku hanya memenuhi kesepakatan,” balasnya, meskipun suaranya sedikit bergetar.

“Jangan bermain kata-kata denganku!” raung Bondowoso, menunjuk ke luar. “Aku hampir selesai! Aku akan menuntaskan tugas seribu candi itu!”

“Kau telah gagal,” sela Roro Jonggrang. “Matahari telah terbit. Suara lesung sudah terdengar, menandakan pagi telah tiba. Aturan telah ditetapkan: seribu candi dalam semalam.”

Bondowoso tertawa pahit, tawa yang terdengar seperti pecahan kaca.

“Kau pikir aku bodoh, Putri? Aku tahu itu adalah tipuan wanita desa! Aku tahu itu adalah api dan lesung! Itu bukan fajar!”

“Tetapi para Jinmu percaya,” kata Roro Jonggrang, melontarkan tantangan terakhir. “Mereka telah lari. Itu berarti pekerjaanmu tidak rampung. Sekarang, mari kita hitung, Baginda.”

Bondowoso mendesis marah. Ia membalikkan badan dan menghitung dengan mata kepalanya sendiri.

Candi-candi berdiri tegak, menjulang dalam barisan rapi. Mereka indah, kuat, tetapi jelas-jelas ada yang kurang.

Sembilan ratus sembilan puluh sembilan candi.

“Sembilan ratus sembilan puluh sembilan!” teriak Bondowoso, suaranya serak karena frustrasi. “Hanya kurang satu! Kau menghancurkan usahaku hanya demi satu candi terakhir!”

Roro Jonggrang menatapnya dengan pandangan dingin. “Kesepakatan adalah kesepakatan, Baginda. Kau telah gagal.”

Kemarahan Bandung Bondowoso mencapai puncaknya. Wajahnya membengkak, dan otot-ototnya menegang. Ia merasa harga dirinya, kekuatannya, dan seluruh kerajaannya telah dilecehkan oleh kecerdikan seorang wanita.

“Kau tidak akan selamat setelah menghinaku seperti ini, Roro Jonggrang,” gertaknya, melangkah mendekat.

“Hukumanku lebih ringan daripada dosa yang kau lakukan, Bondowoso. Kau menghancurkan negeriku, membunuh ayahku. Kegagalanmu adalah keadilan!” balas Jonggrang, mundur selangkah.

“Keadilan?” Bondowoso mencengkeram bahu Roro Jonggrang dengan kuat. “Kau menipu waktu! Kau menipu usahaku! Kau mencurangi takdir! Jika kau begitu ingin seribu candi itu selesai, aku akan menyempurnakannya sekarang juga!”

Bondowoso mengangkat tangan kirinya, memancarkan aura hitam pekat yang dingin. Kekuatan gaib itu menyelimuti Roro Jonggrang, membuatnya tak bisa bergerak, tak bisa berteriak.

“Jadikan dia, Tuan Putri yang sombong ini, sebagai pelengkap!” raung Bondowoso. “Jadikan dia arca keseribu! Jadikan dia candi terakhir yang akan menyempurnakan perjanjian ini!”

Kekuatan gaib yang dingin dan mematikan itu menembus kulit Roro Jonggrang, merangkak masuk ke dalam darahnya, ke tulangnya. Ia merasakan tubuhnya mengeras, perlahan-lahan berubah menjadi batu yang dingin.

“Bandung Bondowoso! Aku mengutukmu!” teriak Jonggrang, suaranya berubah menjadi gumaman berat.

Tetapi kutukan itu terlambat. Tubuh Roro Jonggrang membeku. Wajahnya yang cantik dan angkuh, matanya yang penuh perlawanan, semuanya menjadi kaku dan abadi. Ia berubah menjadi patung batu yang indah, sebuah arca yang menyerupai Dewi Durga.

Ia menjadi Candi ke-1000.

Ketika matahari benar-benar terbit, cahayanya menyinari hamparan candi yang megah dan sunyi itu.

Bandung Bondowoso berdiri di sana, di tengah ribuan mahakarya yang telah ia ciptakan. Ia melihat arca Dewi Durga yang baru, yang kini menjadi penanda candi ke-1000. Wajahnya tidak menunjukkan kemenangan, melainkan kekosongan dan penyesalan.

Ia telah mendapatkan seribu candi. Tetapi ia telah kehilangan segalanya.

Kerajaan Prambanan hancur, namun kehormatan Roro Jonggrang abadi dalam wujud arca batu itu.

Bandung Bondowoso, setelah menyaksikan akibat dari kemarahannya yang tak terkendali, akhirnya menyadari kesalahannya. Ia telah menggunakan kekuatan besar untuk tujuan yang salah, dan akhirnya dihukum oleh dirinya sendiri.

Para Dayang dan rakyat Prambanan hanya bisa menangis menyaksikan nasib Tuan Putri mereka. Meskipun Roro Jonggrang telah tiada, kisah perlawanannya menjadi semangat bagi mereka.

Bondowoso, yang hatinya hancur dan merasa sangat berdosa, meninggalkan tanah Prambanan. Ia tidak lagi memiliki ambisi untuk menaklukkan atau berkuasa. Ia menghilang ke arah timur, dan tidak pernah terdengar lagi kabarnya.

Sejak saat itu, candi-candi tersebut dikenal sebagai Candi Sewu, yang berarti Seribu Candi. Di antara candi-candi itu, arca Dewi Durga yang terbuat dari Roro Jonggrang berdiri sebagai pengingat abadi.

Legenda Roro Jonggrang mengajarkan kita sebuah kebenaran yang sederhana namun kuat: Kebohongan dan kesombongan, meskipun didukung oleh kekuatan yang besar, tidak akan pernah mengalahkan akal dan keberanian yang tulus. Roro Jonggrang, meskipun menggunakan tipu daya, melakukannya untuk melindungi harga diri dan nasib bangsanya, dan ia membayar mahal atas tipuannya. Sementara Bandung Bondowoso, yang bertindak atas nafsu dan amarah, akhirnya harus hidup dalam penyesalan abadi.

Candi Sewu, di bawah langit Jawa yang luas, hingga kini tetap menjadi saksi bisu, keindahan yang lahir dari tipu daya, kesombongan, dan kutukan cinta yang gagal. Ia adalah simbol bahwa segala tindakan, baik yang baik maupun yang buruk, pasti akan memiliki karmanya sendiri. Kita harus bijak dalam menggunakan anugerah dan kekuasaan yang kita miliki, agar kisah kita tidak berakhir tragis seperti kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.