AZAB! M4t1 Terjerat Dosa, Ramuan Rahasia Untuk Mertua Berujung Petaka!

Karina menatap jam dinding. Jarum pendek sudah menunjukkan angka sebelas. Ibu Ratna belum juga tidur.

“Tua bangka itu keras sekali,” gumam Karina, sambil mengaduk teh hangat di tangannya.

Teh itu bukan untuknya. Itu untuk Ibu Ratna, mertuanya yang kaya raya dan menjengkelkan.

Karina mendengus. Tujuh tahun dia menikah dengan Adrian, putra tunggal Ibu Ratna. Tujuh tahun pula dia hidup di bawah bayang-bayang kekayaan yang tidak bisa dia sentuh sepenuhnya.

Rumah ini besar. Terlalu besar. Tapi semua atas nama Ibu Ratna.

“Adrianmu itu tidak becus mengurus warisan,” suara Karina terdengar tajam saat dia berbicara dengan pantulan dirinya di cermin dapur. “Ibu Ratna harusnya sudah menyerahkan kekuasaannya.”

Adrian adalah suami yang baik. Bodoh, tapi baik. Dia mencintai ibunya dengan buta. Itulah masalah utamanya. Adrian tidak pernah mau mendesak Ibu Ratna soal harta.

Langkah kaki terdengar perlahan dari lantai atas. Karina segera memasang ekspresi menantu yang patuh dan penuh kasih.

“Oh, Ibu. Belum tidur? Ini, Karina buatkan teh herbal penghangat. Kata Ibu, Ibu sulit tidur belakangan ini.”

Ibu Ratna, wanita paruh baya yang masih terlihat anggun meski tubuhnya mulai ringkih, turun perlahan sambil memegang pegangan tangga. Matanya menatap Karina dengan senyum tipis yang terasa dingin.

“Terima kasih, Karina. Kau memang perhatian,” jawab Ibu Ratna.

Karina menyerahkan cangkir itu. Panasnya pas.

Di dalam cangkir itu, selain teh herbal, sudah tercampur dua tetes cairan bening yang tidak berbau. Cairan yang Karina dapatkan dari seorang kenalan lama. Bukan racun mematikan instan. Tapi dosis lambat yang akan merusak sistem imun dan mempercepat kelemahan organ dalam.

Karina menyebutnya: Vaksin Warisan.

Ibu Ratna menyesap teh itu perlahan. Mata Karina tidak lepas dari gerakan tenggorokan mertuanya.

“Bagaimana, Bu? Enak?”

“Hangat,” jawab Ibu Ratna. “Tapi lidahku akhir-akhir ini terasa aneh. Sedikit pahit.”

Jantung Karina mencelos sesaat. Apakah dosisnya terlalu banyak?

“Mungkin Ibu terlalu banyak minum obat-obatan kimia dari dokter. Herbal ini murni, Bu. Lebih baik dari vitamin apapun,” ujar Karina meyakinkan.

“Ya, kau benar. Dokter selalu menyarankan yang mahal-mahal,” Ibu Ratna meletakkan cangkir yang kini sudah setengah kosong. “Ngomong-ngomong, Karina. Kau terlihat kurus. Apakah Adrian memberimu uang belanja yang cukup?”

Pertanyaan itu selalu menusuk Karina tepat di ulu hati. Itu adalah cara Ibu Ratna mengingatkan siapa yang memegang kendali finansial di rumah ini.

“Cukup, Bu. Tentu saja cukup. Hanya saja, bisnis Adrian akhir-akhir ini agak seret.” Karina mencoba bersikap santai.

“Seret? Ah, kasihan sekali anakku itu. Harusnya dia fokus pada investasi properti, bukan bisnis startup konyolnya itu. Tapi, sudahlah. Ibu yang akan memberinya modal tambahan bulan depan. Anggap saja uang jajan.”

Karina memaksakan senyumnya. Uang jajan. Adrian sudah kepala tiga, dan Ibu Ratna masih memberinya uang jajan. Itu memalukan dan mengganggu rencana Karina.

“Karina. Kau tahu, Ibu sudah tua. Kadang Ibu berpikir, apakah warisan yang Ibu tinggalkan nanti cukup untuk kalian berdua?” tanya Ibu Ratna, tiba-tiba terdengar tulus.

Karina merasa adrenalinnya melonjak. Ini dia! Pintu masuknya.

“Bu, jangan bicara begitu. Ibu akan hidup seratus tahun lagi. Tapi kalaupun ya… Karina hanya berharap, Ibu memastikan bahwa Adrian tidak kesulitan nanti. Dia mudah tertipu, Bu.”

“Kau benar. Adrian memang naif,” Ibu Ratna menghela napas. “Tapi tenang saja. Semua sudah diatur dalam surat wasiat. Semuanya adil. Bagian untuk yayasan, bagian untuk Adrian, dan bagian untuk… sisanya.”

Karina mengerutkan dahi. “Sisanya?”

“Ya, sisanya. Warisan kan tidak hanya uang, Nak. Ada aset dan juga kenangan.” Ibu Ratna tersenyum misterius. “Sekarang Ibu lelah. Ibu akan tidur. Jangan lupa bersihkan cangkir ini ya, menantuku yang baik.”

Ibu Ratna berbalik, meninggalkan Karina yang terpaku di dapur.

Sialan. Apa maksudnya ‘sisanya’?

Karina mencuci cangkir itu, tangannya gemetar bukan karena marah, tapi karena frustrasi.

Racun dosis kecil itu sudah dia berikan selama dua bulan terakhir. Ibu Ratna memang terlihat lebih sering batuk dan mengeluh pusing. Tapi gerakannya masih lincah. Jauh dari kondisi ‘sekarat’ yang Karina harapkan.

Karina naik ke kamar. Adrian sedang membaca laporan keuangan di tempat tidur.

“Kenapa lama sekali di bawah?” tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangan.

“Bicara dengan Ibumu, membahas warisan konyol yang tidak pernah dia bagi-bagi,” sahut Karina ketus, melemparkan diri di kasur.

Adrian meletakkan laporannya. Matanya tampak lelah.

“Karina, jangan bicara seperti itu. Ibu sedang sakit-sakitan. Kita harus lebih sabar. Toh, semua ini pada akhirnya akan jadi milik kita.”

“‘Pada akhirnya’? Kapan, Adrian? Kapan? Kau mau menunggu sampai kau juga tua renta? Ibumu itu sudah punya uang sejak zaman batu. Kenapa dia harus menahan semuanya di brankas pribadinya?”

“Itu dana perusahaan, Karina, bukan uang jajan.”

Karina duduk dan menatap Adrian dengan sorot mata mengancam.

“Dengar, suamiku yang polos. Uang di brankas itu bukan masalah. Masalahnya adalah kendali. Selama Ibu Ratna sehat, dia akan mengendalikanmu. Dia akan menganggap kita anak kecil yang harus disuapi.”

“Tapi Ibu sudah mulai lemah, Karina. Bukankah kau sendiri yang bilang dia sering pusing dan mual akhir-akhir ini?”

“Memang. Tapi belum cukup lemah!” bentak Karina, volume suaranya sedikit meninggi.

Adrian terkejut. “Karina! Jaga suaramu!”

Karina menarik napas, berusaha menenangkan diri. Dia harus lembut pada Adrian, karena Adrian adalah kuncinya.

“Maaf, Sayang. Aku hanya stres. Aku ingin kita punya kebebasan finansial. Aku ingin kita tidak lagi bergantung pada uang jajan bulanan dari ibumu.” Karina memegang tangan Adrian. “Aku ingin kau bahagia, Adrian. Hidup tenang tanpa harus selalu melapor pada Ibumu soal pengeluaran.”

Adrian menatapnya, matanya melunak. “Aku tahu, Karina. Aku juga ingin itu. Tapi Ibu sedang sakit. Kita tidak bisa terlalu menekannya.”

“Sakitnya perlu dipercepat,” bisik Karina dalam hati.

“Kau lihat sendiri kan, obat-obatan yang kuberikan padanya? Semua suplemen vitamin terbaik. Dia harusnya membaik. Tapi kenapa dia semakin parah?” tanya Karina, berpura-pura cemas.

Adrian mengangguk. “Ya, aku juga bingung. Dokter bilang dia hanya kelelahan. Tapi belakangan ini dia sering sekali batuk. Apalagi setelah minum teh herbalmu itu.”

Karina tersenyum lega. Teh herbal. Ya, itu adalah alibi terbaiknya.

“Mungkin teh herbal itu terlalu kuat, Sayang. Aku akan mengurangi dosis herbalnya. Dia harusnya lebih banyak istirahat.”

Karina berbaring di samping Adrian, tapi pikirannya bekerja keras.

Dia tidak bisa menunggu lebih lama. Jika Ibu Ratna tidak segera lumpuh atau setidaknya tidak sadarkan diri, dia akan membatalkan surat wasiatnya atau mengubah pengelola asetnya. Ibu Ratna terlalu pintar untuk mati dengan mudah.


Tiga minggu berlalu. Situasi tidak membaik.

Ibu Ratna memang batuk-batuk, tetapi tidak ada tanda-tanda kematian mendekat. Malah, dia terlihat semakin aktif. Dia menghabiskan sore di taman, mengurus mawar-mawarnya.

Karina mendidih. Waktu, uang, dan risiko yang dia ambil, tidak sebanding dengan hasilnya.

“Karina, apa kau yakin vitamin C yang kau berikan pada Ibu tidak kedaluwarsa?” tanya Adrian suatu pagi saat sarapan.

“Vitamin C apa? Aku memberinya suplemen kompleks, Adrian. Itu yang paling mahal. Kenapa kau tanya begitu?”

“Semalam Ibu muntah. Dia bilang perutnya terasa tidak enak setelah minum vitamin yang kau berikan,” Adrian terlihat khawatir.

Karina menelan ludah. Muntah? Itu buruk. Itu berarti dosis yang dia berikan tidak hanya meracuni, tapi juga membuat Ibu Ratna curiga.

“Mungkin dia masuk angin, Adrian. Semua orang tua mudah masuk angin,” elak Karina cepat.

“Aku tidak tahu. Tapi Ibu bilang dia akan meminta dokter pribadinya datang hari ini untuk mengecek kondisi darahnya. Dia mau memastikan apakah ada alergi atau tidak.”

Karina merasakan sekujur tubuhnya membeku. Cek darah? Jika ada zat aneh yang terdeteksi, rencananya akan hancur lebur.

“Cek darah? Adrian, kenapa harus sampai cek darah? Itu berlebihan!”

“Ibu hanya ingin memastikan. Kau tahu Ibu sensitif soal kesehatan. Jangan khawatir, Sayang.”

Adrian mencium kening Karina dan bergegas pergi untuk bekerja.

Karina ditinggalkan sendirian di meja makan, napasnya memburu. Dia harus bertindak. Sekarang juga. Sebelum dokter pribadi itu datang dan mengambil sampel darah.

Dia harus memastikan Ibu Ratna tidak bisa bicara, atau setidaknya, dia harus mengambil sesuatu dari kamar Ibu Ratna yang bisa dia gunakan untuk mengendalikan situasi.

Karina menunggu dengan gelisah sampai pukul sepuluh pagi. Mobil Ibu Ratna sudah keluar, membawa Ibu Ratna ke tempat les melukisnya. Ya, melukis. Padahal dia sakit-sakitan.

Ini kesempatan emas.

Karina menyelinap ke lantai atas. Kamar Ibu Ratna adalah area terlarang. Adrian pun jarang masuk ke sana tanpa izin.

Karina membuka pintu kamar itu perlahan. Bau lavender langsung menyambutnya. Kamar itu rapi dan klasik.

Tujuannya adalah meja rias, tempat Ibu Ratna biasa meletakkan semua obat-obatan dan suplemennya.

Di sana, berjejer rapi botol-botol suplemen yang Karina berikan—yang sudah dia ‘modifikasi’. Semuanya penuh, tidak ada yang berkurang signifikan.

“Wanita ini minum obat seperti minum tetesan air,” gerutu Karina.

Karina menggeledah laci meja rias. Dia mencari buku harian, catatan bank, atau kode brankas. Tidak ada. Hanya perhiasan dan lipstik mahal.

Lalu, matanya tertuju pada sebuah kotak kayu jati tua yang diletakkan di bawah tumpukan selimut di sudut kamar. Kotak itu terkunci.

Karina mengeluarkan jepit rambutnya, tangannya lihai membongkar kunci kecil itu. Klik.

Kotak itu terbuka.

Bukan berlian atau uang tunai di dalamnya. Melainkan dokumen. Dokumen bank, sertifikat properti, dan yang terpenting: Surat Wasiat.

Karina menyambar surat wasiat itu dengan tangan gemetar. Dibacanya cepat-cepat.

“…Seluruh aset properti utama, termasuk rumah di jalan Kenanga ini, akan diwariskan kepada Adrian Wijaya, dengan syarat ia mampu mengelola dana investasi minimum sebesar 50 Miliar Rupiah selama 5 tahun berturut-turut. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, aset tersebut akan dialihkan sepenuhnya ke Yayasan Panti Jompo Kasih Ibu…”

“Lima puluh Miliar?!” Karina hampir berteriak. Adrian bahkan tidak punya uang sebanyak itu di tabungan. Ini jebakan! Ibu Ratna memang sengaja membuat wasiat ini agar Adrian tidak mendapatkan apa-apa.

Sambil meremas surat itu, Karina melihat ada buku kecil bersampul kulit hitam yang terselip di bawah tumpukan sertifikat. Itu terlihat seperti buku catatan harian, tapi terlalu kecil dan tebal.

Karina mengambil buku itu. Itu bukan buku harian. Itu adalah Buku Catatan Obat dan Dosis.

Di bagian paling atas, tertulis rapi dengan tulisan tangan Ibu Ratna yang indah:

“SENIN, 4 JANUARI. Karina memberikan Suplemen Vitamin C Kapsul (Merah). 2 tetes penawar racun A (Plasebo) diminum 30 menit setelahnya. Gejala: Sedikit pusing. Catatan: Kapsul diisi ulang dengan bubuk Vitamin B biasa.”

Karina merasa darahnya berhenti mengalir. Tulisan itu berlanjut ke baris berikutnya.

“RABU, 6 JANUARI. Karina memberikan Teh Herbal malam hari. Dosis Racun X (Sianida dosis sangat rendah) diduga meningkat. Segera tukar cangkir dengan Plasebo (air gula). Gejala: Muntah ringan. Catatan: Karina mulai panik. Perlu segera siapkan BUKTI FOTO DOKUMENTASI.”

Karina menjatuhkan buku itu seolah buku itu adalah bara api. Wajahnya pucat pasi.

Ibu Ratna tahu. Sejak awal.

Bukan hanya tahu, Ibu Ratna tidak meminum racun itu. Dia menukar semuanya! Dia bahkan sudah menyiapkan ‘penawar racun’ yang sebenarnya hanya plasebo. Itu artinya, Ibu Ratna tidak pernah sakit karena racun yang Karina berikan. Dia hanya berakting.

Dan yang paling menakutkan: ‘Perlu segera siapkan BUKTI FOTO DOKUMENTASI.’

Bukti apa? Bukti Karina memberikan racun padanya?

Karina dengan cepat membolak-balik halaman buku catatan itu. Semua adalah catatan rinci tentang kapan Karina memberikan obat, jenis racun yang dideteksi (atau yang dia duga), dan respons akting Ibu Ratna.

Tiba-tiba, mata Karina tertuju pada sebuah foto kecil yang diselipkan di halaman terakhir.

Itu adalah foto dirinya.

Bukan foto biasa. Itu adalah foto Karina sedang berdiri di depan toko kimia, sedang menerima sebuah paket kecil berwarna coklat. Paket yang Karina yakini adalah ‘Vaksin Warisan’ miliknya.

Dan di samping foto itu, ada satu baris tulisan tangan Ibu Ratna. Hanya satu baris, yang membuat semua rambut di tengkuk Karina berdiri tegak.

“Mainanmu sudah selesai, Nak. Sekarang giliran Ibu bermain. Kita lihat, siapa yang akan mati tercekik duluan.”

Karina mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Jantungnya berdebar kencang, memukul tulang rusuknya. Ibu Ratna sudah kembali.

Ia harus segera pergi.

Karina buru-buru memasukkan buku catatan dan foto itu ke dalam kotak, mengunci kotaknya kembali dengan tergesa-gesa, dan meletakkannya kembali di bawah selimut.

Dia baru saja akan berbalik, ketika dia menyadari sesuatu yang lebih mengerikan. Di atas nakas samping tempat tidur Ibu Ratna, bukan suplemen atau air mineral.

Tapi sebuah perekam suara kecil, yang berkedip-kedip merah.

Perekam itu tidak ada di sana sebelumnya.

Karina terdiam, menatap perekam itu. Perekam itu terus berkedip, merekam setiap suara di kamar itu. Dan Karina baru saja menghabiskan hampir sepuluh menit di kamar ini, panik, bicara sendiri, dan membaca keras-keras surat wasiat dan buku catatan racun itu.

Pintu kamar di lantai bawah terbuka. Suara Ibu Ratna terdengar jelas.

“Karina? Apa kau di rumah? Ibu membawa mawar baru untukmu!”

Karina harus bertindak. Dia harus mematikan perekam itu. Sekarang!

Saat Karina mengulurkan tangannya menuju nakas, terdengar suara langkah kaki menaiki tangga. Langkah kaki yang tidak lagi terdengar lemah dan ringkih, tapi langkah kaki yang mantap dan disengaja.

Karina hanya punya waktu sepersekian detik. Dia meraih perekam itu—

Tepat saat pintu kamar Ibu Ratna terbuka perlahan di belakang punggungnya.

“Mencari sesuatu, Menantuku?”

Suara Ibu Ratna terdengar. Bukan suara ringkih seorang korban. Tapi suara yang dingin, tajam, dan penuh kemenangan. Karina membeku. Ia memegang perekam suara itu di tangannya, tertangkap basah.

Mata Ibu Ratna tidak menunjukkan kelemahan. Hanya kebencian murni dan dingin.

“Kau tahu, Nak. Aku tidak pernah suka dengan menantu yang serakah.”

Karina menoleh, perlahan-lahan. Ia melihat Ibu Ratna berdiri di ambang pintu, tangannya tidak memegang bunga mawar. Melainkan selembar amplop tebal bertuliskan… Laporan Forensik.