SENYUM Manisku Adalah RACUN! Aku BUKAN Menantu, Tapi Maut!

“Aduh, Ibu, jangan repot-repot angkat piring itu.”

Risa buru-buru menyambar nampan dari tangan Ibu Siti. Senyumnya lebar, sehangat mentari pagi yang baru terbit. Tentu saja, senyum itu palsu. Itu hanya topeng.

“Tidak repot, Sayang. Hanya satu piring. Lagipula, Ibu juga sehat, kok.” Ibu Siti tertawa ringan. Matanya yang sedikit keriput menatap Risa dengan penuh kasih sayang yang tulus.

Risa merasakan perutnya bergolak jijik. Sehat? Aku akan pastikan kau tidak sehat lama, Nyonya Tua.

“Ibu ini. Risa kan menantu. Sudah tugas Risa melayani Ibu,” kata Risa, suaranya dimaniskan, seperti madu yang siap membunuh.

“Menantu terbaik di dunia,” puji Ibu Siti, mencubit pipi Risa pelan.

Risa hanya tersenyum tipis, tapi dalam hatinya, dia menghitung mundur. Hitungan mundur menuju kematian ibu mertuanya. Hitungan mundur menuju warisan.

Rumah ini, pekarangan luas ini, deposito yang Ibu Siti simpan rapat-rapat di Bank Mandiri—semua akan menjadi miliknya. Dia dan Rangga sangat butuh uang itu. Sangat butuh.

“Rangga bagaimana, Sayang? Apa dia masih kesulitan dengan proyeknya?” tanya Ibu Siti, nada suaranya berubah khawatir.

Risa menghela napas yang dibuat-buat berat. Dia harus selalu mengingatkan Ibu Siti tentang kesulitan finansial mereka. Itu bagian dari rencana.

“Rangga sangat stres, Bu. Proyek terakhirnya hancur total. Kami bahkan harus menjual mobil bulan depan kalau tidak ada uang masuk,” Risa berbisik, seolah-olah kabar buruk itu terlalu menyakitkan untuk diucapkan keras-keras.

Ibu Siti langsung menggenggam tangan Risa.

“Ya Tuhan, kasihan sekali anak Ibu. Kalian harus kuat. Rangga itu anak yang pekerja keras. Dia pasti bisa bangkit lagi.”

“Semoga saja, Bu. Tapi kebutuhan sekolah Adam, cicilan rumah… semuanya menumpuk.” Risa menunduk.

“Mengapa kalian tidak tinggal saja di sini? Biar Ibu bantu urus Adam, dan uang sewa kontrakan bisa ditabung.”

Risa mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca (akting sempurna).

“Risa tidak mau merepotkan Ibu. Ibu sudah tua, harusnya menikmati masa pensiun. Kami malu, Bu.”

“Tidak ada kata merepotkan. Kalian ini anak Ibu. Sudah, jangan pikirkan itu. Ibu akan bicara pada Rangga nanti.”

Risa tersenyum menang. Ini dia. Umpan sudah dilemparkan. Ibu Siti pasti akan merasa tertekan untuk segera menyelesaikan urusan warisan agar “anaknya” tidak menderita.

Cepat, Nyonya Tua. Tanda tangani surat warisan itu dan kau boleh tidur tenang.


Malam itu, setelah Rangga pulang dan langsung tertidur kelelahan—Rangga memang terlalu naif dan terlalu lelah untuk menyadari permainan istrinya—Risa menjalankan fase kedua.

Dia masuk ke kamar Ibu Siti dengan senampan berisi teh hangat dan biskuit.

“Teh jahe hangat, Bu. Risa buat spesial. Tadi Ibu sempat batuk-batuk, kan?” Risa meletakkan nampan di meja samping tempat tidur.

Ibu Siti duduk bersandar, tersenyum. “Ya ampun, kamu baik sekali, Nak. Terima kasih banyak.”

“Sama-sama, Bu.”

Risa duduk di tepi ranjang.

“Oh ya, Risa juga membawakan sesuatu.”

Risa mengeluarkan botol kecil dari saku celemeknya. Botol itu berisi bubuk putih, sangat halus. Di labelnya tertulis: Herbal Immune Booster—Made in China.

Tentu saja, itu bukan herbal. Itu adalah racun dosis rendah yang Risa pesan melalui jaringan gelap. Racun yang meniru gejala penyakit tua kronis. Jantung, ginjal, hati. Secara perlahan, racun ini akan membuat tubuh Ibu Siti menyerah, dan para dokter hanya akan mendiagnosisnya sebagai ‘penuaan dan kegagalan organ alami’.

Sempurna.

“Apa ini, Sayang?” tanya Ibu Siti, memegang botol itu.

“Ini vitamin, Bu. Herbal mahal yang lagi viral. Untuk meningkatkan imun. Dokter langganan Risa yang rekomendasi. Cuma boleh diminum sedikit sekali, ya. Satu ujung sendok teh saja.”

“Wah, repot-repot kamu. Pasti mahal, ya?”

“Tidak sebanding dengan kesehatan Ibu. Ibu minum sekarang, ya?” Risa mendesak, matanya menatap Ibu Siti tanpa berkedip. Dia harus melihatnya menelan dosis awal ini.

Ibu Siti mengambil sendok teh kecil, menciduk sedikit bubuk putih itu, dan mencampurnya ke dalam teh. Dia mengaduknya perlahan.

“Baiklah. Bismillahirrahmanirrahim.”

Ibu Siti meneguk teh itu sampai habis.

Risa harus menahan diri untuk tidak tersenyum terlalu lebar. Kepalanya berdenging gembira. Satu langkah lagi. Sangat mudah. Kenapa dia begitu percaya padaku?

“Bagaimana rasanya, Bu? Ada pahitnya?”

“Tidak ada. Justru tehnya jadi lebih harum.” Ibu Siti meletakkan cangkir kosong. “Terima kasih, Risa. Kamu memang perhatian sekali.”

“Tentu, Bu. Risa akan selalu memperhatikan Ibu,” jawab Risa dengan nada penuh makna yang hanya bisa dia mengerti.

Risa mengambil nampan dan cangkir kosong itu. Saat dia berdiri, dia menyempatkan diri mengusap punggung Ibu Siti.

“Tidur nyenyak ya, Bu. Risa sayang Ibu.”

“Ibu juga sayang kamu, Nak.”

Risa keluar dari kamar. Begitu pintu tertutup, senyum manisnya langsung lenyap digantikan ekspresi dingin dan perhitungan.


Tiga hari berlalu.

Risa mulai frustrasi.

Ibu Siti terlalu sehat.

Dia batuk sedikit di pagi hari, mengeluh pusing setelah makan siang, tapi sorenya dia sudah kembali menyiram tanaman sambil bersenandung riang.

Efek racunnya terlalu lambat. Risa tidak punya waktu. Rangga semakin tertekan. Para penagih utang sudah mulai menelepon rumah.

Risa duduk di meja dapur, memeriksa jurnal pribadinya. Di sana, dia mencatat jadwal dosis Ibu Siti.

Hari ke-1: 0.5 mg. Status: Sehat.
Hari ke-2: 0.7 mg. Status: Sedikit pusing.
Hari ke-3: 1.0 mg. Status: Menyiram bunga dengan riang. Sialan!

Risa membanting pulpennya ke meja.

“Tidak bisa begini,” gumamnya. “Aku harus mempercepat prosesnya. Kalau Rangga tahu aku sengaja memperlambat, dia pasti akan marah besar.”

(Rangga tidak tahu rencana racun ini. Risa berbohong bahwa dia sedang memberikan obat herbal khusus dari luar negeri yang akan ‘membuat Ibu Siti tidur pulas dan melupakan segala urusan duniawi’—yang berarti Rangga mengira Risa hanya memberikan obat tidur dosis tinggi agar Ibu Siti tidak ikut campur urusan finansial mereka.)

Risa menuju lemari bumbu. Dia mengeluarkan kaleng kedap udara yang berisi stok racunnya.

“Maafkan aku, Bu. Tapi ini demi masa depan kami,” bisik Risa pada kaleng itu, seolah-olah dia sedang berbicara pada iblis penolongnya.

Dia memutuskan hari ini adalah hari dosis super. Tidak lagi dicampur di teh, tapi dimasukkan ke dalam makanan berkuah kental yang tidak mungkin tersisa.

Menu hari ini: Sup Krim Ayam Brokoli. Makanan kesukaan Ibu Siti, teksturnya lembut, mudah ditelan, dan warna krimnya akan menyamarkan bubuk putih itu dengan sempurna.

Risa mulai memasak. Dia bergerak cepat, seperti seorang ahli kimia di laboratorium terlarang.

Dia menghaluskan ayam dan brokoli, mencampur krim kental, lalu saat sup itu mulai mendidih, dia mengeluarkan sendok takar khusus.

Satu sendok.
Dua sendok.
Tiga sendok.

Totalnya setidaknya tiga kali lipat dari dosis harian. Ini harusnya cukup untuk melumpuhkan Ibu Siti dalam 24 jam.

Risa mengaduk sup itu sampai tidak ada lagi gumpalan. Aroma Sup Krim Ayam yang gurih memenuhi dapur.

“Sempurna,” Risa menyeringai.

Saat waktu makan siang tiba, Ibu Siti sudah duduk manis di meja. Dia sedang membaca surat kabar sambil menunggu.

Risa membawa mangkuk besar Sup Krim Ayam ke meja.

“Wah, harum sekali, Sayang. Kamu masak sup krim? Sudah lama Ibu tidak makan ini.”

“Iya, Bu. Spesial untuk Ibu yang paling Risa sayangi.” Risa meletakkan mangkuk itu di depan Ibu Siti, memastikan Ibu Siti melihat uap panas mengepul dari sup itu.

“Risa tidak makan?”

“Nanti saja, Bu. Risa harus menyelesaikan urusan telepon sebentar. Rangga butuh bantuan mengurus dokumen. Ibu makan dulu, ya. Selagi hangat.”

“Baiklah.”

Ibu Siti mengambil sendok dan mulai makan. Dia makan perlahan, menikmati setiap suap.

Risa berdiri di ambang pintu dapur, pura-pura menelepon. Dia tidak benar-benar menelepon siapa-siapa. Dia hanya mendengarkan. Mendengarkan suara sendok yang beradu dengan mangkuk, menghitung suapan yang masuk ke mulut Ibu Siti.

Satu suap.
Dua suap.
Tiga suap.

Risa menahan napas. Dia merasa adrenalinnya melonjak. Hanya tinggal beberapa jam, dan dia akan bebas. Bebas dari kemiskinan, bebas dari mertua yang selalu melihatnya dengan tatapan polos menyebalkan itu.

Ibu Siti memanggil. “Risa! Supnya luar biasa enak. Terima kasih banyak, Nak.”

“Habiskan, Bu,” kata Risa cepat, kembali ke peran menantu yang baik.

Ibu Siti tersenyum dan mengangguk. Dia melanjutkan makan. Risa melihat mangkuk itu perlahan kosong. Sampai akhirnya, Ibu Siti meletakkan sendoknya.

“Alhamdulillah. Kenyang sekali, Risa. Terima kasih.”

Mangkuk itu tampak bersih. Tidak ada sisa kuah.

Risa merasakan beban di dadanya terangkat. Misi berhasil. Sekarang, dia hanya perlu menunggu efeknya.

“Sama-sama, Bu. Kalau begitu, Risa bereskan ya.”

“Biar saja. Nanti saja. Ibu mau ke taman sebentar. Mencari udara segar.”

Ibu Siti berdiri dan berjalan keluar, menuju kebun. Dia berjalan dengan sedikit lebih lambat, tapi Risa menganggapnya sebagai efek awal racun.

Bagus. Teruslah merasa lelah, Bu.

Risa masuk ke dapur. Dia mencuci piring-piring, tapi meninggalkan mangkuk sup Ibu Siti di rak piring. Dia ingin memeriksa kembali mangkuk itu, hanya untuk memastikan tidak ada sisa.

Setelah mencuci semua peralatan, Risa mengambil mangkuk sup tadi.

Mangkuk itu memang bersih. Hanya ada sedikit bekas krim yang mengering di pinggirnya.

“Kerja bagus, Ibu. Kau memakan semuanya,” bisik Risa, puas.

Dia mengangkat mangkuk itu, siap membawanya ke rak pengering.

Saat itu terjadi.

Di bawah mangkuk sup Ibu Siti, yang tadi tertutup rapat, Risa melihat sesuatu.

Bukan sisa makanan, bukan tisu, melainkan lipatan kertas kecil. Kertas itu diselipkan dengan hati-hati, tersembunyi sempurna oleh mangkuk itu.

Risa mengerutkan kening. Apa ini? Pesan untuk Rangga?

Dia menjatuhkan mangkuk itu kembali ke rak—bukan pecah, hanya bunyi porselen beradu—dan meraih kertas kecil itu.

Kertas itu dilipat rapi, seperti catatan profesional. Bukan kertas buram, melainkan kertas karbon yang sering dipakai untuk administrasi kantor.

Risa membuka lipatannya.

Itu adalah nota kecil, tertanggal tiga hari yang lalu.

Risa membaca tulisan tangan yang rapi di sana. Tulisan itu bukan tulisan Ibu Siti, melainkan tulisan formal, mungkin dari klinik atau laboratorium.

NOTA PENGIRIMAN SAMPLE

Item: Bubuk Putih—Sampel A.
Tujuan Uji: Kandungan Logam Berat (Heavy Metals Screening) dan Senyawa Alkaloid (Alkaloid Compound Identification).
Klien: Ibu Siti Raharjo.
Catatan: Sampel dikirim dalam wadah steril.

Risa merasakan darahnya dingin. Jantungnya mulai memompa dengan kecepatan tinggi, menciptakan suara berisik di telinganya.

Tidak mungkin.

Ini pasti nota belanja, nota vitamin lain.

Dia membalik kertas itu, berharap menemukan daftar harga atau nama toko herbal.

Tapi di balik kertas itu, ada tulisan tangan Ibu Siti. Tulisan yang sama persis dengan yang ada di jurnal resep kuno keluarga.

Tulisannya kecil, rapi, dan menohok.

‘SAMPEL A = VITAMIN IMUN BUATAN RISA, 1.0 MG. TANGGAL 21 JUNI.’

Risa menjatuhkan kertas itu, tangannya gemetar hebat.

Bagaimana? Bagaimana Ibu Siti bisa memiliki nota pengujian lab? Dan bagaimana dia bisa tahu persis tanggal pemberian dosis itu?

Risa melihat ke luar jendela. Ibu Siti sedang duduk di kursi goyangnya, menghadap kebun. Dia terlihat damai, memejamkan mata.

Risa mendekati jendela, matanya menyipit penuh kecurigaan. Tapi Ibu Siti tampak benar-benar polos.

Mungkin ini kebetulan. Mungkin dia sedang menguji vitaminnya sendiri.

Tapi pikiran jahat mulai berputar di benak Risa. Ibu Siti mungkin tidak sepolos yang dia kira.

Risa kembali ke meja dapur, mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Dia memaksakan diri untuk berpikir logis.

Dia harus memastikan. Dia harus mencari tahu apa yang Ibu Siti lakukan dengan mangkuk sup yang baru saja dia habiskan.

Risa tahu Ibu Siti punya lemari kecil di kamar tidur, tempat dia menyimpan surat-surat penting dan barang-barang sentimental.

Dengan langkah pelan dan hati-hati, Risa berjalan ke kamar Ibu Siti. Pintu tidak dikunci.

Dia masuk, kamar itu gelap dan tenang. Risa menutup pintu perlahan. Dia bergerak menuju lemari jati kecil di sudut kamar.

Dia membuka laci paling bawah. Kosong.

Laci kedua. Penuh dengan buku cek dan surat tanah lama.

Laci ketiga. Itu laci yang menyimpan barang-barang yang paling sering disentuh Ibu Siti.

Risa menarik laci itu. Di sana ada beberapa dompet tua, foto-foto masa muda Rangga, dan sebuah kotak perhiasan beludru merah yang terkunci.

Di samping kotak perhiasan, terselip sebuah tas plastik Ziploc kecil.

Risa mengambil tas itu, tangannya berkeringat.

Di dalamnya ada wadah kecil, seukuran wadah urine, tapi terbuat dari kaca tebal dan disegel rapat dengan label tanggal.

Wadah 1: 21 Juni. Bubuk. Sampel Uji B. (Ini adalah sisa ‘vitamin’ yang Risa berikan di teh.)

Wadah 2: 23 Juni. Cairan Kuning Pekat. Sampel Uji C. (Mungkin cairan dari sup hari ini.)

Risa mundur selangkah, napasnya tercekat di tenggorokan.

Ibu Siti tidak hanya tahu. Dia juga mengumpulkan bukti ilmiah.

Risa melihat lebih dekat pada Wadah 2. Cairan kuning itu. Itu terlalu banyak untuk sekadar sisa kuah di mangkuk.

Risa lalu melihat ke arah kasur Ibu Siti.

Di bawah bantal putih yang diletakkan Ibu Siti rapi di ujung tempat tidur, ada sedikit ganjalan.

Risa mengangkat bantal itu dengan jari-jari gemetar.

Di sana, tersembunyi dengan sempurna, diletakkan di atas selembar tisu dapur yang bersih.

Ada mangkuk sup yang sama.

Bukan mangkuk yang tadi Risa lihat di rak piring. Mangkuk ini masih sedikit basah, dan di dalamnya, mengendap di dasar, ada gumpalan tebal Sup Krim Ayam Brokoli yang tidak termakan.

Itu adalah porsi yang sangat besar. Hampir setengah dari yang Risa sajikan.

Di samping mangkuk itu, ada sebuah corong kecil dan wadah kaca ketiga.

Risa memegang wadah itu. Di dalamnya, ada bubuk putih yang baru dituang.

Ini dosis yang tadi kuberi tiga kali lipat. Dosis pembunuh.

Risa melihat sekeliling kamar dengan panik. Tiba-tiba, kamar yang tadinya terlihat polos itu terasa seperti jebakan.

Dia tidak salah. Ibu Siti tidak memakan racunnya.

Ibu Siti hanya berpura-pura. Dia memindahkan sup itu, mungkin saat Risa pura-pura menelepon. Dia hanya mengosongkan mangkuk yang pertama untuk membuat Risa percaya.

Risa merasakan dingin yang menusuk tulang.

Dia bukan menantu yang cerdik. Dia adalah mangsa yang jatuh ke perangkap.

Tiba-tiba, dari belakangnya, terdengar suara. Sangat dekat, sangat lembut.

“Risa. Sedang apa kamu di kamar Ibu?”

Risa berbalik dengan cepat, menjatuhkan wadah kaca itu hingga pecah di karpet.

Ibu Siti berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen. Dia tidak lagi terlihat tua dan lemah. Matanya tidak lagi polos. Matanya tajam, dingin, dan penuh perhitungan.

“Maafkan Ibu, Nak. Tapi Ibu selalu curiga, mengapa sup krim hari ini baunya aneh, dan mengapa kamu begitu mendesak Ibu untuk menghabiskannya.”

Risa tidak bisa bicara. Tubuhnya kaku, otaknya beku.

Ibu Siti berjalan masuk, melangkahi pecahan kaca dengan tenang. Dia menunjuk ke lemari.

“Semua sudah Ibu catat, Risa. Sejak kau memberikan ‘vitamin herbal’ yang pertama. Ibu tahu persis apa yang kamu lakukan.”

“Bu… Ibu salah paham,” Risa berhasil berbisik, suaranya serak.

Ibu Siti menggeleng, wajahnya sedih tapi tegas.

“Tidak ada yang salah paham, Nak. Semua sampel sudah dikirim. Ada bukti transfer untuk pembayaran tes lab. Ada juga rekaman suaramu yang meminta Rangga untuk ‘membiarkan saja’ Ibu tidur pulas.”

Ibu Siti mendekat.

“Kamu pikir, Ibu ini naif dan bodoh? Kamu pikir Ibu akan menyerahkan rumah ini begitu saja kepada menantu yang berencana membunuh Ibu?”

“Aku… aku tidak bermaksud…” Risa mundur, tapi punggungnya membentur dinding.

Ibu Siti menyentuh dagu Risa, tatapannya menusuk.

“Dengar baik-baik, Risa. Kamu tidak sedang menghadapi mertua yang lemah. Kamu sedang menghadapi seseorang yang sudah melihat kematian dari dekat puluhan kali. Aku sudah mengurus perusahaan ayahmu selama dua puluh tahun, Risa. Aku tahu permainan kotor, penipuan, dan pengkhianatan.”

Risa terengah-engah.

“Tujuanmu jelas. Warisan. Tapi kamu lupa satu hal, Risa.”

Ibu Siti melangkah mundur, mengambil ponselnya yang ada di saku daster.

“Warisan itu baru bisa kamu dapatkan kalau aku meninggal.”

Ibu Siti menekan sebuah tombol, lalu mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

Risa mendengar suara di seberang telepon. Itu bukan suara Rangga. Itu suara laki-laki formal, suara Polisi.

“Halo, Komandan. Ini Siti Raharjo. Saya ingin melaporkan percobaan pembunuhan terencana. Semua bukti, termasuk makanan yang diracuni, sudah saya amankan. Pelakunya ada di sebelah saya, sekarang.”

Ibu Siti menatap Risa dengan senyum dingin, senyum yang tidak pernah Risa lihat sebelumnya. Senyum seorang pemenang.

Risa menyadari. Sejak awal, dialah yang ada di dalam jebakan.

Ibu Siti mengucapkan kalimat terakhirnya, kalimat yang menghancurkan semua rencana Risa.

“Kamu bilang kamu menantu terbaik. Tapi ternyata, kamu hanya pembunuh amatir, Risa. Dan sekarang, permainanmu sudah selesai.”

(BERSAMBUNG KE PART 2)