Charlie Wade Si Karismatik Bahasa Indonesia, Hero Of Hearts Chapter 7460 English, Bahasa Melayu.
Bab 7464
=== HALAMAN 1 ===
Krisis Global: Gedung Putih Terguncang di Tengah Malam
Saat mobil dinas itu melaju kencang menembus jalanan Washington yang sepi, dunia sedang terbakar oleh berita utama.

“AMERIKA SERIKAT MENGINVASI ANTARTIKA & MENYIKSA ILMUWAN JEPANG”
Skandal ini bukan sekadar berita biasa. Ini adalah gempa bumi geopolitik.
Dunia sudah terbiasa melihat AS bertindak kasar di Timur Tengah atau Teluk Guantanamo. Namun, kali ini korbannya berbeda.
Korbannya adalah Jepang.
Sekutu paling setia. Mitra junior nomor satu yang kekuatan ekonominya melampaui Inggris dan Kanada.
Jika Jepang saja bisa diperlakukan seperti binatang oleh Amerika, bagaimana dengan negara lain?
Dan yang lebih parah, Amerika telah membawa api perang ke Antartika—satu-satunya benua suci yang bebas dari konflik militer. Sejak sepatu bot tentara AS menginjak es kutub selatan, kesucian perjanjian internasional itu telah hancur.
Rapat Darurat di Dalam Mobil
Di dalam mobil yang melaju kencang, Juru Bicara Gedung Putih membuka laptopnya dengan tangan gemetar. Konferensi video dimulai.
Wajah-wajah lelah stafnya muncul di layar. Banyak yang masih memakai piyama, rambut berantakan, mata bengkak karena baru bangun tidur.
“Dengar baik-baik,” suara Juru Bicara itu tajam dan tegas.
“Prioritas utama: Damage Control.“
Ia memberi perintah cepat, “Hubungi semua platform media sosial—Facebook, X, YouTube, TikTok. Tuntut mereka untuk menghapus konten ini sekarang juga! Gunakan alasan ‘Keamanan Nasional’ atau ‘Konten Kekerasan’.”
Ia menghela napas panjang, “Aku tahu ini mustahil. Video itu sudah viral. Tapi kita harus menunjukkan bahwa kita sudah berusaha. Jika Presiden bertanya nanti, kita punya bukti bahwa kita sudah bekerja.”
Para staf mengangguk paham.
Mereka bekerja di Gedung Putih, tempat paling bergengsi di dunia, tapi mentalitas mereka saat ini adalah mentalitas survival.

Mereka tahu keputusan menyerbu Antartika bukan ide mereka. Tapi jika mereka gagal membersihkan kekacauan ini, karir mereka yang akan tamat.
Ini seperti dokter di UGD yang melakukan CPR pada mayat. Hasilnya mungkin sia-sia, tapi prosedurnya wajib dilakukan agar keluarga (Presiden) melihat usaha mereka.
“Dokumentasikan semuanya!” perintah Juru Bicara lagi.
“Setiap email, setiap SMS, setiap telepon ke media. Simpan buktinya. Itu asuransi nyawa kalian.”
Persiapan Perang Media
“Aku sampai di Gedung Putih dalam 15 menit,” lanjutnya sambil melihat jam tangan.
“Konferensi Pers digelar satu jam lagi. Panggil semua wartawan Washington. Kita butuh 45 menit untuk menyusun narasi kebohongan terbaik.”
Para staf merasa sedikit tenang melihat ketegasan bos mereka. Di tengah badai, mereka butuh nahkoda yang tidak panik.
“Satu hal lagi,” mata Juru Bicara itu menyipit licik.
“Hubungi Pentagon sekarang! Minta mereka menunjuk satu orang yang bertanggung jawab.”
“Kita harus tahu rencana militer: Mundur atau Bertahan? Dan sampaikan pesan ini kepada Jenderal…”
Suaranya merendah penuh ancaman.
“Cara terbaik untuk selamat adalah Menyalahkan Jepang.“
“Entah itu manajer stasiun penelitian, menteri pertahanan, atau Perdana Menteri mereka… Pastikan kesalahan ini jatuh ke leher Jepang!”
Pentagon yang Panik
Sementara itu di Pentagon, para Jenderal bintang empat sedang berkeringat dingin.
Merekalah yang mengirim pasukan Navy SEAL. Merekalah yang menyiksa ilmuwan itu.
Biasanya, militer AS memandang rendah staf humas Gedung Putih. Tapi hari ini, mereka meringkuk ketakutan seperti kura-kura dalam tempurung. Mereka butuh “sihir” humas untuk menyelamatkan karir mereka.
Nasihat Gedung Putih datang seperti wahyu: “Alihkan Kesalahan. Paksa Jepang Mengaku.”
Tanpa buang waktu, Pentagon segera melakukan panggilan video darurat dengan Kementerian Pertahanan dan Kementerian Pendidikan Jepang.
Wajah para pejabat Jepang di layar tampak pucat dan marah.

“Kami akan mengadakan konferensi pers dalam satu jam,” kata Jenderal AS tanpa basa-basi. “Kami butuh kerja sama kalian.”
Pejabat Kementerian Pendidikan Jepang bertanya dengan canggung, “Kerja sama? Tentara Anda menyiksa orang kami. Bagaimana kami bisa bekerja sama?”
Jenderal AS itu menjawab dengan dingin, “Sederhana.”
“Kalian harus mengumumkan bahwa seluruh tim peneliti kalian adalah PENGKHIANAT.“
(Tombol Navigasi: “HALAMAN SELANJUTNYA: JEPANG DIPAKSA MENELAN PIL PAHIT & KEMARAHAN GLOBAL” -> Link ke Page 2)