“Minum ini, Bu. Biar cepat pulih.”
Rina meletakkan segelas cairan kuning keruh di meja samping tempat tidur. Aromanya agak manis, seperti campuran madu dan obat herbal murahan.
Ibu Siti terbatuk lemah, menutup mulutnya dengan tangan yang bergetar. Aktingnya sempurna. Tubuhnya terlihat kurus dan matanya sayu, persis seperti orang yang perlahan diracuni dalam waktu berbulan-bulan.
“Kamu… baik sekali, Nak,” suara Ibu Siti serak. “Ibu tidak tahu harus bagaimana tanpamu.”
Rina tersenyum, senyum yang menjijikkan bagi Ibu Siti. Itu adalah senyum predator yang melihat mangsanya sudah tak berdaya.
“Ah, Ibu bicara apa? Sudah kewajiban saya merawat Ibu,” kata Rina. Tangannya mengelus kepala Ibu Siti, namun sentuhan itu terasa dingin dan berjarak. “Ini dosis terakhir yang Ibu butuhkan. Setelah ini, Ibu pasti akan beristirahat dengan tenang.”
Napas Ibu Siti tertahan. Ini dia. Kata kunci ‘terakhir’.
“Terakhir?” Ibu Siti pura-pura bingung. “Maksudmu obatnya habis, Nak?”
“Ya, Bu. Habis,” Rina mengangguk. “Ini ramuan spesial, lho. Resep dari dokter yang sangat handal.”
Rina membantu Ibu Siti duduk. Ia menyodorkan gelas itu lebih dekat. Jantung Ibu Siti berdebar, bukan karena takut, tapi karena antisipasi. Permainan ini hampir selesai.
“Minum pelan-pelan ya, Bu.”
Ibu Siti meraih gelas itu. Tangannya gemetar. Rina mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya fokus pada gerakan tenggorokan Ibu Siti. Wajah Rina memancarkan ketidaksabaran, keinginan cepat-cepat melihat proses kematian itu dimulai.
“Aku… aku haus sekali,” ucap Ibu Siti.
Saat gelas itu sudah berada tepat di bibir Ibu Siti, tiba-tiba Ibu Siti menghentikan gerakannya. Ia tidak minum.
Rina mengernyit. “Kenapa, Bu? Segera minum.”
Ibu Siti tersenyum kecil. Senyum yang kini bukan lagi senyum orang sakit, melainkan senyum puas.
“Nak, aku punya pertanyaan kecil sebelum aku menelan ini.”
“Apa lagi, Bu? Jangan tunda-tunda.” Suara Rina mulai terdengar kesal.
“Apakah kamu yakin ini ‘ramuan spesial’?” tanya Ibu Siti, matanya menatap tajam langsung ke mata Rina.
Wajah Rina berubah seketika. Sedikit panik, namun ia cepat menutupinya.
“Tentu saja, Bu. Ibu jangan berpikir macam-macam.”
“Aku tidak berpikir macam-macam,” Ibu Siti meletakkan gelas itu kembali ke meja. Kali ini, tangannya tidak lagi gemetar. “Aku hanya ingin memastikan bahwa dosisnya sudah benar-benar sesuai dengan yang aku tukar.”
Hening. Udara di kamar itu terasa membeku.
Rina melompat berdiri. Ekspresi ramah itu hilang total, digantikan wajah pucat dan penuh ketakutan.
“Ibu bicara apa? Ibu sakit, Bu! Jangan mengarang!” Rina berteriak, suaranya naik satu oktaf.
“Sakit?” Ibu Siti tertawa pelan, tawa yang menusuk telinga Rina. “Ya, aku memang sakit. Sakit hati melihat kerakusanmu, Rina.”
Ibu Siti bangkit dari tempat tidur. Gerakannya lincah, jauh dari kesan wanita tua yang hampir sekarat. Ia berjalan ke lemari kecil di sudut kamar dan membuka laci tersembunyi.
Rina mundur selangkah. Kakinya lemas. Ia tidak bisa bergerak.
Ibu Siti mengambil sebuah kotak penyimpanan dari laci itu. Ia membukanya, memperlihatkan isinya di bawah lampu kamar yang terang.
Isinya: dua botol obat, beberapa blister pil, dan sebuah flash drive kecil.
“Kamu ingat botol vitamin yang aku selalu minum sebelum tidur?” tanya Ibu Siti sambil mengangkat salah satu botol. “Yang kamu selalu pastikan aku meminumnya di depanmu?”
Rina menelan ludah. Ia hanya bisa menggeleng.
“Botol yang kamu pikir isinya aku ganti dengan racun dosis rendah itu, Rina,” lanjut Ibu Siti. “Botol ini yang isinya kamu campurkan ke dalam teh setiap pagi selama enam bulan terakhir.”
Ibu Siti menggelengkan kepala. “Sayangnya, botol ini tidak pernah berisi racun. Sejak awal, aku sudah tahu niatmu.”
Rina terhuyung. “Tidak mungkin! Kamu… kamu bohong!”
“Bohong? Aku tidak butuh kebohongan lagi,” Ibu Siti melempar botol itu ke lantai, menimbulkan bunyi dentingan kaca. “Aku sudah menukar isinya. Botol yang kuminum setiap pagi, yang isinya kamu yakini racun, hanyalah plasebo. Isinya gula dan sedikit perisa.”
Rina menunjuk gelas di meja dengan tangan gemetar. “Lalu, yang di gelas itu? Apa isinya?”
“Oh, yang ini? Yang ini racun asli. Murni, dosis mematikan. Sama persis dengan yang kamu simpan di belakang rak bumbu dapurmu.”
Mata Rina membelalak. Itu adalah cadangan racun yang ia beli dari pasar gelap. Bagaimana Ibu Siti tahu?
“Aku tahu, Rina,” Ibu Siti membaca pikiran Rina. “Aku tahu semua yang kamu lakukan. Aku membiarkanmu melakukannya.”
“Kau gila! Kenapa kau membiarkan dirimu diracun? Kenapa kau tidak lapor polisi?” Rina berteriak histeris.
“Lapor polisi? Untuk apa? Agar kamu hanya ditangkap karena percobaan pembunuhan? Itu terlalu cepat. Itu tidak memuaskan,” Ibu Siti tersenyum kejam.
Wajah Ibu Siti kini tampak sangat berbeda. Semua kepolosan, kebaikan, dan kelemahan yang selama ini Rina lihat hanyalah topeng tipis.
“Aku ingin kamu melihat dirimu jatuh, Rina,” ujar Ibu Siti, suaranya menusuk. “Aku ingin kamu berjuang. Aku ingin kamu masuk penjara seumur hidup atas kejahatan yang kamu pikir sudah sempurna kamu laksanakan.”
Rina mulai terhuyung-huyung mendekati Ibu Siti. “Kau iblis! Kau tahu aku tidak punya apa-apa sebelum menikah dengan anakmu! Kau janji akan menyayangiku!”
“Menyayangimu?” Ibu Siti tertawa terbahak-bahak. “Jangan bercanda! Aku membencimu sejak kamu pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini!”
Rina tersentak. “Apa?”
“Ya! Aku membencimu! Kamu miskin, kamu terlalu cantik, dan kamu terlalu ambisius!” Ibu Siti meludah, kata-katanya penuh kebencian yang terpendam selama bertahun-tahun. “Kamu mengambil anakku dariku! Dan kini kamu berani mengincar hartaku? Harta suamiku yang aku rawat selama empat puluh tahun?”
“Aku hanya mau kehidupan yang layak!” Rina membela diri, air mata mulai mengalir, bukan air mata penyesalan, tapi kemarahan.
“Hidup layak? Dengan membunuh orang? Kamu tidak layak mendapat apa-apa!” Ibu Siti mengangkat flash drive kecil itu. “Ini. Ini semua bukti. Rekaman suaramu saat kamu menelepon bandar racun. Rekaman CCTV tersembunyi di dapur saat kamu mencampurkan bubuk aneh ke dalam supku. Aku sudah merekam semuanya, Rina. Setiap tetes air mataku, setiap batukku, semua itu akting sempurna.”
Rina merasa kepalanya berputar. Semua usahanya, semua kesabarannya, semua rasa jijiknya saat harus merawat wanita tua ini, semua sia-sia.
“Berikan itu padaku!” Rina melompat. Ia menerjang Ibu Siti.
Ibu Siti tidak mengelak. Ia sudah siap.
Mereka bergumul. Rina, didorong kepanikan absolut, mencengkeram tangan Ibu Siti, mencoba merebut flash drive itu.
“Tidak akan!” Ibu Siti berteriak.
“Kau tidak boleh punya itu! Aku akan hancurkan kau!” Rina menjerit.
Rina mendorong Ibu Siti keras ke tembok. Ibu Siti terbentur, tapi kotak bukti itu masih ia pegang erat. Rina segera mencari sesuatu untuk memukul Ibu Siti. Matanya menangkap guci keramik antik di atas lemari pajangan.
Rina meraih guci itu.
“Jauhkan tangan kotormu dari guci suamiku!” bentak Ibu Siti.
Rina tidak peduli. Ia mengayunkan guci itu ke arah Ibu Siti.
Namun, Ibu Siti bergerak lebih cepat. Ia menunduk dan menyikut perut Rina. Rina meringis, ayunannya meleset, dan guci itu terlepas dari tangannya.
Guci itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.
Rina semakin gelap mata. Ia tidak peduli lagi pada harta, yang ia inginkan hanyalah menghilangkan bukti dan membungkam Ibu Siti.
Rina menerjang lagi, kali ini ia mencengkeram leher Ibu Siti.
“Mati kau, wanita tua sinting!” teriak Rina.
Ibu Siti mencengkeram pergelangan tangan Rina. Meskipun tua, Ibu Siti memiliki kekuatan yang mengejutkan, kekuatan yang lahir dari kebencian dan rencana panjang.
“Kamu yang akan mati, Rina!” Ibu Siti melawan, kakinya menendang lutut Rina.
Rina tersandung. Saat itu terjadi, Ibu Siti memanfaatkan momen. Ia merogoh saku baju tidurnya.
Rina tersentak. Ia mengira Ibu Siti mengambil senjata. Tapi itu bukan senjata.
Itu adalah dua kantong plastik kecil. Salah satunya berisi serbuk putih. Kantong lainnya berisi serbuk kuning.
“Kamu tahu ini apa?” tanya Ibu Siti, matanya memancarkan kegilaan yang setara dengan Rina.
Rina menggeleng, ia masih berusaha mencengkeram leher Ibu Siti.
“Yang putih, ini bumbu masakan. Yang kuning, ini sisa racun yang kamu selipkan di tehku kemarin lusa,” Ibu Siti menyeringai.
Rina terkejut dengan keberanian Ibu Siti.
Dalam sekejap, Ibu Siti menarik tangannya ke belakang dan mengayunkan serbuk kuning itu ke udara, tepat di wajah Rina.
Serbuk racun itu mengenai mata, hidung, dan mulut Rina.
Rina seketika melepaskan cengkeramannya pada Ibu Siti. Ia terhuyung mundur, matanya perih, tenggorokannya tercekat, dan ia mulai batuk hebat.
“Uhuk! Uhuk!” Rina mencengkeram lehernya sendiri.
“Bagaimana rasanya, Rina? Rasa dari racun yang sudah kamu persiapkan begitu lama?” Ibu Siti berbicara dengan nada dingin, berdiri tegak menonton Rina menderita.
Rina tidak bisa bernapas. Serbuk itu bekerja lebih cepat daripada yang ia bayangkan, mungkin karena konsentrasinya tinggi dan langsung terhirup.
“Air! Air!” Rina berusaha meraih gelas di meja, gelas yang berisi ramuan racun dosis terakhir yang seharusnya diminum Ibu Siti.
Ibu Siti menjentikkan kakinya. Gelas itu jatuh ke lantai, isinya tumpah.
“Tidak ada air untukmu, Rina. Kamu harus menghadapi dosamu sekarang juga.”
Rina ambruk ke lantai. Ia mencakar-cakar ubin keramik. Wajahnya mulai membiru. Otaknya tahu, ini adalah akhir.
Ia mencoba mengatakan sesuatu, mungkin permintaan maaf, mungkin sumpah serapah terakhir, tapi yang keluar hanyalah suara erangan mengerikan yang tercekik.
Ia berguling, berusaha meraih flash drive yang masih dipegang Ibu Siti. Greed is a tenacious parasite. Bahkan di ambang kematian, ia masih ingin menghancurkan bukti kejahatannya.
Rina mencengkeram kaki Ibu Siti, tubuhnya kejang-kejang. Cengkeramannya itu perlahan melemah.
Ibu Siti menatap ke bawah. Ia melihat mata Rina, yang kini dipenuhi kengerian dan penyesalan.
“Selamat beristirahat, Nak. Harta ini tidak akan pernah menjadi milikmu,” bisik Ibu Siti.
Tubuh Rina lemas. Tangannya terlepas dari kaki Ibu Siti. Keheningan tiba-tiba meliputi kamar itu.
Ibu Siti menarik napas panjang. Ia mengambil ponsel dari saku dan menelepon Polisi.
“Halo? Saya perlu bantuan segera. Ada orang yang mencoba membunuh saya di rumah saya. Tapi dia sudah tewas sekarang,” katanya dengan suara tenang dan datar, seolah ia baru saja melaporkan seekor tikus mati.
Beberapa jam kemudian, rumah mewah itu dipenuhi lampu biru. Polisi dan tim forensik bergerak cepat. Jenazah Rina sudah dievakuasi.
Di ruang tamu, Ibu Siti duduk tegak di sofa. Wajahnya kini kembali menunjukkan kepedihan, kepedihan yang sangat meyakinkan. Di sebelahnya duduk putranya, Arya, yang baru tiba dari perjalanan dinasnya yang panjang. Arya menangis tersedu-sedu, memeluk ibunya.
“Ibu… Ibu kenapa tidak cerita padaku? Rina… dia benar-benar sekejam itu?” Arya menatap ibunya dengan mata merah.
Ibu Siti mengelus punggung Arya. “Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak mau mengganggumu. Ibu pikir Ibu bisa mengatasi semuanya. Tapi… Ibu tidak menyangka dia sejahat ini.”
Seorang petugas polisi senior, Kompol Bima, duduk di depan mereka. Ia memegang kotak bukti yang diserahkan Ibu Siti, termasuk flash drive berisi rekaman suara dan video.
“Ibu Siti, dari bukti yang kami kumpulkan, termasuk temuan residu racun di tubuh korban dan barang bukti yang Ibu serahkan, kasusnya sudah sangat jelas,” kata Kompol Bima.
“Jelas bagaimana, Pak?” tanya Arya.
“Istri Anda, Rina, sudah merencanakan pembunuhan Ibu Siti selama berbulan-bulan. Namun, Ibu Siti menyadari hal itu, mengganti semua obatnya dengan plasebo, dan mengumpulkan bukti,” jelas Kompol Bima. “Saat Ibu Rina datang dengan dosis mematikan terakhir, terjadi perkelahian di mana Ibu Rina, dalam upaya terakhirnya untuk menghancurkan bukti, secara tidak sengaja menghirup racun yang ia bawa sendiri.”
Arya menutup wajahnya. “Astaga.”
“Ibu Siti, tindakan Anda melawan Rina kami anggap sebagai pembelaan diri yang sah, mengingat bukti rekaman menunjukkan Rina berusaha menyerang dan mencekik Anda,” kata Kompol Bima.
Ibu Siti mengangguk lemah, memainkan peran wanita rapuh yang baru saja lolos dari maut.
“Semua sudah berakhir, Nak,” bisik Ibu Siti kepada Arya. “Ibumu selamat.”
Namun, di balik mata Ibu Siti, tidak ada kelegaan seorang korban. Hanya ada kepuasan seorang pemenang.
Setelah Kompol Bima dan pasukannya pergi, Arya menatap ibunya.
“Aku tidak percaya Rina bisa sejahat itu, Bu. Aku buta karena cinta. Dia hanya mengincar harta kita,” kata Arya, frustrasi.
“Memang begitu, Nak. Dunia ini kejam,” jawab Ibu Siti, suaranya kembali dingin saat hanya ada mereka berdua. “Dunia ini penuh orang serakah yang berpura-pura baik.”
Ibu Siti bangkit dan berjalan menuju jendela, menatap kebun yang dipenuhi bunga mawar.
“Tapi, Bu… kenapa Ibu tidak lapor dari awal? Kenapa Ibu mempertaruhkan nyawa Ibu sendiri dengan membiarkannya terus mencoba meracuni Ibu?” tanya Arya.
Ibu Siti berbalik. Ekspresinya sedikit mengeras.
“Karena aku tidak ingin dia hanya mendapat hukuman ringan, Arya,” Ibu Siti menjelaskan, suaranya tajam. “Kalau aku lapor saat dia baru mencampur sedikit racun, dia mungkin hanya dihukum lima tahun. Aku tahu dia. Dia akan keluar dan mencari cara lain untuk mencelakai kita.”
“Aku ingin dia menderita. Aku ingin dia di penjara selamanya, tidak bisa lagi menyentuh apa pun milik kita,” ucap Ibu Siti, penuh tekad.
Arya menatap ibunya, merasa ada sesuatu yang tidak wajar dari ibunya. Kebencian yang terlalu mendalam.
“Bu, aku mengerti Ibu marah, tapi… cara Ibu melakukannya… itu sangat berbahaya.”
Ibu Siti tersenyum, senyum yang kali ini tidak ia sembunyikan dari Arya. Itu adalah senyum licik.
“Hidup ini adalah permainan, Arya. Dan aku selalu suka menjadi pemain catur, bukan pion. Rina pikir dia sedang meracuniku. Padahal, akulah yang memberinya tali untuk menggantung dirinya sendiri.”
Ibu Siti berjalan kembali dan duduk di samping Arya, mencengkeram tangan putranya erat-erat.
“Sejak awal kamu menikahinya, aku tahu dia salah. Aku membencinya karena dia membuatmu menjauh dariku, Arya,” bisik Ibu Siti, kini air mata yang tulus (kebenciannya) mulai menetes. “Aku menunggu dia membuat kesalahan fatal. Dan dia memberikannya kepadaku di atas nampan emas.”
Arya merinding. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Ibunya bukanlah korban yang polos. Ibunya adalah dalang yang sabar, yang sudah mengatur nasib menantunya sejak hari pernikahan mereka. Rasa cinta yang ditunjukkan Ibu Siti kepada Rina selama ini hanyalah umpan yang sangat mahal.
Beberapa hari setelah pemakaman Rina (yang dilakukan dengan sederhana dan tanpa dihadiri keluarga besarnya), Arya duduk sendirian di kantornya. Ia membaca surat wasiat ayahnya sekali lagi.
Semua harta, rumah, dan aset diserahkan sepenuhnya kepada Ibu Siti. Arya hanya mendapatkan bagian kecil berupa saham perusahaan yang tidak dapat dijual tanpa persetujuan ibunya.
Tiba-tiba, Ibu Siti masuk ke kantor itu. Ia membawa secangkir teh panas.
“Ini teh jahe kesukaanmu, Nak,” katanya, meletakkan cangkir di meja.
Arya menatap cangkir itu. Bayangan Rina yang selalu mencampurkan bubuk aneh ke dalam minuman Ibu Siti melintas di benaknya.
“Terima kasih, Bu,” kata Arya, tanpa menyentuhnya.
“Kamu masih memikirkan Rina?” tanya Ibu Siti lembut.
“Aku memikirkan betapa menakutkannya manusia itu, Bu,” jawab Arya, menatap ibunya lurus-lurus. “Bagaimana seseorang bisa merencanakan kejatuhan orang lain dengan begitu rapi, dengan kesabaran yang luar biasa.”
Ibu Siti tersenyum, bangga. “Ya, itu butuh kecerdasan, Arya. Hanya sedikit orang yang memilikinya.”
Arya menghela napas. Ia tidak lagi membicarakan Rina. Ia membicarakan ibunya.
“Aku ingin Ibu tahu,” kata Arya, suaranya mantap. “Aku lega Ibu selamat. Tapi aku juga takut, Bu.”
“Takut padaku?” Ibu Siti tertawa, berusaha terdengar santai.
“Ya. Aku takut pada kebencian Ibu,” jawab Arya. “Rina memang serakah. Dia pantas mendapat karma. Tapi Ibu juga membiarkan kebencian itu meracuni Ibu selama bertahun-tahun, hanya demi melihatnya menderita.”
Ibu Siti terdiam. Wajahnya langsung tegang.
“Aku melakukannya demi kita, Arya. Demi memastikan harta ini aman,” bela Ibu Siti.
“Harta tidak ada artinya jika kita harus hidup dikelilingi kebencian seperti ini, Bu,” Arya menunduk. “Aku akan tetap di sini, aku akan bekerja untuk Ibu. Tapi aku harus menjauh sebentar. Aku harus membersihkan pikiranku.”
Ibu Siti panik. Meninggalkan Arya adalah hal yang paling ia takuti. Semua perencanaan ini ia lakukan agar ia dan Arya tetap bersama, menguasai warisan Ayah.
“Pergi? Tidak, Arya! Kamu tidak boleh pergi!” Ibu Siti berteriak. “Ibu baru saja kehilangan istrimu! Ibu tidak bisa kehilangan kamu juga!”
“Ibu tidak kehilangan dia, Bu. Ibu yang menyingkirkannya,” koreksi Arya pelan. “Aku hanya perlu waktu untuk memahami siapa Ibu sebenarnya.”
Ibu Siti berdiri, matanya berkaca-kaca. Ia menyadari bahwa kemenangan atas Rina ternyata adalah kekalahan besar dalam hubungannya dengan putra satu-satunya.
“Jadi, ini karmaku?” tanya Ibu Siti, suaranya serak. “Aku menyingkirkan racun, tapi aku kehilanganmu karena caraku melakukannya?”
Arya tidak menjawab. Ia hanya mengambil kunci mobil dan koper kecil.
Sebelum keluar dari ruangan, Arya berbalik ke arah ibunya.
“Dosa Rina adalah keserakahan yang membutakannya,” kata Arya. “Tapi dosa Ibu adalah kebencian yang sama-sama membutakan. Dia mati tercekik oleh dosanya sendiri. Dan Ibu, Ibu akan hidup tercekik oleh kesendirian Ibu.”
Arya pergi.
Ibu Siti berdiri terpaku di tengah ruangan, hanya ditemani cangkir teh jahe yang mendingin dan keheningan yang mematikan. Ia memenangkan semua harta, ia menyingkirkan musuhnya, tetapi ia kini sendirian di rumah besar yang sunyi, ditemani kebencian yang ia tanam sendiri.
[PESAN MORAL]
Keserakahan sering kali membuat kita buta, mengira kita bisa mengontrol nasib orang lain. Namun, jangan pernah meremehkan kekuatan kebencian terpendam. Menyingkirkan racun dari luar belum tentu membuat hati kita bersih. Azab terbesar bukanlah kematian yang cepat, tetapi hidup dalam kemenangan yang hampa, tercekik oleh dosa yang kita tanam di dalam diri sendiri.