Dengarkan suara ombak itu, Nak.
Dengarkan baik-baik. Suara itu bukan sekadar air laut memecah karang. Tidak. Itu adalah suara janji yang dikhianati. Itu adalah jeritan hati seorang ibu.
Ini cerita dari Ranah Minang, bukan hanya legenda yang kau baca di buku usang. Ini adalah pelajaran. Pelajaran pertama tentang apa itu Sumpah.
Namanya… Mande Rubayah.
Seorang perempuan tangguh. Tubuhnya kurus. Kulitnya legam, terbakar matahari pesisir. Setiap garis di wajahnya, setiap kerutan di tangannya, adalah kisah perjuangan melawan garam dan kemiskinan.
Mereka tinggal di pinggir pantai. Rumahnya kecil, berdinding tepas, atapnya rumbia yang sudah mulai lapuk dimakan angin laut. Pemandangan mereka hanya dua: Laut luas yang memberi kehidupan, dan kemiskinan yang membelenggu.
Malin Kundang.
Anak semata wayangnya. Mata hatinya. Satu-satunya alasan Mande Rubayah masih bernapas.
Sejak suaminya—ayah Malin—pergi ditelan ombak badai sepuluh tahun lalu, Mande hidup hanya untuk anak itu. Ia mendayung perahu kecil, menangkap ikan kecil, mengumpulkan kerang di tepi air. Apapun, asal Malin bisa makan.
Malin tumbuh cepat. Badannya kuat, pikirannya tajam, tapi ada api di matanya. Api yang tidak dimiliki anak-anak nelayan lainnya. Api itu namanya Ambisi.
Ingat ini baik-baik, Nak. Ambisi tanpa syukur adalah bencana.
“Ikan hari ini kecil-kecil, Malin,” kata Mande suatu pagi, tangannya membersihkan jaring yang penuh lumut.
Malin, yang saat itu baru menginjak usia remaja, hanya memandang ke laut. Ombak datang dan pergi. Tak ada yang berubah.
“Hidup kita selalu kecil, Mande,” jawab Malin. Suaranya sudah berat. Bukan lagi suara anak kecil.
“Jangan bicara begitu, Nak. Kita punya cukup. Kita punya kita.”
Malin menghela napas. Dia berbalik, menatap ibunya yang semakin renta.
“Cukup apa, Mande? Cukup untuk makan sehari, lalu besok kita lapar lagi? Lihat rumah kita! Lihat pakaian kita! Semua orang di negeri seberang, mereka punya istana. Mereka punya kapal sebesar gunung. Kita? Kita hanya punya perahu bocor ini!”
Mande Rubayah menghampirinya. Dielusnya rambut Malin yang tebal, berbau garam.
“Kapal besar itu, Malin, datang dari air mata dan keringat. Tidak semua kemewahan membawa berkah. Kita miskin harta, tapi kaya hati. Itu lebih berharga, Nak.”
“Hati tidak bisa membeli beras, Mande!”
Bentakan itu menusuk. Tapi Mande Rubayah sudah terbiasa. Ia tahu, di balik suara kasar itu, ada hati Malin yang ingin membahagiakannya. Ia hanya salah jalan.
“Jangan pernah meninggikan harta di atas segalanya, Malin. Itu adalah racun pertama yang membunuh jiwa,” Mande menasihati.
Lalu, suatu hari, takdir datang.
Bukan dalam bentuk badai, melainkan dalam bentuk Keajaiban.
Sebuah kapal. Bukan kapal biasa. Ini adalah Kapal Dagang Paling Besar yang pernah berlabuh di pantai kecil mereka. Kapal itu tinggi, layarnya putih bersih, lambungnya mengkilap seolah dilapisi emas.
Malin terpaku. Begitu juga seluruh penduduk desa.
Kapal itu milik seorang Nahkoda kaya raya dari tanah seberang. Nahkoda itu singgah karena kapalnya rusak sedikit, membutuhkan perbaikan cepat.
Malin Kundang, dengan keberanian yang tidak dimiliki siapa pun di desa itu, mendekati kapal.
Dia bicara pada Nahkoda, menggunakan bahasa yang didengarnya dari para pedagang yang sesekali singgah. Dia menunjukkan kekuatan fisiknya. Dia menawarkan diri untuk bekerja, apa saja.
“Kau anak yang berani,” kata Nahkoda itu, tertawa. “Tapi kau masih terlalu muda. Lautan itu keras, Nak.”
“Saya lebih keras dari lautan, Tuan,” sahut Malin. Matanya penuh api. “Saya bisa angkat beban tiga kali lipat. Saya tidak takut mati kelaparan. Saya hanya takut mati dalam kemiskinan.”
Nahkoda itu terkesan. Ia melihat potensi. Potensi yang berbahaya.
“Baiklah. Ikutlah denganku. Tapi kau harus siap. Kau tidak akan kembali bertahun-tahun. Kau akan jadi kuli kapal. Kotor, bau, jauh dari ibumu.”
Jantung Malin berdebar. Ini adalah gerbangnya. Gerbang menuju dunia yang selalu ia impikan.
“Saya siap, Tuan!”
Pagi itu. Pagi yang dingin. Pagi di mana janji diucapkan, dan air mata Mande Rubayah tumpah ruah membasahi pasir pantai.
Malin mengemasi satu-satunya barang miliknya: pakaian lusuh dan kenangan akan ayahnya.
Mande Rubayah memegang erat tangan anaknya. Wajahnya pucat, tapi matanya memancarkan ketakutan yang mendalam.
“Malin! Kau yakin? Kau harus pergi sejauh ini?”
“Hanya sebentar, Mande. Satu tahun. Dua tahun. Setelah itu, aku akan kembali. Aku akan menjadi orang kaya. Aku akan belikan kau rumah batu. Kau tidak perlu lagi mencari ikan di laut!” kata Malin, suaranya berusaha terdengar tegas.
“Harta tidak penting, Nak. Aku hanya ingin kau di sini, di sisiku.”
“Mande, kita tidak akan bisa keluar dari kemiskinan ini jika aku tetap di sini! Aku harus mencari ilmu. Aku harus mencari kekayaan.”
“Tapi… siapa yang akan menjagaku di sini? Kau anak satu-satunya!” Mande mulai terisak.
Malin memeluk ibunya. Pelukan terakhir yang tulus, sebelum ambisi mulai menggerogoti jiwanya.
“Dengarkan baik-baik, Mande. Aku bersumpah di hadapan langit dan laut ini. Aku bersumpah, aku akan selalu ingat padamu. Jika aku lupa, biarlah petir menyambar! Biarlah aku dikutuk menjadi batu!”
Sumpah itu—ya, sumpah itu—terlalu cepat diucapkan.
Mande Rubayah tahu, sumpah yang diucapkan saat berambisi besar, seringkali dilupakan saat kekayaan sudah di genggaman.
“Jaga dirimu baik-baik, Malin. Ingat, harta bukan Tuhan. Hormati selalu orang yang lebih tua. Jangan pernah kau lupakan asalmu. Jangan lupakan aku. Ibumu.”
Malin mengangguk, melepaskan pelukan itu. Lalu, ia melangkah. Ia menaiki sekoci. Meninggalkan Mande Rubayah yang berdiri sendiri di tepi pantai.
Ketika kapal besar itu mulai bergerak, perlahan menjauh dari pelabuhan, Mande terus melambaikan tangan.
“Hati-hati, Malin! Cepat kembali! Aku akan selalu menunggumu!”
Malin Kundang melambai sekali saja, kemudian ia berbalik, menatap cakrawala. Cakrawala yang menjanjikan kemewahan, tapi menyembunyikan iblis keangkuhan.
Laut itu saksi bisu. Selalu saksi bisu janji dan pengkhianatan.
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun.
Satu tahun berlalu. Malin tak kunjung kembali.
Dua tahun berlalu. Mande Rubayah mulai cemas.
Lima tahun berlalu. Mande Rubayah sudah tua. Rambutnya memutih sepenuhnya. Tubuhnya semakin membungkuk. Tapi setiap pagi, ia selalu berjalan ke pantai. Matanya yang mulai rabun menatap ke kejauhan. Berharap.
“Kapal besar itu. Mungkin itu Malin,” ia sering berbisik pada dirinya sendiri.
Tapi itu selalu kapal nelayan lain. Atau kapal dagang asing yang tak mengenalnya.
Penduduk desa mulai berbisik.
“Mande, mungkin Malin sudah mati ditelan badai.”
“Mande, sudahlah. Relakan saja.”
“Malin sudah sukses, Mande. Dia pasti lupa pada kita, orang miskin.”
Setiap bisikan itu adalah duri yang menusuk jantung Mande Rubayah.
“Tidak! Anakku tidak seperti itu!” Mande membela. “Malin anak yang baik. Dia hanya sibuk. Dia akan kembali. Dia sudah bersumpah!”
Tapi tahun ke sepuluh datang.
Mande Rubayah sudah sangat tua. Ia sulit berjalan. Ia sering sakit-sakitan. Ia menghabiskan hari-harinya di teras rumah yang semakin lapuk, memandang ke laut.
Di masa itu, ada cerita lain yang mulai terdengar dari negeri seberang. Cerita tentang seorang saudagar muda yang sangat kaya.
Namanya, Tuan Muda Kundang.
Dia bukan sekadar kaya. Dia adalah Raja Lautan. Kapalnya bukan hanya besar, tapi konon, berlapis emas. Dia memiliki jaringan dagang dari Sabang sampai Marauke. Dia menikahi seorang putri bangsawan dari tanah asing. Cantik, berpendidikan, dan sangat mewah.
Kisah itu sampai ke telinga Mande Rubayah melalui seorang nelayan tua yang baru kembali dari pelabuhan besar.
“Namanya Tuan Kundang? Apakah ia menyebutkan nama ibunya, Nak?” tanya Mande, tangannya gemetar.
Nelayan itu menggeleng. “Tidak, Mande. Dia hanya disebut Tuan Kundang. Dia sangat angkuh. Dia tidak pernah mau bergaul dengan orang miskin.”
Mande Rubayah terdiam. Hatinya mencelos. Tapi ia tetap menyimpan harapan. Kundang—pasti Malin.
“Dia pasti ingin membuat kejutan,” bisik Mande pada dirinya sendiri. Ia harus percaya.
Tahun ke sebelas. Musim hujan baru saja reda.
Saat itu, terjadi guncangan besar di desa pantai yang sepi itu.
Ombaknya tenang, langitnya biru, tapi mata seluruh penduduk terpaku pada satu pemandangan:
Di cakrawala, muncul bintik. Bintik itu membesar. Membesar, dan terus membesar.
Itu adalah Kapal.
Bukan kapal dagang biasa. Bukan.
Kapal itu begitu besar, sehingga pelabuhan kecil desa itu nyaris tidak bisa menampungnya. Layarnya terbuat dari sutra terbaik. Patung ukiran di haluan kapal berkilauan tertimpa matahari. Para pelautnya berpakaian rapi, terlihat gagah dan berwibawa.
Dan di anjungan kapal, berdiri sepasang suami istri.
Sang pria, tinggi besar, berwajah tampan, mengenakan pakaian sutra merah marun yang mahal. Di sampingnya, seorang wanita muda yang cantik jelita, berkalung berlian yang gemerlap.
“Dia kembali! Dia kembali!” teriak para penduduk.
Suara kegembiraan menyebar seperti api.
Mande Rubayah, yang mendengar keributan itu dari dalam gubuknya, merasakan darahnya mengalir deras ke jantung. Ia memaksa tubuhnya yang renta untuk bangkit.
“Malin? Malin!” bisiknya.
Dengan tenaga yang tersisa, ia berlari—bukan berlari, tapi menyeret tubuhnya—menuju pantai.
Ia melihat sosok itu. Pria gagah di atas kapal itu. Tidak salah lagi. Raut wajah, tatapan mata yang tajam… Itu Malin. Anak kandungnya!
Air mata Mande Rubayah tumpah. Air mata kebahagiaan. Rasa sakit belasan tahun menunggu, rasa lapar dan dingin, semua terbayar lunas.
“Malin! Anakku! Kau kembali!” teriak Mande, suaranya serak.
Ia menerobos kerumunan. Ia tidak peduli pakaiannya kotor, ia tidak peduli tubuhnya lemah. Ia hanya ingin memeluk anaknya.
Malin Kundang turun dari kapal. Ia disambut oleh kerumunan penduduk. Ia tersenyum, menyapa beberapa orang penting, menunjukkan betapa suksesnya dia.
Lalu, Mande Rubayah datang.
Ia berlari, tangannya terulur. Tubuhnya bau ikan dan garam. Pakaiannya lusuh dan compang-camping.
“Malin! Ini Ibumu, Nak!” teriak Mande, hampir pingsan karena menahan haru dan kelelahan.
Malin berbalik. Ekspresi di wajahnya… bukan kebahagiaan. Itu adalah kejutan. Dan kemudian, jijik.
Ia melihat ibunya. Wajah renta itu. Kerutan itu. Bau amis yang melekat di tubuh wanita tua itu. Semuanya adalah Pengingat. Pengingat tentang kemiskinan yang ia coba kubur dalam-dalam selama sebelas tahun.
Mande Rubayah sudah berada di hadapannya. Tangannya siap memeluk.
“Nak! Kau tidak apa-apa? Kau benar-benar kembali! Syukur Alhamdulillah!”
Tiba-tiba, Malin Kundang melangkah mundur satu langkah.
Mande Rubayah kebingungan. Kenapa anaknya tidak memeluknya?
“Malin? Kenapa kau diam saja?” tanya Mande, nadanya mulai dipenuhi keraguan.
Saat itulah, Sang Istri Bangsawan turun dari kapal. Wanita itu melihat pemandangan di depannya—seorang wanita tua pengemis yang berusaha memeluk suaminya.
Wajahnya langsung berubah masam.
“Sayangku,” kata sang istri dengan nada dingin, menggunakan bahasa dari negeri asing yang kaku. “Siapa wanita tua menjijikkan ini? Apakah dia mencoba mencuri sesuatu?”
Malin Kundang terkejut. Sang istri tidak tahu asal usulnya yang miskin. Malin selalu berbohong, mengatakan ibunya sudah meninggal dan ia berasal dari keluarga bangsawan yang bangkrut.
Kebohongan. Ya, kebohongan adalah lapisan pertama pengkhianatan.
Mande Rubayah tidak mengerti bahasa itu, tapi ia mengerti tatapan mata wanita muda yang penuh penghinaan itu.
“Siapa dia, Malin?” tanya Mande, menunjuk wanita muda itu.
Malin Kundang memandang ibunya. Ia melihat kemiskinan itu. Ia melihat bau itu. Ia melihat masa lalu yang memalukan di mata ribuan orang yang menonton.
Ia tidak bisa menerima kenyataan ini. Harga dirinya, kekayaannya, dan masa depannya dengan istri bangsawan itu, semua dipertaruhkan.
Inilah momen, Nak. Momen di mana jiwa Malin Kundang mati.
“Malin… kenapa kau tidak menjawab? Peluk Ibumu, Nak!” Mande memohon, air matanya kini adalah air mata ketakutan, bukan lagi haru.
Malin menarik napas dalam-dalam. Wajahnya mengeras, dingin, tanpa emosi.
Dia menatap tajam kepada wanita tua yang memanggilnya Ibu.
“Siapa kau, wanita tua?” tanya Malin Kundang. Suaranya lantang, memecah kesunyian pantai.
Mande Rubayah tersentak. Seluruh tubuhnya lemas. Ia tidak bisa mempercayai apa yang didengarnya.
“A… Apa yang kau katakan, Malin? Aku Ibumu!”
Malin menggeleng, senyum palsu tersungging di bibirnya.
“Tolong, Nyonya Tua. Jangan mengada-ada. Saya Tuan Muda Kundang, seorang saudagar kaya. Ibuku sudah lama meninggal. Aku tidak kenal pengemis kotor sepertimu.”
Kejutan itu. Rasa sakit itu. Hati Mande Rubayah seolah ditusuk ribuan belati panas. Tubuhnya ambruk ke pasir.
Dia dikhianati. Disangkal. Dipermalukan di depan seluruh desa.
“Malin! Aku yang mengandungmu! Aku yang menyusuimu! Jangan kau berani-berani mengkhianati darahmu sendiri!” teriak Mande, kini suaranya berubah, penuh amarah dan kepedihan yang tak tertahankan.
Mata sang istri bangsawan membelalak. Ia merasa terancam. Ia berbisik pada Malin, “Usir dia, Sayang! Dia memalukan!”
Malin Kundang menatap ibunya, matanya penuh kebencian.
“Usir wanita tua ini dari sini! Atau aku akan perintahkan anak buahku untuk membuangnya ke laut!” perintah Malin kepada para pelayannya.
Pelayan itu maju, siap menyeret Mande Rubayah.
Mande tidak melawan. Ia hanya tergeletak di pasir, menatap wajah anaknya yang kini menjadi asing, kejam, dan angkuh.
“Malin… kau benar-benar tidak mengakuiku?” bisiknya, air matanya bercampur dengan butiran pasir.
Malin Kundang menoleh pada istrinya, merangkulnya erat, dan berkata dengan suara yang sangat jelas, ditujukan kepada semua orang:
“Aku tidak punya ibu pengemis. Aku adalah orang sukses. Dan dia, dia hanyalah wanita gila yang ingin mengklaim hartaku.”
Pada saat itu, Mande Rubayah merasakan ada sesuatu yang retak di dalam dirinya. Bukan hanya hatinya, tapi seluruh jiwanya.
Ia melihat ke kapal itu lagi. Di tiang kapal, ia melihat ukiran batu yang sangat detil, menyerupai seekor naga yang angkuh.
Dan tepat di bawah ukiran itu, tersembunyi sebuah lencana kecil. Lencana yang sama dengan yang dipakai suaminya, ayah Malin, sebelum ia pergi.
Itu adalah lencana keluarga yang hilang. Lencana itu seharusnya dibuang bersama kemiskinan.
Tapi kini, di balik keangkuhan dan kebohongan Malin, di balik pengakuan bahwa ibunya telah meninggal, Mande Rubayah menyadari satu hal yang jauh lebih mengerikan dari sekadar penyangkalan.
Ia menyadari, lencana itu tidak mungkin didapatkan kecuali…
Malin Kundang tidak hanya sukses dan kaya. Malin Kundang pasti telah mencuri lencana itu, mengambil alih kapal itu, dan—
Mande Rubayah tiba-tiba mengerti mengapa Malin tidak pernah kembali. Mengapa Kapal Dagang itu tiba-tiba membutuhkan Nahkoda baru sebelas tahun yang lalu.
Rahasia itu menusuk lebih dalam dari pisau.
Malin Kundang, demi kekayaan dan harga diri, bukan hanya menyangkal ibunya, tetapi juga—
Ia membunuh Nahkoda tua yang membawanya. Dia mengkhianati mentornya, mencuri kapalnya, dan kini, ia kembali sebagai pembunuh dan pencuri yang sukses, menutupi kejahatannya dengan kemewahan.
Mande Rubayah, meski tubuhnya di pasir, matanya menatap tajam ke langit yang mulai mendung. Ia tahu sekarang.
Pengkhianatan yang paling besar bukanlah lupa akan janji. Tapi kejahatan yang tersembunyi di balik kekayaan.
Ia mengangkat tangannya yang keriput, tangannya yang telah membesarkan Malin dengan penuh cinta, kini ia angkat untuk bersumpah.
“Jika kau bukan Malin Kundang anakku, biarlah kau aman. Tetapi jika kau adalah darah dagingku, yang telah kau khianati demi harta dan keangkuhan…”
“Maka dengarkan Sumpah Ibu ini, Nak!” teriak Mande Rubayah, suaranya menggelegar melebihi deburan ombak.
Seketika, awan hitam berkumpul. Angin tiba-tiba berhembus kencang. Langit tampak marah.
Malin Kundang, yang awalnya tertawa sombong, tiba-tiba merasakan ketakutan yang dingin menjalari punggungnya. Ia melihat mata ibunya yang kini tidak memancarkan cinta, melainkan kobaran murka dewa.
(BERSAMBUNG KE PART 2: SUMPAH MAUT)