Charlie Wade Si Karismatik Bahasa Indonesia, Hero Of Hearts Chapter 7460 English, Bahasa Melayu.
Bab 7462
=== HALAMAN 1 ===
Neraka Es dan Api: Siksaan Brutal di Stasiun Showa
Para anggota tim peneliti Jepang itu baru saja ditarik dari suhu minus 60 derajat Celcius.
Begitu mereka dilempar masuk ke dalam ruangan bersuhu 20 derajat, reaksi mengerikan terjadi.
Perbedaan suhu ekstrem lebih dari 80 derajat dalam sekejap membuat pembuluh darah mereka seolah meledak. Kulit mereka langsung memerah padam, seolah-olah baru saja disiram air mendidih.
Rasa gatal dan nyeri yang timbul jauh lebih menyiksa daripada saat mereka berada di luar.
“Arghhh!”
Mereka mengerang kesakitan, menggaruk seluruh tubuh dengan panik. Kuku mereka merobek kulit yang rapuh, menciptakan luka-luka baru yang mengerikan.

Komandan militer AS yang melihatnya sempat tertegun.
Ia tidak menyangka hukuman “sebentar” itu berdampak sedemikian fatal.
“Apakah kita bertindak terlalu jauh?” pikirnya cemas.
Jika kondisi fisik mereka hancur total, dan hal ini bocor, Gedung Putih akan menghadapi tekanan internasional yang berat. Jepang pasti akan protes keras.
Interogasi Tanpa Hasil
Namun, Komandan itu menepis keraguannya.
“Siapa peduli?” batinnya dingin. “Jika ada rahasia besar yang mereka sembunyi, risiko ini sepadan.”
Ia memerintahkan petugas medis untuk merawat mereka sekadarnya, hanya agar mereka tidak mati, lalu melanjutkan interogasi.
“Paksa mereka bicara! Suruh mereka memanggil rekan-rekannya yang lain untuk pulang!” perintahnya.
Namun, situasi menjadi aneh.
Meskipun tubuh mereka hancur dan kulit mereka melepuh, para peneliti Jepang itu tetap bungkam.
Ketahanan mental mereka tidak masuk akal. Bahkan agen CIA atau pasukan khusus yang terlatih pun biasanya akan patah semangat menghadapi siksaan fisik seberat ini.
Tapi orang-orang sipil ini? Mereka seperti robot tanpa rasa takut.
Seorang bawahan berlari menghampiri Komandan dengan wajah bingung.
“Pak, ini tidak normal. Orang-orang ini memiliki keyakinan fanatik. Metode interogasi standar kita tidak mempan!”
Komandan itu menggertakkan gigi. “Tidak ada keyakinan yang tidak bisa dihancurkan! Terus tekan mereka!”
“Tapi Pak,” sela bawahan itu khawatir, “Jika kita tekan lagi, mereka akan mati. Kulit mereka sudah mulai mengalami nekrosis (kematian jaringan).”
Komandan itu terdiam. Jika semua saksi mati, ia akan kehilangan jejak tim ekspedisi lainnya yang masih tersebar di antartika.
Perintah Gedung Putih
Ia menghadapi dilema. Menunggu tim lain kembali akan memakan waktu lama. Mengejar mereka berarti harus menyebar pasukan di medan yang mematikan.
Ia segera menghubungi Gedung Putih melalui telepon satelit.
Respons Washington mengejutkan. Gedung Putih justru semakin penasaran.

“Rahasia apa yang membuat para ilmuwan ini rela mati melindunginya?” pikir para pejabat di Washington. “Ini pasti lebih besar dari sekadar emas atau minyak.”
Perintah turun dengan tegas: Jangan menunggu. Kejar dan tangkap mereka semua!
“Sita semua peralatan! Segel data mereka! Kita harus tahu apa yang ada di balik es itu!”
Mendapat lampu hijau, Komandan AS segera memobilisasi pasukannya.
Mereka melacak jejak kendaraan salju yang ditinggalkan tim Jepang, bersiap untuk perburuan besar-besaran di hamparan es.
Mata-Mata di Balik Bayangan
Tanpa mereka sadari, Charlie (Ye Chen) masih ada di sana.
Ia bersembunyi di balik gundukan salju, merekam semuanya.
Ia menunggu dengan sabar hingga kendaraan lapis baja terakhir meninggalkan stasiun.
Charlie tidak langsung pulang. Ia membuka laptopnya, menghubungkannya ke jaringan satelit terenkripsi.
Di tangannya, ada dua video bom waktu:
- Video penyiksaan brutal militer AS terhadap warga sipil Jepang.
- Video pasukan Navy SEAL menduduki stasiun penelitian Jepang secara ilegal.
Charlie menghubungi Duncan Li (Li Yalin).
“Detektif Li,” perintah Charlie, “Gunakan AI untuk mencari email pribadi semua influencer dan YouTuber top di Jepang.”
“Kirimkan video ini kepada mereka lewat jalur aman. Sekarang juga.”

Charlie tahu satu hal: Pemerintah Jepang mungkin pengecut dan akan menutup-nutupi insiden ini karena takut pada AS.
Tapi Netizen? Influencer? Mereka berbeda.
Mereka haus akan trafik. Mereka digerakkan oleh emosi, bukan politik.
Memberikan video ini kepada mereka sama dengan melempar korek api ke dalam gudang mesiu.
(Tombol Navigasi: “HALAMAN SELANJUTNYA: E-MAIL MISTERIUS YANG MENGGUNCANG JEPANG” -> Link ke Page 2)