Dahulu kala, di tanah Jawa yang subur, berdirilah dua kerajaan besar yang saling berhadapan.
Satu adalah Kerajaan Prambanan, yang dipimpin oleh seorang raja bijaksana dan penyayang, bernama Prabu Baka. Kerajaan ini makmur, tenteram, dan terkenal akan keindahan putrinya, sang permata hati, Roro Jonggrang.
Roro Jonggrang bukan sekadar putri biasa. Wajahnya elok seperti rembulan yang disinari sinar pagi. Namun, kecantikannya yang luar biasa itu disandingkan dengan hati yang lembut dan kecerdasan yang tajam, bak mata air di tengah musim kemarau.
“Ayahanda, mengapa akhir-akhir ini hamba merasa resah?” tanya Roro Jonggrang suatu sore, saat mereka duduk di pendopo agung.
Prabu Baka menghela napas panjang. Matanya menatap jauh ke cakrawala barat, ke arah di mana matahari mulai tenggelam.
“Anakku, kegelisahan itu adalah cerminan dari gejolak di luar pagar istana. Ada kekuasaan baru yang sedang bangkit di Kerajaan Pengging. Raja mereka, Baginda Pengging, telah mengangkat seorang senapati baru,” jawab Prabu Baka.
“Siapakah dia, Ayah?”
“Namanya Bandung Bondowoso. Dia adalah pribadi yang sangat kuat, bahkan melebihi kekuatan manusia biasa. Ada desas-desus, Jonggrang, dia didampingi oleh makhluk gaib. Pasukan jin.”
Wajah Roro Jonggrang menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. “Kekuatan yang didapat dari kegelapan? Apakah itu tidak berbahaya bagi seluruh bumi Jawa?”
“Sangat berbahaya. Ambisinya besar. Dia ingin menguasai seluruh dataran. Sayang sekali, Prambanan adalah sasaran utamanya,” ujar Prabu Baka, sambil menggenggam tangan putrinya erat. “Namun jangan takut, putriku. Selama Ayah memegang keris ini, Ayah akan melindungi Prambanan, dan tentu saja, dirimu.”
Kedamaian di Prambanan memang hanyalah ilusi yang cepat berlalu.
Kabar tentang keperkasaan Bandung Bondowoso segera merambat menjadi kenyataan pahit. Pasukannya bergerak cepat, menghancurkan benteng-benteng pertahanan terluar Prambanan dalam waktu singkat.
Bondowoso sendiri, seorang pria bertubuh kekar dengan sorot mata yang dingin dan menusuk, memimpin langsung di garis depan. Dia bukan hanya panglima perang, dia adalah manifestasi kehancuran.
“Majulah, Pahlawan Prambanan! Tunjukkan pada kami, apa yang bisa kalian pertahankan!” teriak Bondowoso dengan suara menggelegar yang membelah udara pagi.
Prabu Baka, meskipun usianya tak lagi muda, berdiri tegak di gerbang utama istana. Mengenakan pakaian perang lengkap, ia siap menghadapi takdirnya.
“Bondowoso! Kerajaan kami tidak pernah mencari permusuhan dengan Pengging. Mengapa kau membawa kehancuran ke sini?” seru Prabu Baka.
Bondowoso tertawa keras. Tawa yang kering, tanpa emosi, penuh dengan kesombongan.
“Perdamaian? Perdamaian hanya untuk yang lemah, Prabu Baka. Aku datang bukan untuk berunding. Aku datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Seluruh tanah ini akan menjadi bagian dari kekuasaan Pengging, di bawah perintahku!”
Pertarungan pun tak terhindarkan. Pertarungan antara seorang raja yang membela rakyatnya, melawan seorang senapati yang didorong oleh kekuatan kegelapan.
Prabu Baka bertarung dengan gagah berani, semua ilmu kanuragan ia kerahkan. Namun, Bondowoso terlalu kuat. Setiap sabetan pedangnya terasa mengandung kekuatan sepuluh orang. Bahkan, di saat-saat kritis, Bondowoso hanya perlu membentak, dan sekelompok jin tak kasat mata akan mengangkat senjatanya.
Dalam waktu yang terasa singkat, sang Prabu Baka terdesak.
“Ayahanda!”
Roro Jonggrang, yang menyaksikan pertempuran dari celah dinding istana, tak kuasa menahan jeritannya. Beberapa dayang mencoba menenangkannya, tetapi pandangannya terpaku pada pahlawan terakhir Prambanan.
Bondowoso, dengan wajah tanpa belas kasihan, melepaskan serangan pamungkas yang mengerikan.
Blarrr!
Kekuatan itu begitu dahsyat. Prabu Baka ambruk ke tanah. Pedangnya terlempar jauh. Darah segar membasahi tanah keramat Prambanan.
“Sudah selesai, Prabu Baka,” desis Bondowoso, menyarungkan pedangnya dengan angkuh. “Prambanan telah takluk.”
Kematian Prabu Baka adalah pukulan telak yang merobek jantung seluruh rakyat Prambanan. Kerajaan yang semula megah, kini diselimuti kabut kesedihan dan ketakutan.
Bondowoso memasuki istana. Tidak ada perlawanan lagi. Semua pelayan, prajurit, dan rakyat Prambanan hanya bisa menunduk, menangisi nasib mereka dan kematian raja tercinta.
Bondowoso berjalan dengan langkah-langkah berat, melewati karpet beludru yang kini tampak kusam. Dia menuju ke ruang dalam, tempat Roro Jonggrang bersembunyi bersama para dayangnya.
“Kalian! Mana putri raja yang kalian sembunyikan itu? Suruh dia keluar!” perintah Bondowoso kepada para dayang dengan nada yang tak terbantahkan.
Seorang dayang senior memberanikan diri. “Tuanku, mohon belas kasihan. Putri kami sedang berduka atas wafatnya Baginda Raja.”
“Duka? Apa peduliku soal duka?” Bondowoso membentak. “Aku adalah pemenang! Di mana Roro Jonggrang?”
Saat itulah Roro Jonggrang memutuskan untuk tampil. Ia tidak ingin lagi ada yang terluka karena melindunginya.
Ia melangkah maju, wajahnya pucat pasi karena duka, tetapi matanya memancarkan keberanian yang luar biasa, seolah-olah ia adalah benteng terakhir yang tidak akan pernah runtuh.
“Aku di sini, Senapati Pengging,” ucap Roro Jonggrang, suaranya bergetar tetapi tegas.
Bondowoso menoleh. Detik itu juga, waktu seolah berhenti di Istana Prambanan.
Bondowoso telah melihat banyak wanita cantik, tetapi tidak ada yang sebanding dengan Roro Jonggrang. Keindahan sang putri menembus hatinya yang dingin dan kejam. Keinginan untuk menaklukkan tanah Jawa seketika memudar, digantikan oleh hasrat yang membakar untuk memiliki wanita di hadapannya ini.
Ia melupakan perang, melupakan darah yang baru ia tumpahkan.
“Ah, Roro Jonggrang,” desah Bondowoso, melangkah mendekat. Langkahnya kini tidak lagi mengancam, melainkan penuh nafsu. “Kau jauh lebih indah dari yang diceritakan para mata-mata.”
Roro Jonggrang mundur selangkah. Ia mencium bau darah dan kekuasaan yang keji dari tubuh pria ini.
“Kau telah membunuh Ayahku,” kata Roro Jonggrang, penuh penekanan. “Kau telah menghancurkan kerajaanku. Apa lagi yang kau inginkan dariku?”
Bondowoso tersenyum sinis. “Aku menginginkan segalanya. Aku menginginkan kerajaanku, dan aku menginginkan dirimu. Jika kau mau, aku bisa menjadikanmu ratu paling berkuasa di seluruh tanah Jawa.”
Roro Jonggrang menatapnya dengan jijik yang tak terhingga. Bagaimana mungkin ia menikah dengan pria yang baru saja merenggut nyawa orang yang paling ia cintai? Namun, ia tahu. Menolak secara langsung berarti menantang kematian dan menghukum seluruh rakyat Prambanan.
Ia harus berpikir. Cerdas, cepat, dan licik.
“Menikah denganku?” ulang Roro Jonggrang, berpura-pura mempertimbangkan tawaran itu. “Kau baru saja menaklukkanku dan rakyatku dengan paksa. Bagaimana bisa aku menyerahkan diri secepat ini?”
Bondowoso mendengus. “Aku tidak terbiasa menunggu, Putri. Aku akan menikahimu malam ini juga jika perlu.”
“Tunggu,” potong Roro Jonggrang, mengangkat tangannya. “Seorang Ratu tidak bisa menyerah begitu saja. Aku akan menjadi istrimu, Senapati Bondowoso, tetapi hanya jika kau bisa memenuhi satu persyaratanku.”
Bondowoso mengangkat alisnya, tertarik. “Syarat? Katakan. Tidak ada hal yang mustahil bagiku. Aku memiliki kekuatan seribu prajurit, dan aku didampingi oleh pasukan gaib.”
Roro Jonggrang memejamkan mata sejenak, menata napas. Ini adalah pertaruhan hidup dan mati.
“Syaratku sederhana. Jika kau benar-benar hebat, buktikan itu dengan sebuah mahakarya. Aku menginginkan kau membangun seribu candi,” ujar Roro Jonggrang, menatap lurus ke mata Bondowoso.
Ruangan itu hening. Para dayang saling berpandangan, tak percaya dengan persyaratan yang luar biasa itu.
Bondowoso memiringkan kepalanya, sedikit terhibur. “Seribu candi? Itu adalah pekerjaan untuk sepuluh tahun, bahkan bagi seratus pekerja terbaik sekalipun.”
“Tentu saja,” jawab Roro Jonggrang, senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang diselimuti kepedihan. “Itu membuktikan bahwa kau bukan hanya pria kuat, tetapi juga pria luar biasa yang layak mendampingiku. Namun, ada satu lagi persyaratan yang tak bisa diganggu gugat.”
Bondowoso semakin tertarik. “Apa itu?”
“Seribu candi itu harus selesai dalam waktu satu malam,” tegas Roro Jonggrang. “Tepat sebelum matahari terbit, seribu candi itu harus berdiri tegak. Jika kau gagal, meski hanya kurang satu candi saja, maka kau harus pergi dari Prambanan dan tidak pernah kembali. Dan pernikahan kita batal.”
Bondowoso terdiam sesaat, mencerna persyaratan yang sungguh gila itu. Satu malam? Seribu candi?
Namun, Bondowoso ingat kekuatannya. Dia bukan manusia biasa. Dia memiliki ribuan jin yang tunduk padanya. Bagi para jin, tugas membangun candi hanyalah permainan.
Kesombongan Bondowoso menguasai akal sehatnya. Ia memandang remeh Roro Jonggrang.
“Satu malam, seribu candi,” ulang Bondowoso, kemudian tertawa lepas. “Persyaratan yang konyol, Putri. Kau mencoba mengulur waktu. Baik! Aku terima tantanganmu. Demi keindahanmu, aku akan melakukannya. Jika aku berhasil, kau harus menikah denganku tanpa syarat lagi.”
“Aku berjanji,” sahut Roro Jonggrang, meski hatinya terasa seperti dicabik-cabik.
Malam itu, di lapangan luas dekat istana, suasana berubah mencekam.
Bondowoso mendirikan tenda komandonya. Malam gelap gulita, bulan pun enggan menampakkan diri, seolah tahu akan ada keajaiban—atau kengerian—yang akan terjadi.
Bondowoso duduk bersila di tengah lapangan. Dia mengheningkan cipta. Kekuatan gaibnya segera ia kerahkan. Dia memanggil nama-nama pemimpin jin yang menjadi pengikut setianya.
“Wahai bala bantuan gaibku! Datanglah! Aku membutuhkan bantuan kalian sekarang!” teriaknya.
Dalam sekejap, udara menjadi dingin, berbau belerang. Dari langit turunlah kabut pekat yang diikuti oleh ribuan suara aneh. Suara gerungan, bisikan, dan dengungan yang menyerupai gema dari neraka.
Ribuan jin, berwujud raksasa yang mengerikan, berwajah hitam dan mata merah menyala, segera berbaris di hadapan Bondowoso.
“Tuanku, apa perintahmu?” tanya salah satu jin yang tampak paling besar dan menyeramkan.
“Tugas kalian sederhana,” jawab Bondowoso dengan tegas. “Kalian akan membangun seribu candi. Mulai sekarang hingga fajar menyingsing. Setiap candi harus sempurna. Bergeraklah!”
Seketika itu juga, pemandangan di lapangan terbuka itu berubah total.
Batu-batu besar diangkut dari gunung-gunung terdekat hanya dalam kedipan mata. Tanah digali dengan kekuatan yang tak masuk akal. Jin-jin itu bekerja dengan kecepatan supernatural, membangun fondasi, mengukir relief, dan menegakkan stupa dengan presisi yang mengerikan.
Suara dentuman batu beradu, bisikan mantra para jin, dan tawa Bondowoso yang penuh keyakinan, memenuhi malam itu.
Roro Jonggrang tidak bisa tidur. Ia berdiri di balkon istana, menatap ke arah lapangan yang disinari oleh cahaya-cahaya mistis dari aktivitas jin.
Awalnya, Roro Jonggrang yakin bahwa Bondowoso akan gagal. Tidak ada manusia yang bisa membangun seribu candi hanya dalam waktu satu malam. Ia pikir, Bondowoso hanya memiliki prajurit manusia biasa.
Namun, saat ia melihat bayangan-bayangan raksasa yang bergerak lincah, memindahkan gunung batu dalam sekali tarikan napas, Roro Jonggrang tercekat.
“Astaga,” bisiknya, tangannya menutup mulut karena terkejut.
Candi demi candi mulai terbentuk. Satu, sepuluh, lima puluh, seratus. Dalam waktu dua jam setelah tengah malam, sudah lebih dari separuh lapangan dipenuhi oleh siluet candi-candi yang menjulang tinggi, gelap, dan menyeramkan.
Ini bukan kekuatan manusia. Ini adalah kekuatan iblis yang nyata.
“Mereka terlalu cepat. Ini bukan hanya seribu prajurit, Dayang. Dia benar-benar menggunakan bala bantuan jin!” bisik Roro Jonggrang panik kepada dayang setianya, Mawar.
Mawar yang juga menyaksikan kengerian itu, gemetar. “Kita harus melakukan sesuatu, Putri. Jika sampai fajar tiba dan seribu candi itu selesai, Tuan Putri harus menikahi pembunuh itu.”
Roro Jonggrang merasakan ketakutan yang dingin menjalari tulang punggungnya. Ia menyadari kesalahannya. Ia telah meremehkan kekuatan magis Bondowoso. Waktu terus berjalan, dan matahari akan terbit dalam beberapa jam lagi.
Hitungannya sudah mencapai angka yang menakutkan. Hampir delapan ratus candi sudah berdiri kokoh.
Roro Jonggrang mengepalkan tinjunya. Ia harus berbuat curang. Ia harus mengelabui Bondowoso dan semua makhluk gaibnya.
“Tidak ada pilihan lain,” gumam Roro Jonggrang, matanya kini dipenuhi tekad yang membara, menggantikan rasa takutnya. “Kita harus menghentikan malam ini. Kita harus membuat para jin itu berpikir bahwa pagi telah tiba.”
Roro Jonggrang segera memanggil seluruh dayang dan pelayan wanita yang tersisa di istana.
“Dengarkan aku baik-baik!” perintah Roro Jonggrang dengan suara yang sangat serius. “Kita berada di ambang kehancuran. Aku tidak akan menikah dengan Bandung Bondowoso. Kita akan melakukan penipuan. Kita harus membuat para jin itu percaya bahwa fajar telah menyingsing!”
Para dayang saling pandang. Mereka tahu ini berbahaya, tetapi mereka percaya pada kecerdasan putri mereka.
“Apa yang harus kami lakukan, Putri?” tanya Mawar.
Roro Jonggrang menunjuk ke arah timur, ke tempat matahari biasa terbit.
“Kita harus membuat ilusi fajar,” kata Roro Jonggrang, senyum licik muncul di wajahnya.
Ia memberikan instruksi yang cepat dan terperinci. Para dayang dan pelayan wanita bergegas melaksanakan titah Sang Putri. Mereka menyalakan obor-obor besar, membuat api unggun di segala penjuru. Mereka menumpuk jerami dan membakarnya agar asap tebal mengepul, meniru kabut pagi.
Tetapi Roro Jonggrang tahu, cahaya dan asap saja tidak cukup untuk menipu makhluk gaib yang cerdik.
“Ambil lesung dan alu! Tumbuk padi dengan irama paling gaduh yang kalian bisa!” perintah Roro Jonggrang. “Tumbuklah seolah-olah kalian sedang menyambut hari baru! Sebab, suara tumbukan padi adalah penanda pasti bagi para petani bahwa hari telah dimulai!”
Tak hanya itu, Roro Jonggrang pun mengeluarkan perintah terbesarnya:
“Kita akan menyebarkan bunga-bunga harum, membasahi jalan setapak, dan melepaskan seluruh ayam jantan yang ada di kandang! Paksa mereka berkokok! Kita harus membuat malam ini seolah-olah berubah menjadi pagi yang sibuk dan nyata!”
Ratusan wanita segera bergerak dalam keheningan yang serempak. Cahaya api unggun mulai memerah di timur, asap tebal mengepul ke langit. Suara gaduh tumbukan padi, yang biasanya terdengar hanya di pagi hari, kini memecah kesunyian malam.
Di tengah semua itu, beberapa ayam jantan, terkejut dan bingung karena cahaya dan suara gaduh yang tidak wajar, mulai berkokok dengan nyaring, satu demi satu, diikuti oleh ribuan kokokan lainnya.
Di lapangan, Bandung Bondowoso tersenyum penuh kemenangan.
“Hitunglah! Sudah berapa yang kalian bangun, wahai para jin?” serunya.
Jin terkemuka itu membungkuk. “Tuanku, sudah 999 candi selesai. Tinggal satu lagi! Kami hanya butuh waktu lima menit lagi!”
Tepat pada saat itu, asap tebal mulai menyelimuti lapangan. Jin-jin itu mulai mengernyit, merasa ada yang aneh.
Mereka mendengar kokok ayam jantan. Bukan hanya satu atau dua, tetapi kokok yang sangat ramai, diikuti oleh irama gaduh lesung dan alu. Mereka melihat cahaya merah membias di cakrawala.
“Kokok ayam! Cahaya merah! Suara tumbukan padi!” seru salah satu jin ketakutan. “Tuanku! Matahari telah terbit!”
“Bodoh! Ini masih tengah malam!” bentak Bondowoso, yang sedang fokus merapalkan mantra untuk candi terakhir.
Namun, semakin banyak ayam yang berkokok, semakin terang cahaya merah yang dipancarkan para dayang dari kejauhan. Kepercayaan para jin pada fajar yang mereka lihat adalah mutlak.
Mereka adalah makhluk malam. Mereka tidak boleh terkena sinar matahari terbit, atau mereka akan lenyap menjadi debu.
“Tuanku! Kami harus pergi! Jika matahari terbit, kami akan mati!” teriak para jin panik, wajah mereka yang menyeramkan kini dipenuhi ketakutan.
Mereka menjatuhkan semua peralatan mereka. Batu-batu yang hendak dijadikan candi terakhir jatuh dengan suara menggelegar.
Ribuan jin itu segera menghilang, berlarian dan menyelamatkan diri dari apa yang mereka yakini sebagai fajar yang datang mendadak.
Bandung Bondowoso bangkit. Ia melihat sekeliling. Lapangan itu kini sunyi, hanya ada 999 candi yang berdiri tegak. Pasukan jinnya telah menghilang. Dia telah ditinggalkan.
Bondowoso menatap ke arah timur, ke arah cahaya yang tampak palsu itu, dan wajahnya memerah karena amarah yang tak tertahankan.
“Cahaya palsu! Kokok palsu! Ini adalah tipuan!” teriaknya, suaranya dipenuhi frustrasi dan kekalahan.
Ia segera berlari menuju istana. Dia tahu siapa dalang di balik semua ini.
Roro Jonggrang menantinya di pendopo agung, wajahnya dingin, tatapannya penuh kemenangan yang rapuh.
Bondowoso berdiri di hadapannya, tubuhnya bergetar.
“Kau curang, Roro Jonggrang! Kau telah menipuku dan balaku!” desis Bondowoso, tangannya mengepal erat. “Di mana candi yang keseribu? Tunjukkan padaku!”
Roro Jonggrang menunjuk ke arah luar. “Pergilah dan hitung sendiri, Senapati. Aku sudah menghitungnya. Hanya 999 candi yang berdiri. Kau gagal.”
Bandung Bondowoso kini menyadari bahwa ia tidak hanya kalah taruhan, tetapi juga dipermainkan oleh seorang wanita. Harga dirinya yang tinggi tercabik-cabik. Ia telah dikalahkan bukan oleh kekuatan, melainkan oleh kecerdasan dan tipu muslihat.
Amarahnya meluap seperti lahar gunung berapi. Matanya menyala.
“Baik, Putri!” raung Bondowoso, menunjuk tajam ke arah Roro Jonggrang. “Jika kau sangat menginginkan candi yang keseribu, maka akulah yang akan menyelesaikannya! Aku akan membuat candi terakhir sekarang juga!”
Roro Jonggrang merasakan hawa dingin yang mematikan. Ia tahu ia telah melampaui batas.
“Tunggu, Bondowoso! Apa maksudmu?” Roro Jonggrang berbisik, panik.
Bandung Bondowoso maju selangkah. Matanya menatap Roro Jonggrang dengan kebencian yang mendalam, dicampur dengan nafsu yang telah berubah menjadi dendam.
“Kau ingin seribu candi, bukan? Candi terakhir ini akan abadi. Dan kau, Roro Jonggrang,” kata Bondowoso, mengangkat tangannya yang diselimuti aura gelap, “Kau akan menjadi candi yang keseribu!”
Tepat sebelum Roro Jonggrang sempat menjerit, kekuatan sihir yang mengerikan menyambar tubuhnya. Rasa sakit luar biasa menjalari setiap pori-pori kulitnya. Ia merasakan tubuhnya mengeras, membeku, berubah menjadi batu yang dingin dan kaku.
Roro Jonggrang menjerit dalam hati, menyadari bahwa tipu muslihatnya telah mendatangkan kutukan paling buruk.
Di hadapan para dayang yang menjerit histeris, tubuh Roro Jonggrang perlahan berubah, dari seorang putri yang cantik jelita, menjadi sebuah arca batu yang indah namun mematikan.
Arca itu berdiri tegak, mematung, di tengah-tengah 999 candi yang telah dibangun para jin.
999 candi + 1 arca Roro Jonggrang = 1000 candi.
Bandung Bondowoso telah menepati janjinya, dengan harga yang sangat mahal.
Mawar, dayang setia Roro Jonggrang, hanya bisa menangis melihat pemandangan tragis itu. Ia menatap ke langit timur yang kini mulai memudar, menyadari bahwa fajar yang sebenarnya akan segera datang.
Ia harus pergi. Ia harus menyembunyikan rahasia kengerian ini.
Saat matahari benar-benar terbit, Bandung Bondowoso berdiri di tengah lapangan yang kini sunyi. Ia menatap candi-candi itu dengan pandangan kosong. Kemenangan terasa pahit. Ia telah mendapatkan seribu candi, tetapi ia kehilangan apa yang paling ia inginkan, yaitu hati dan raga Roro Jonggrang.
Dia harus menghadapi kenyataan pahit.
Ia telah kalah oleh takdir, dan kini, kekalahan itu harus disembunyikan.
Dia melihat ke sekeliling kompleks candi. Di sudut paling selatan, dekat area arca Roro Jonggrang, ia melihat seorang pria paruh baya yang tampak mencurigakan sedang membersihkan sisa-sisa sesajen.
Pria itu adalah seorang pembuat keris kepercayaan Prabu Baka, yang diam-diam menyaksikan seluruh kejadian.
“Siapa kau?” tanya Bondowoso dengan nada tajam.
Pria itu gemetar, tetapi mencoba terlihat tenang. “Hamba… hamba hanya seorang pelayan yang bertugas membersihkan candi.”
Bondowoso berjalan mendekat, mencium bau pengkhianatan. Pria itu menyembunyikan sesuatu di balik jubahnya.
“Kau berbohong. Kau tahu siapa aku. Dan kau tahu apa yang terjadi tadi malam,” desis Bondowoso.
Pria itu menunduk. “Hamba tidak tahu apa-apa, Tuanku.”
Bandung Bondowoso meraih pria itu, mencengkeram bahunya dengan kuat. Ia menggunakan kekuatan gaibnya untuk membaca pikiran pria itu. Seketika itu juga, Bondowoso melihat bayangan jelas di benak pria tersebut: gambar Roro Jonggrang dan para dayangnya menyalakan api dan menumbuk padi.
Pengkhianatan yang dilakukan oleh dayang setia Roro Jonggrang.
Bondowoso melepaskan cengkeramannya, wajahnya kini bukan lagi marah, tetapi dingin dan mematikan. Ia harus memastikan bahwa tidak ada saksi yang menceritakan kebenaran tentang tipuan fajar dan kutukan Roro Jonggrang.
“Kau telah melihat terlalu banyak,” kata Bondowoso datar.
Ia segera mengangkat pedangnya.
Namun, sebelum Bondowoso sempat mengayunkan pedangnya, pria pembuat keris itu tiba-tiba tersenyum licik.
“Kau boleh membunuhku, Bondowoso. Tapi kau tidak akan pernah bisa membunuh rahasia besarku!”
“Rahasia apa?!” raung Bondowoso.
Pria itu tertawa. Bukan tawa ketakutan, melainkan tawa kemenangan.
“Kau tahu, Bondowoso, mengapa kekuatanmu begitu hebat? Mengapa kau bisa memanggil pasukan jin?” kata pria itu, sambil perlahan membuka jubahnya dan memperlihatkan tato misterius di dadanya. “Karena aku yang memberikannya!”
Bondowoso mundur dua langkah, terkejut.
“Apa yang kau bicarakan?”
“Kau pikir Prabu Baka hanya seorang raja bodoh? Tidak! Prabu Baka tahu kau akan menyerang, dan dia meminta bantuan sahabat lamanya. Aku adalah salah satu dari sedikit manusia yang bisa mengendalikan energi Baru Klinting—kekuatan ular naga raksasa yang menjadi sumber kekuatan seluruh tanah Jawa!”
Pria itu kini berseru lantang, matanya menyala.
“Kekuatan yang kau miliki, Bondowoso, adalah racun dari Baru Klinting yang aku tanamkan ke dalam jiwamu sejak kau masih kecil! Kau selama ini hanya boneka! Aku yang membuatmu kuat, dan aku bisa mengambilnya kapan saja!”
Bandung Bondowoso, sang penakluk, tiba-tiba merasa pusing dan lemah. Ia menyadari bahwa kekuatannya, yang selama ini menjadi sumber kebanggaannya, adalah sebuah kutukan yang ditanamkan oleh mata-mata Prabu Baka sejak awal.
Ia bukan lagi Senapati terkuat. Ia adalah pion yang dikendalikan.
Tangan Bondowoso lunglai, pedangnya jatuh ke tanah, berdentang nyaring.
Ia menatap pria itu dengan penuh rasa ngeri. “Siapa… siapa kau sebenarnya?”
Pria itu tersenyum terakhir kalinya, senyum kemenangan yang membuat Bondowoso gemetar.
“Namaku adalah Jaka Tarub,” jawabnya, menyebut nama seorang legenda lama, sebelum akhirnya ia mengeluarkan pisau kecil dari balik lengan bajunya dan menikam dirinya sendiri dengan cepat dan mematikan.
Bondowoso terjatuh berlutut, menyaksikan pria itu ambruk.
Pasukan Pengging yang baru datang ke lokasi hanya melihat Senapati mereka berlutut di samping mayat seorang pelayan, dengan seribu candi yang berdiri tegak dan arca Roro Jonggrang yang mematung.
Mereka tidak tahu kebenaran yang baru saja terbongkar: bahwa penaklukan Bondowoso, kematian Prabu Baka, dan kutukan Roro Jonggrang, semuanya adalah bagian dari rencana besar seorang dalang yang selama ini bersembunyi di balik bayangan.
Bandung Bondowoso kini sendirian. Ia telah kehilangan kekuatan, ia telah kehilangan kekasihnya, dan ia telah kehilangan jiwanya, semua di bawah bayangan konspirasi yang jauh lebih besar dari perang.
Kekuatan Baru Klinting. Jaka Tarub. Nama-nama itu berputar liar di kepala Bondowoso, mengubah takdirnya. Ia harus melarikan diri, mencari tahu, atau kehancuran Pengging akan segera terjadi di tangannya sendiri.
(Bersambung ke Part 2)