AZAB! M4t1 Terjerat Dosa, Ramuan Rahasia Untuk Mertua Berujung Petaka! (Lanjutan Hal. 2)

Lanjutan Cerita: Anda sedang membaca halaman 2. Silakan lanjutkan membaca di bawah ini...

Riana berdiri di ambang pintu, matanya menatap Ibu Sari yang sedang duduk di kursi goyang. Sore itu, Riana merasa waktunya sudah habis. Kesabarannya sudah terkuras.

“Ibu, bagaimana? Ibu terlihat semakin pucat akhir-akhir ini,” Riana memulai, suaranya dibuat sehalus mungkin, seperti beludru yang menyembunyikan jarum.

Ibu Sari menarik napas panjang, pura-pura kesulitan. “Iya, Riana. Nafasku berat sekali. Mungkin sebentar lagi…”

“Sebentar lagi Ibu bisa beristirahat total. Tapi Ibu harus selesaikan dulu urusan yang tertunda, Bu,” potong Riana cepat. Dia meletakkan dokumen-dokumen pengalihan kuasa di meja samping Ibu Sari.

Ibu Sari melirik dokumen itu, lalu ke wajah Riana. Senyum di bibir Riana terlalu lebar, terlalu palsu.

“Urusan apa, Nak? Bukankah Bayu sudah mengurus beberapa hal?” tanya Ibu Sari, suaranya lemah.

“Bukan itu, Bu. Ini soal properti. Kita harus segera membalik nama beberapa aset penting. Supaya—” Riana menggantung kalimatnya. “Supaya kalau terjadi apa-apa, tidak ada masalah birokrasi, Bu.”

Riana duduk di lantai, pura-pura memijat kaki Ibu Sari. Jari-jarinya yang dingin menyentuh pergelangan kaki Ibu Sari.

“Ibu harus percayakan ini pada Riana. Riana janji akan menjaga semua harta ini sampai Bayu siap mengelolanya,” Riana membujuk, matanya berkaca-kaca buaya.

Ibu Sari menarik kakinya perlahan. “Kamu ini kenapa terburu-buru sekali, Riana? Aku belum sekarat. Aku masih bisa bernapas.”

“Justru itu, Bu! Mumpung Ibu masih sadar. Mumpung Ibu masih waras,” Riana menaikkan nada suaranya tanpa sadar.

Mata Ibu Sari langsung menajam, hilang semua kepura-puraan lemahnya. Hanya sepersekian detik, tapi Riana merasakannya. Seperti ditampar.

“Maksudmu aku sudah tidak waras, Riana?” tuntut Ibu Sari.

Riana tertawa canggung. “Astaga, Ibu. Bukan begitu! Maksudku, sebelum penyakit jantung Ibu makin parah. Ibu tahu, akhir-akhir ini Ibu sering lupa minum obat. Aku khawatir.”

Ibu Sari mengangguk. “Ya, memang. Aku sering lupa. Tapi aku selalu ingat kalau obat jantungku kamu yang menyiapkannya.”

Senyum Riana sedikit kaku. “Tentu saja, Bu. Itu kewajibanku sebagai menantu.”

“Kewajiban atau tujuan?”

Seketika ruangan terasa dingin. Riana menghentikan pijatannya.

“Ibu bicara apa?”

“Tujuanmu. Tujuanmu memberiku pil itu setiap pagi dan malam. Tujuanmu memaksaku menandatangani semua kertas itu. Tujuanmu menungguku mati,” kata Ibu Sari, santai, seolah sedang mendiskusikan cuaca.

Darah Riana serasa berhenti mengalir. Ini bukan bagian dari rencana. Ibu Sari seharusnya sudah terlalu lemah untuk melontarkan tuduhan seperti ini.

“Ibu sedang berhalusinasi,” kata Riana, berusaha tetap tenang. “Obat jantung Ibu memang keras. Kadang-kadang membuat pikiran Ibu jadi aneh.”

“Oh, ya? Pil yang kamu berikan padaku tiga bulan lalu,” Ibu Sari melanjutkan, “yang warnanya sedikit lebih gelap dari pil yang diresepkan Dokter Hari. Kamu ganti kan?”

Riana melompat berdiri. “Aku tidak tahu Ibu bicara apa! Aku tidak pernah mengganti apapun! Itu tuduhan serius, Bu!”

“Sangat serius, Riana,” Ibu Sari mengiyakan, masih duduk tenang. “Aku tahu kamu sudah meracuniku perlahan. Aku tahu kamu ingin menguasai rumah ini, warisan ini, dan membuat Bayu jadi duda kaya.”

Riana tertawa, tawa yang terdengar histeris dan panik. “Ini konyol! Aku tidak akan melayani Ibu yang sakit begini! Aku akan panggil dokter!”

“Silakan panggil,” tantang Ibu Sari. “Tapi dokter tidak akan menemukan jejak racun di tubuhku.”

Riana mengerutkan dahi. “Apa?”

“Karena aku tidak meminumnya,” bisik Ibu Sari, nadanya dipenuhi kemenangan dingin.

Riana melangkah mundur. “Ibu bercanda.”

“Tidak, Riana. Aku sama sekali tidak bercanda. Sejak awal, aku sudah tahu niat busukmu. Aku sudah melihat ambisimu di matamu saat pernikahanmu dengan Bayu.”

“Kalau begitu, kenapa Ibu diam saja? Kenapa Ibu pura-pura sakit?” Riana menuntut, suaranya dipenuhi kemarahan dan ketakutan.

Ibu Sari menyandarkan punggungnya di kursi rotan. Ekspresinya berubah. Bukan lagi ekspresi ibu tua yang lemah, melainkan seorang ratu yang baru saja memenangkan perang psikologis.

“Aku diam? Aku pura-pura? Tentu saja. Aku harus mengumpulkan bukti, Riana. Kalau aku menuduhmu di hari pertama, kamu akan kabur. Kamu akan bebas.”

Sari mengeluarkan sebuah ponsel kecil yang tersembunyi di balik bantalnya.

“Tapi aku tidak mau kamu bebas, Nak. Aku ingin melihat kamu menderita. Aku ingin kamu masuk penjara seumur hidup karena mencoba membunuhku. Orang yang kamu benci sejak hari pertama kamu menginjakkan kaki di rumah ini.”

Riana melihat ponsel itu. Jantungnya berdebar kencang. Itu ponsel perekam.

“Apa yang Ibu rekam?” tanya Riana, suaranya parau.

“Banyak. Saat kamu memasukkan pil yang seharusnya plasebo ke dalam botol resepku. Saat kamu berbisik di telepon pada temanmu bahwa warisan ini harus segera dicairkan. Dan yang terbaik dari semuanya,” Ibu Sari menyeringai, “adalah saat kamu bergumam di dapur, ‘cepat mati, wanita tua!’ sebelum kamu menuangkan racun itu ke tehku minggu lalu.”

Riana merasakan darahnya mendidih. Dia mendekat ke arah Ibu Sari dengan mata yang menyala-nyala.

“Ibu menyebalkan!” teriak Riana. “Ibu memang pantas mati! Ibu selalu memandang rendah aku! Ibu selalu menganggap aku tidak setara dengan Bayu! Semua karena Ibu iri melihat kebahagiaan kami!”

Ibu Sari tertawa keras, tawa yang tidak sehat, tapi penuh kemenangan. “Kebahagiaan? Bayu adalah anakku satu-satunya. Dan kamu? Kamu hanya parasit. Aku benci melihat Bayu begitu bodoh mencintai wanita serakah sepertimu. Jadi, aku biarkan kamu mencoba. Aku biarkan kamu terus melakukan dosa itu, demi memastikan hukumannya maksimal!”

“Bajingan tua!” Riana meraung, tangannya terangkat, siap menyerang.

“Coba saja sentuh aku. Satu sentuhan, Riana, dan rekaman ini akan terkirim otomatis ke polisi. Mereka hanya perlu 10 menit untuk sampai ke sini,” Ibu Sari menantang, mengangkat ponsel di udara.

Riana berhenti, tangannya gemetar di udara. Dia tahu Sari tidak main-main.

“Selama ini, pil yang kamu berikan padaku, aku ganti dengan vitamin C dosis tinggi,” ujar Ibu Sari, suaranya mengejek. “Aku tidak sekarat, Riana. Aku sehat. Justru kamu yang sekarang dalam bahaya. Penjaramu sudah menunggu.”

Riana menunduk, napasnya tersengal. Ini adalah kekalahan telak. Semua rencananya, semua aktingnya, semua uang yang dia keluarkan untuk mendapatkan racun itu, sia-sia.

“Kamu tidak bisa melakukan ini padaku,” Riana berbisik, suaranya kembali memohon, mencoba taktik terakhir. “Aku istrinya Bayu. Kalau aku dipenjara, Bayu akan hancur.”

“Bagus. Itu harga yang harus kamu bayar karena berani mengincar hartaku dan anakku. Aku rela melihat Bayu hancur sementara waktu, daripada melihat kamu hidup kaya raya dari kematianku,” balas Ibu Sari dingin.

“Aku akan bilang ke semua orang, kamu yang gila! Kamu yang mencoba mencelakai aku!” Riana mengancam.

“Silakan. Tapi bukti audio suaramu lebih kuat daripada tangisan palsumu. Sekarang, aku mau kamu keluar dari rumah ini. Sekarang juga. Jangan bawa apapun kecuali pakaian di badanmu.”

Riana menggeleng, air mata palsu pun sudah hilang, digantikan oleh air mata keputusasaan yang nyata. “Tidak! Aku tidak akan pergi! Aku istri Bayu! Aku berhak atas rumah ini!”

“Tidak. Kamu tidak berhak atas apapun. Kamu hanya berhak atas sel penjara,” Ibu Sari berdiri, tubuhnya tegak, tidak ada lagi goyangan akibat penyakit jantung yang ia pura-purakan.

Ibu Sari meraih telepon rumah, tangannya bergerak cepat.

“Halo? Kepolisian? Saya mau melaporkan percobaan pembunuhan terencana di kediaman saya…”

Riana panik. Ini sungguhan. Dia akan ditangkap sebentar lagi.

Riana tidak punya pilihan lain. Dia harus menghancurkan ponsel itu.

Dengan kecepatan yang tidak disangka Ibu Sari, Riana menerjang. Dia tidak peduli lagi dengan ancaman. Yang penting, rekaman itu lenyap.

BRAK!

Riana menubruk Ibu Sari. Ibu Sari yang baru saja berdiri terhuyung. Ponsel kecil itu terlepas dari genggaman Sari dan terpental ke bawah sofa.

“Dasar kurang ajar!” teriak Ibu Sari, mendorong Riana sekuat tenaga.

Keduanya kini berada dalam pergumulan fisik yang brutal. Ibu Sari, meskipun usianya sudah tua, didorong oleh kebencian yang kuat, memberinya kekuatan tak terduga. Riana didorong oleh keputusasaan untuk bertahan hidup.

Riana mencengkeram lengan Ibu Sari, mencoba mencari tahu di mana liontin kunci brankas itu berada.

“Berikan kuncinya! Berikan sekarang!” Riana berteriak, suaranya serak.

“Tidak akan! Mati saja kau, di dalam sel!” Ibu Sari balas membentak, tangannya mencakar wajah Riana.

Riana menjerit kesakitan. Dia mundur sedikit, mengusap pipinya yang berdarah.

Saat Riana lengah, Ibu Sari mengambil kesempatan. Dia meraih vas keramik di meja samping dan mengayunkannya ke arah Riana.

PRANGG!

Vas itu menghantam bahu Riana. Riana meringis, tapi rasa sakit itu justru semakin membuatnya marah.

“Kalau aku harus dipenjara, Ibu juga harus mati! Aku akan pastikan Ibu tidak bisa bersenang-senang menertawakan aku!” Riana berteriak, matanya merah.

Terdengar suara pintu depan terbuka. Itu Bayu.

“Ada apa ini? Ibu? Riana? Kenapa berantakan sekali?” Bayu terlihat bingung melihat vas pecah dan dua wanita yang saling mencengkeram.

Ibu Sari segera melepaskan diri dari Riana, berpura-pura terengah-engah dan memegang dadanya. Akting itu kembali sempurna.

“Bayu! Tolong Ibu! Riana… dia mencoba membunuh Ibu!” Ibu Sari menangis, air matanya deras mengalir.

“Apa?! Riana, apa yang kamu lakukan?!” Bayu menatap Riana dengan tatapan tidak percaya.

Riana menggeleng cepat. “Tidak, Sayang! Ibu yang memulai! Dia menuduhku meracuninya! Padahal dia sendiri yang gila! Dia bahkan memukulku dengan vas!” Riana menunjukkan bahunya yang memar.

Bayu bingung. Dia mencintai istrinya, tapi dia tidak pernah meragukan ibunya.

“Ibu, jelaskan!” tuntut Bayu.

Ibu Sari berjalan tertatih ke arah Bayu, tangannya gemetar. “Dia… dia memasukkan racun ke pil jantung Ibu. Dia mau Ibu mati agar bisa menguasai semua harta kita! Dia mengakuinya, Bayu!”

Riana tahu, Bayu akan selalu memilih ibunya. Terutama jika menyangkut harta warisan.

“Bayu, aku tidak melakukan itu! Ibu menukar obatnya, dia ingin menjebakku!” Riana memohon.

Bayu melihat wajah Ibunya yang pucat, mendengar isakan tulus itu. Lalu ia melihat Riana yang masih terlihat marah dan penuh perhitungan.

“Riana… katakan ini bohong,” Bayu berbisik.

“Ini bohong, Sayang! Ibu gila!”

“Kalau Ibu gila, kenapa vasnya pecah? Kenapa Ibu sampai memanggil polisi tadi?” Bayu menoleh ke telepon rumah yang gagangnya masih tergantung.

Riana tahu dia sudah kalah. Dia tidak bisa meyakinkan Bayu.

“Keluar, Riana,” ujar Bayu, nadanya datar. “Keluar dari rumah ini sekarang.”

“Bayu…”

“KELUAR! Aku tidak mau melihatmu lagi sebelum semua ini jelas!” Bayu berteriak, mendorong Riana ke arah pintu.

Riana tidak melawan Bayu. Dia membiarkan dirinya didorong, tapi matanya tetap terpaku pada Ibu Sari, yang kini tersenyum kemenangan dari balik bahu Bayu.

“Ini belum selesai, Ibu Sari,” Riana mendesis sebelum melangkah keluar.

Bayu membanting pintu. Riana berdiri di luar, di kegelapan malam. Ia tidak membawa tas, dompet, atau mobil. Ia hanya punya satu hal yang ia bawa: dendam yang membara.


Dua jam kemudian, Riana kembali. Dia tidak masuk lewat pintu depan, tapi lewat jendela belakang yang ia tahu selalu sedikit longgar.

Bayu sudah tertidur pulas di kamar, kelelahan setelah pertengkaran emosional itu. Hanya Ibu Sari yang masih terjaga, duduk di ruang kerjanya, menghitung lembar-lembar saham dan surat wasiat.

Riana tahu dia tidak punya waktu lagi untuk permainan racun lambat. Ponsel dengan bukti rekaman itu masih berada di bawah sofa. Riana harus menyelesaikan Ibu Sari sekarang sebelum pagi tiba dan Sari sempat mengirim bukti itu.

Riana mengendap-endap masuk ke ruang kerja. Ibu Sari memunggunginya.

Di tangan Riana, bukan lagi pil kecil yang mudah ditukar. Ini adalah botol kaca kecil berisi cairan bening, konsentrat racun yang ia simpan sebagai cadangan. Dosis yang mematikan dalam hitungan menit.

“Senang melihat tawa kemenangan di wajah Ibu?” Riana berbisik, berdiri tepat di belakang Ibu Sari.

Ibu Sari terlonjak kaget. Ia membalikkan kursi kerjanya dengan cepat. Matanya melebar melihat Riana.

“Kamu kembali? Berani sekali kau!”

“Aku harus kembali. Aku tidak bisa membiarkan kamu mengirim aku ke penjara, Ibu,” Riana mengangkat botol kecil itu. “Tidak ada lagi plasebo, Bu. Ini adalah penutupnya.”

Ibu Sari melihat cairan itu. Baunya samar, seperti kacang almond pahit yang manis. Dia tahu itu racun sianida tingkat tinggi.

“Tidak! Aku sudah menyuruhmu pergi!” teriak Ibu Sari, mencoba meraih telepon.

Riana lebih cepat. Dia menampar telepon itu hingga jatuh.

“Permainan sudah selesai. Ibu menang karena Ibu licik. Tapi aku yang akan mengakhiri permainan ini. Kamu mau bukti? Ambil saja buktimu dari neraka!”

Riana mencengkeram dagu Ibu Sari. Ibu Sari meronta. Kedua tangannya berusaha meraih wajah Riana, tapi cengkeraman Riana kuat.

“Lepaskan aku, dasar iblis!” raung Ibu Sari.

“Tutup mulut! Minum ini!”

Riana membuka paksa mulut Ibu Sari dengan satu tangan, sementara tangan yang lain siap menuangkan cairan mematikan itu. Ibu Sari memberontak, kekuatannya yang tadi digunakan untuk berakting kini digunakan untuk melawan maut.

Saat botol itu hampir menyentuh bibirnya, Ibu Sari mengerahkan seluruh tenaga kebencian yang ia simpan selama bertahun-tahun. Ia menggigit jari Riana sekuat tenaga.

Riana menjerit kesakitan, refleks tangannya terbuka. Botol racun itu terlempar ke udara.

Ibu Sari melihat botol itu terbang melayang. Ini satu-satunya kesempatannya. Jika botol itu pecah, uapnya saja bisa membunuh mereka berdua.

Dalam sepersekian detik yang menentukan, Ibu Sari tidak berpikir untuk lari. Dia berpikir untuk memastikan Riana ikut mati bersamanya.

Ibu Sari meraih vas bunga kristal di meja dan melemparkannya ke arah botol kaca yang sedang jatuh.

KRING!

Botol racun itu pecah di udara. Cairan mematikan itu menyebar.

Riana dan Ibu Sari sama-sama terpapar dalam jarak kurang dari satu meter. Bau almond pahit yang tajam langsung menusuk hidung mereka.

Ibu Sari menyadari kesalahan fatalnya. Dia tidak hanya memastikan Riana mati. Dia juga memastikan dirinya mati. Mereka berdua tercekik dalam uap mematikan yang memenuhi ruangan.

Mereka saling pandang. Mata Riana dipenuhi ketakutan dan penyesalan. Mata Ibu Sari dipenuhi kepuasan, campuran antara kemenangan dan kengerian.

Riana mulai batuk, mencengkeram tenggorokannya. Dia mundur ke belakang, mencari udara.

“Mati kau… Ibu… Sari…” Riana berbisik, napasnya mulai terhenti.

Ibu Sari juga tercekik. Paru-parunya terbakar. Tapi dia tersenyum. Senyum terakhir penuh dendam.

“Kita… sama-sama… ke neraka…” Ibu Sari membalas, meraih liontin kuncinya.

Riana, dalam keputusasaan terakhirnya, melihat pintu di belakang Ibu Sari. Pintu itu menuju ke lemari penyimpanan peralatan berkebun.

Riana harus lari, mencari ventilasi, atau mati di sana. Namun, kakinya terasa berat. Pandangannya mulai kabur.

Sementara itu, Ibu Sari melihat ke arah pecahan botol yang mematikan itu, lalu ke arah Riana yang sudah terhuyung. Sari tahu, tidak ada yang selamat dari ini.

Namun, di detik-detik akhir sebelum pandangannya gelap, Ibu Sari melihat bayangan. Bayangan yang bergerak di balik Bayu.

Ibu Sari tidak tahu dari mana Riana mendapatkan kekuatan itu. Tapi Riana, meskipun sudah menghirup racun, berhasil mengambil keputusan terakhir yang paling mematikan.

Riana tidak lari menuju ventilasi.

Dia menerjang Bayu yang baru saja terbangun karena suara pecahan vas, dan kini berdiri di ambang pintu kamar.

Riana mencengkeram kepala Bayu dan menariknya secara brutal ke ruang kerja, ke tengah-tengah uap racun itu.

Bayu berteriak bingung.

“Kalau aku mati, kamu juga mati, suamiku tercinta!” Riana menjerit, napasnya sudah hampir habis.

Ibu Sari hanya bisa melihat, tercekik, ketika anaknya sendiri, Bayu, kini dipaksa ikut menghirup udara kematian itu oleh istri yang sangat mencintainya—dan membenci ibunya.

Bayu mulai batuk darah. Ibu Sari mencoba merangkak, mencoba menyelamatkan anaknya yang naif.

“Bayu! Lari! Jauhkan dia darimu!”

Tapi sudah terlambat. Riana mencengkeram kerah Bayu erat-erat, seolah-olah ia memeluk kematian yang paling ia cintai.

Ibu Sari hanya bisa menjulurkan tangannya, melihat anaknya, menantunya, dan dirinya sendiri, berbagi nasib di tengah ruangan penuh gas beracun.

Siapa yang akan mati duluan? Apakah Riana, yang paling dekat dengan pecahan botol itu, atau Bayu, yang paling kaget? Atau Ibu Sari, yang sudah berniat membunuh menantunya sejak awal?

Ibu Sari memaksakan satu tarikan napas terakhir, dan ia mendengar suara batuk Bayu yang semakin pelan.

Ibu Sari tahu, jika ia mati sekarang, Riana akan mati bersamanya, tapi anaknya juga akan ikut.

Ibu Sari melihat ke luar jendela. Ada satu jalan keluar.

Dia harus segera mencapai lemari peralatan berkebun di belakang. Ada masker gas tua di sana, peninggalan Ayah Bayu. Itu adalah satu-satunya harapan.

Dengan sisa tenaga terakhirnya, Ibu Sari mulai merangkak, menjauh dari Bayu dan Riana yang kini sama-sama ambruk di lantai, tercekik.

Riana yang melihat gerakan Sari, mengulurkan tangan yang gemetar ke arah kaki Sari.

“Tidak… ada… yang… selamat,” desis Riana, suaranya seperti bisikan angin dari kuburan.

Ibu Sari tidak peduli. Ia harus menyelamatkan Bayu, meskipun ia harus menghirup udara beracun itu lebih banyak lagi.

Ibu Sari mencapai lemari itu. Tangannya gemetar, mencari kunci, sementara paru-parunya seperti ditarik paksa keluar dari tubuhnya.

Dia harus memilih. Menyelamatkan diri sendiri dan membiarkan Riana dan Bayu mati, atau mati bersama mereka.

Napas Sari terhenti. Dia menemukan kuncinya. Tapi pintu lemari itu terasa sangat berat. Ibu Sari mendorong pintu lemari, dan udara segar (atau paling tidak, udara tanpa racun) terasa di wajahnya.

Dia melihat masker gas tua itu.

Tepat saat Ibu Sari akan meraih masker itu, ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Bukan Bayu, bukan Riana. Mereka sudah terlalu lemah.

Itu adalah seseorang yang tahu mereka dalam masalah. Seseorang yang tahu ada racun di rumah itu.

Ibu Sari menoleh, hanya untuk melihat siluet Riana berdiri di belakangnya, entah dari mana ia mendapatkan kekuatan terakhirnya. Riana mencengkeram sekop kecil untuk berkebun.

Riana tidak bicara. Ia hanya tersenyum dengan sisa tenaga, senyum yang menjanjikan kematian yang cepat.

Ibu Sari tahu, masker itu tidak akan cukup.

Ia harus memutuskan, sekarang juga: Melarikan diri dan meninggalkan Bayu, atau bertarung dengan Riana dan mati tercekik bersama di ruangan itu.

Riana mengangkat sekop itu tinggi-tinggi.

APA KEPUTUSAN IBU SARI?